Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah, Usia Sekolah dan Remaja

Pelayanan kesehatan pada kelompok anak pra sekolah, usia sekolah dan remaja dilakukan dengan pelaksanaan pemantauan dini terhadap tumbuh kembang dan pemantauan kesehatan anak pra sekolah, pemeriksaan anak sekolah/ sederajat, serta pelayanan kesehatan remaja, baik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun peran serta tenga terlatih lainnya seperti kader kesehatan, guru UKS dan dokter kecil. 



Dari hasil pengumpulan data/ indikator kinerja SPM bidang kesehatan dari 14 kabupaten/ kota menunjukkan cakupan deteksi tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah sebesar 22,09%, siswa SD/ MI yang diperiksa sebesar 53,96% dan pelayanan kesehatan remaja sebesar 61,69% (Tabel SPM 3). 



3. Pelayanan Keluarga Berencana 



Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) menurut hasil kompilasi data Profil Kesehatan Kabupaten/ Kota Tahun 2005 sebesar 310.810, sedangkan yang menjadi peserta KB aktif sebesar 238.463 (76,72%), dengan cakupan terendah di Kabupaten Sukamara (62,96%) dan cakupan tertinggi di Kabupaten Barito Selatan (83,12%), namun bila dibandingkan dengan target Indonesia Sehat 2010 sebesar 70% maka Propinsi Kalimantan Tengah sudah bisa melewati target tersebut (Tabel SPM 4) 



4. Pelayanan Imunisasi 



Pencapaian Universal Child Immunization pada dasarnya merupakan suatu gambaran terhadap cakupan sasaran bayi yang telah mendapatkan imunisasi secara lengkap. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan wilayah tertentu, berarti dalam wilayah tersebut dapat digambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat terhadap penularan PD3I. 



Indikator program imunisasi yang digunakan untuk mengukur pencapaian Indonesia Sehat 2010 adalah persentase desa yang mencapai UCI. Dari 1.348 desa yang ada di Propinsi Kalimantan Tengah dilaporkan 870 desa (64,54%) telah UCI, dengan cakupan terendah di Kabupaten Gunung Mas (26,73%) dan cakupan tertinggi di Kabupaten Sukamara (87,50%). Rendahnya cakupan UCI antara lain karena tingginya angka Drop Out (DO) terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau (sangat terpencil). 

Pelayanan imunisasi bayi mencakup vaksinasi BCG, DPT (3 kali), Polio (4 kali), Hepatitis B ( 3 kali ) dan imunisasi Campak ( 1 kali ), yang dilaksanakan melalui pelayanan rutin di Posyandu dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Cakupan imunisasi BCG (83,57%), DPT 1 (77,42%), DPT 3 (73,51%) dan Hepatitis B (68,27%). Dari data tersebut kelihatan masih terdapat drop out (DO) sebesar 5,05%. 






Selain imunisasi kepada bayi, imunisasi juga diberikan pada calon pengantin perempuan yaitu imunisasi TT sebanyak 2 kali demikian juga untuk ibu hamil sebanyak 2 kali selama kehamilan. Cakupan imunisasi TT 1 sebesar 68,1% dan TT2 sebesar 63,3% dari jumlah ibu hamil sebanyak 53.820 (Tabel IIS 21). 



B. PEMBINAAN KESEHATAN LINGKUNGAN 



Untuk memperkecil risiko terjadinya penyakit atau ganggguan kesehatan sebagai akibat dari lingkungan yang kurang sehat, dilakukan berbagai upaya peningkatan kualitas lingkungan, antara lain dengan pembinaan kesehatan lingkungan pada institusi yang dilakukan secara berkala. Upaya yang dilakukan mencakup pemantauan dan pemberian rekomendasi terhadap aspek penyediaan fasilitas sanitasi dasar. 



Hasil kompilasi data profil kesehatan kabupaten/ kota tahun 2005 dari 6.801 institusi yang dilaporkan, hanya 3.643 (53,6%) institusi yang dibina kesehatan lingkungannya (Tabel SPM 15). Dari jumlah institusi tersebut terdistribusi pada sarana kesehatan lingkungan 670 dan yang dibina 543 (81,04%), sarana pendidikan 2.510 dan yang dibina 1.456 (58,01%), sarana ibadah 2.680 dan yang dibina 1.340 (50%), institusi perkantoran 679 dan yang dibina 204 (30,04%). 





C. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT 



Upaya perbaikan gizi masyarakat pada hakekatnya dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat. Beberapa permasalahan gizi sering dijumpai pada kelompok masyarakat adalah kekurangan kalori protein, kekurangan vitamin A, gangguan akibat kekurangan yodium an anemia gizi besi. 



1. Pemantauan Pertumbuhan Balita 

Upaya pemantauan terhadap pertumbuhan balita dilakukan melalui kegiatan penimbangan di posyandu secara rutin tiap bulannya. Data yang terdapat di Profil Kesehatan Kabupaten/ Kota tahun 2005, jumlah balita yang ada sebanyak 198.491, balita yang ditimbang 98.413 dengan balita yang naik berat badannya sebesar 76.021 (77,25%). Sementara itu balita dengan bawah garis merah (BGM) sebanyak 1.774 balita atau 1,80% (Tabel SPM 7). 





Seperti terlihat pada gambar 4.3, berdasarkan pengolahan data SKDN sejak tahun 2002, keberhasilan program (N/S) dan hasil penimbangan (N/D) menunjukkan kecenderungan menurun. 



2. Pemberian Kapsul Vitamin A 



Cakupan pemberian kapsul vitamin A 2 kali pada balita pada tahun 2005, hasil kompilasi dari profil kesehatan kabupaten/ kota di Propinsi Kalimantan Tengah sebanyak 124.685 (62,82%) dari jumlah balita yang ada 

sebanyak 198.491. Target pencapaian Indonesia Sehat 2010 sebesar 90% (Tabel SPM 8). 

3. Pemberian Tablet Besi 



Pada tahun 2005 di Propinsi Kalimantan Tengah jumlah ibu hamil yang ada sebanyak 53.820 dan ibu hamil yang mendapatkan tablet besi sebanyak 40.778 (75,76) dan angka ini masih belum mencapai target yang ditetapkan untuk Indonesia Sehat 2010 sebesar 90% (Tabel SPM 8). 

Gambar 4.4 menunjukkan bahwa pemberian tablet besi pada ibu hamil dari tahun 2003 cenderung meningkat. Hal ini disebabkan karena semakin banyak ibu hamil mengerti kegunaan tablet besi. 




0 comments:

Post a Comment