CONTOH LATAR BELAKANG TENTANG KEPERAWATAN


1.1          Latar Belakang
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas (Mansjoer, 2000). Resiko utama pasien yang mengalami cedera kepala adalah kerusakan otak akibat perdarahan atau pembengkakan otak sebagai respon terhadap cedera dan meningkatnya tekanan intra cranial (Brunner& Suddarth, 2002).
Cedera kepala (terbuka dan tertutup) terdiri dari fraktur tengkorak, kombusio (gegar) serebri, kontosio (memar)/laserasi, dan perdarahan cerebral. Oleh karena itu pasien cedera kepala dapat mengalami berbagai masalah keperawatan diantaranya gangguan kesadaran, gangguan mobilitas fisik, dan gangguan menelan (Doengoes, 2000). Pada pasien cedera kepala dengan penurunan kesadaran pasien akan mengalami gangguan menelan makanan lewat mulut, dan ini dapat menjadikan salah satu penyebab terjadinya peradangan selaput lendir mulut (Stevens, 1999). Pada pasien yang mengalami gangguan menelan, makanan diberikan melalui selang sehingga saliva jarang mengalami pergantian yang memudahkan terbentuknya koloni mikroflora oral komensal. Penelitian yang dilakukan Yuiastuti, dkk. 2001, berhasil mengidentifikasi morfologi beberapa kuman yang terdapat dalam rongga mulut, diantaranya adalah kuman Streptococcus, Diplococcus, kuman bentuk batang langsing Gram positif dan Gram negative. Apabila dibiarkan keadaan tersebut dapat mendorong terjadinya infeksi rongga mulut (Tasota. 1998).
Salah satu tindakan yang diperlukan untuk menjaga agar mulut terhindar dari infeksi, serta untuk membersihkan mulut dari kuman dan menyegarkan mulut adalah dengan Oral hygiene (Clark, 1993).  Oral hygiene merupakan tindakan untuk membersihkan dan menyegarkan mulut, gigi dan gusi (Clark, 1993). Menurut Taylor et al (1997), oral hygiene adalah tindakan yang ditujukan untuk menjaga kontiunitas bibir, lidah dan mukosa membran mulut, mencegah terjadinya infeksi rongga mulut, dan melembabkan mukosa membran mulut dan bibir. Sedangkan menurut Clark (1993), oral hygiene bertujuan untuk mencegah penyakit gigi dan mulut, mencegah penyakit yang penularannya melalui mulut, mempertinggi daya tahan tubuh, dan memperbaiki fungsi mulut untuk meningkatkan nafsu makan.
Pada penderita yang mengalami penurunan kesadaran dan gangguan neuromuskuler (Doengoes, 2000) oral hygiene merupakan tindakan yang mutlak dilakukan oleh perawat (Wolf, 1994). Penelitian yang dilakukan oleh Yuliastuti, dkk (2001), menunjukkan bahwa ada penurunan jumlah koloni kuman pada rongga mulut setelah dilakukannya oral hygiene. Hasil wawancara dari salah seorang perawat di Ruang 13 (ruang akut) RSU Dr.Saiful Anwar Malang mengatakan tindakan tersebut belum  dilakukan  dengan optimal.
Berdasarkan data dari RSU Dr.Saiful Anwar Malang di Ruang 13 (ruang akut) pada bulan Januari - Agustus 2007 didapatkan laporan bahwa angka kejadian cedera kepala ringan sebanyak 176 orang, cedera kepala sedang sebanyak 195 orang dan cedera kepala berat sebanyak 97 orang.
Berdasarkan fakta diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan pelaksanaan tindakan oral hygine dengan kejadian infeksi rongga mulut pada pasien cedera kepala dengan penurunan kesadaran di ruang 13 RSU Dr.Saiful Anwar Malang.


0 comments:

Post a Comment