Menanam Ari-Ari (Masyimah)


  1. Menanam Ari-Ari (Masyimah)
Salah satu adat tradisi dan budaya di Nusantara yang berhubungan erat dengan kelahiran anak adalah menanam ari-ari. Tradisi budaya ini dilaksanakan setelah terjadinya kelahiran seorang bayi. Bentuk dari tradisi budaya ini adalah penanaman ari-ari bayi pada tanah secukupnya baik itu ari-ari pembungkus bayi ataupun ari-ari yang sambung dengan tali pusar. Setelah penanaman ari-ari bayi ini selesai, biasanya di atasnya diberi semacam lilin/lentera sebagai penerangan dan ditaburi bunga (kembang telon) kemudian disirami dengan air bunga.  
Dalam konteks sosial dan tradisi budaya yang semacam ini, kemudian bagaimanakah pandangan Ulama’ tentang adat tradisi budaya penanaman ari-ari tersebut ?
Menurut pandangan Ulama’ yang terdapat pada kitab-kitab kuning, Ulama’ menjelaskan sebagaimana keterangan dibawah ini :
1.       Untuk ari-ari yang sambung pada tali pusat, Ulama’ berpandangan :
a.       Sunnah, menanam ari-ari bayi, ketika pada saat memotong ari-ari bayi, Si bayi dalam kondisi hidup.
b.       Wajib, menanam ari-ari bayi, ketika pada saat  memotong ari-ari bayi, Si bayi dalam kondisi sudah meninggal. Hukum wajibnya, sama wajibnya mengubur jasad Si bayi.
2.       Untuk ari-ari pembungkus bayi, Ulama’ berpandangan, jawaz atau tidak ada kewajiban apa-apa dalam penanamannya, namun yang berhubungan erat dengan penyebaran/penaburan bunga dan pemberian lentera, Ulama’ berbeda pendapat  :
a.       Haram, penaburan bunga dan pemberian penerangan semacam lentera, apabila punya i’tikat yang bertentangan dengan syara’.
b.       Tidak haram (boleh), apabila punya i’tikat yang tidak bertentangan dengan syara’, semisal beri’tikat membuat tanda-tanda bahwa disitu ada sesuatu yang baru ditanam.
c.       Sunnah menabur bunga pada tempat penanaman ari-ari bayi yang mati pada waktu lahir.
Dasar ta’bir yang digunakan adalah sebagai berikut
a.      Kitab Jumal  ‘Ala Al-Minhaj, Juz 2, hal. 190.
b.      Kitab Bujairami ‘Ala  Al-Khatib, Juz 1, hal. 310.
c.       Kitab Bajuri, Juz 1, hal. 310.
d.      Syarwani, Juz 3, hal. 188.


0 comments:

Post a Comment