Adat Upacara Kematian


   Adat Upacara Kematian
Prosesi upacara kematian, sudah menjadi relung nadi tradisi di Nusantara, baik itu berbentuk prosesi ala kenegaraan maupun ala tradisional (adat tradisi kematian yang bersifat kedaerahan) tak ketinggalan di Jawa. Adat tradisi prosesi upacara kematian tersebut dimulai dari prosesi kebrangkatan si mayit sampai hormat setelah pemakamannya. Kemudian bagaimanakah pandangan dan fatwa Ulama’ dalam menyikapi tradisi tersebut?
Dalam masalah ini, Ulama’ memberikan pandangan dan fatwanya untuk menyikapi masalah tradisi tersebut sebagaimana dibawah ini. Semoga pandangan dan fatwa Ulama’ ini, bisa dijadikan pegangan dalam menjalankan tradisi-tradisi yang sudah bejalan dari nenek moyang sampai diahirnya nanti.
Pandangan dan fatwa Ulama’ yang sekiranya dapat dijadikan pijakan tersebut, diantaranya adalah pandangan dan fatwa yang berkenaan dengan :   
  1. Tahlil pada Mayit
Salah satu adat tradisi budaya di Nusantara setelah adanya kematian seorang muslim adalah melaksanakan tahlil selama tujuh hari. Kemudian yang menjadi persoalan, apakah bacaan-bacaan tahlil sebagaimana yang berkembang dimasyarakat, itu dibenarkan oleh syara’ dan ada dalil yang mendukungnya?
Untuk menjawab persoalan tahlil di atas, apakah dibenarkan  dan apakah ada dalil yang mendukungnya, alangkah baiknya kita pahami dulu tradisi budaya tahlil yang berkembang di masyarakat ini. Dilihat dari pengertiannya, tahlil berasal dari kata  هلل – يهلـل – تهليلا yang berarti membaca kalimaلاإله إلا الله . Sedangkan tahlil menurut pengertian yang berkembang dimasyarakat adalah membaca kalimat thoyyibah (sholawat, tahlil, istighfar, fatihah, surat ikhlas, mu’awwidzatain, dan lain-lain) yang pahalanya ditujukan kepada arwah keluarga yang bersangkutan.
Dengan memahami subtansi konteks pengertian tahlil diatas, maka tahlil tidak bisa serta merta disalahkan, karena tradisi budaya tersebut dapat disandarkan pada dalil dibawah ini, yaitu :
šúïÏ%©!$#ur râä!%y` .`ÏB öNÏdÏ÷èt/ šcqä9qà)tƒ $uZ­/u öÏÿøî$# $oYs9 $oYÏRºuq÷z\}ur šúïÏ%©!$# $tRqà)t7y Ç`»yJƒM}$$Î/ Ÿwur ö@yèøgrB Îû $uZÎ/qè=è% yxÏî tûïÏ%©#Ïj9 (#qãZtB#uä !$oY­/u y7¨RÎ) Ô$râäu îLìÏm§
 “Dan orang-orang yang datang setelah zamannya dan berdo’a, “Wahai Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan saudara-saudara kami yang seiman yang telah mendahului kami. Dan janganlah hati kami Engkau jadikan dengki terhadap orang-orang yang beriman”.
كلمتان خفيفتان على اللسان ثقيلتان في الميزان حبيبتان الى الرحمن سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم (رواه البخارى)
“Rasul bersabda: ‘Dua kalimat yang ringan bagi lisan dan berat (timbangan kebijakannya) di Mizan (timbangan amal diakhirat), dan dicintai oleh Dzat yang mempunyai belas kasih adalah kalimat: ‘SubhanAllah wa bihamdihi subhanAllahil ‘adzim.
عن ابي عباس رضى الله عنه قال ما الميت فى قبره كالغريق المغوينظر دعوة تلحقه من ابيه او أخيه او صديق له فإذا لحقته كانت احب اليه من الدنيا وما فيها وان هدايا الاحياء للموت الدعاء والاستغفار
“Dari ibnu Abbas ra., berkata ‘Seorang mayit dalam kuburan seperti pengembara yang banyak mengeluh minta tolong. Dia menanti doa dari ayah dan saudara atau seorang teman yang ditemuinya. Apabila ia menemukan doa tersebut, maka doa itu menjadi sesuatu yang lebih dicintai dari pada dunia dan seisinya. Hadiah oran  yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah doa dan istigfar’”. (Ihya’ Ulum al-Din, juz IV, hal.476)
Dengan demikian tahlil yang berisi doa, istighfar, bacaan al-Qur’an, Tasbih, bacaan laa ilaha illallah dan kaliamt thoyyibah lainnya merupakan hadiah dari orang yang masih hidup kepada orang yang telah mati.
Selamatan, tahlil atau melakukan do’a bersama memohon keselamatan, baik yang masih hidup meupun yang sudah meninggal adalah memiliki dasar dan tidaklah bertentangan dengan syari’at.


0 comments:

Post a Comment