ANALISIS PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH, CADANGAN DEVISA

Tags:



ANALISIS PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH, CADANGAN DEVISA, DAN ANGKA PENGGANDA UANG TERHADAP JUMLAH UANG BEREDAR DI INDONESIA 

Pendahuluan 

Bank Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 23 Tahun 1999, yang telah diubah dengan Undang-undang No.3 tahun 2004 adalah Bank Sentral Republik Indonesia yang merupakan lembaga negara yang independen, bebas dari campur tangan pemerintah dan/atau pihak-pihak lainnya, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam undang-undang yang mengaturnya (Siamat,2005:38). Peran Bank Indonesia sebagai Bank Sentral sangat berpengaruh besar dalam perekonomian Indonesia yang berdampak pada kestabilan nilai rupiah. Tujuan Bank Indonesia dalam mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah perlu ditopang dengan tiga pilar utama, yaitu menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter; mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran; serta mengatur dan mengawasi bank. 

Bank Indonesia merupakan lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan dan mengatur peredaran uang rupiah, yakni mencabut, menarik dan memusnahkan uang serta menetapkan macam, harga, ciri uang yang akan dikeluarkan, bahan yang digunakan, dan penentuan mulai berlakunya sebagai alat pembayaran yang sah. Sebagai konsekuensi dari ketentuan tersebut, maka Bank Indonesia harus menjamin ketersediaan uang di masyarakat dalam jumlah yang cukup dan dengan kualitas yang memadai. 

Uang merupakan suatu alat untuk melakukan tukar-menukar serta untuk melakukan kegiatan ekonomi yang meliputi produksi, distribusi, dan kosumsi. Bagi produsen, uang diperlukan untuk membeli bahan-bahan baku yang kemudian diolah menjadi barang siap pakai untuk dijual kepada masyarakat. Dalam distribusi, uang diperlukan untuk membeli barang untuk dijual kembali dan akhirnya uang digunakan oleh konsumen untuk membeli barang dan jasa yang diperlukan. 

Pengertian uang dalam perekonomian modern dibagi menjadi pengertian uang dalam arti sempit dan pengertian uang dalam arti luas. Pengertian uang dalam arti sempit disebut dengan M1, yaitu uang kartal dan uang giral. Sedangkan pengertian uang dalam arti luas disebut M2, yaitu M1 ditambah Time Deposits dan Saving Deposits. Pengertian uang yang lebih luas lagi adalah M3, yaitu M2 ditambah obligasi. Tetapi menurut Herlambang (2002:116) istilah yang sering dipakai hanyalah M1 dan M2. 

Jumlah uang beredar di Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain tingkat suku bunga, tingkat inflasi, nilai tukar rupiah, pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, dan angka pengganda uang (Prayitno,2002:47). Sesuai dengan metode yang digunakan Soenhadji (2003), maka penelitian bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari besarnya pengeluaran pemerintah, cadangan devisa serta besarnya angka pengganda uang secara parsial maupun simultan terhadap jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) di Indonesia. 

Landasan Teori
Jumlah Uang Beredar
Menurut Ritonga (2003:74), jumlah uang beredar (JUB) adalah jumlah uang dalam suatu perekonomian pada waktu tertentu. Pada dasarnya, jumlah uang beredar ditentukan oleh besarnya penawaran uang (dari Bank Sentral) dan permintaan uang (dari masyarakat). Sedangkan menurut Boediono (1998:3), jumlah uang beredar pada dasarnya memiliki dua pengertian, yaitu uang beredar dalam arti sempit (narrow money) dan uang beredar dalam arti luas (broad money).
            Dalam arti sempit, uang memiliki pengertian sebagai seluruh uang kartal dan uang giral yang tersedia untuk digunakan oleh masyarakat, sehingga merupakan daya beli yang bisa langsung digunakan untuk pembayaran (Boediono,1998:3). Uang kartal (currency) adalah uang tunai yang dikeluarkan oleh pemerintah atau Bank Sentral yang langsung di bawah kekuasaan masyarakat umum untuk menggunakannya dan terdiri dari uang kertas dan uang logam yang berada di luar bank-bank umum dan Bank Sentral itu sendiri. Sedangkan uang giral memiliki pengertian sebagai seluruh nilai saldo rekening koran (giro) yang dimiliki masyarakat pada bank-bank umum yang sewaktu-waktu dapat digunakan  oleh pemiliknya (masyarakat).
            Tidak termasuk dalam pengertian uang giral ini adalah saldo rekening koran milik bank pada bank lain atau pada Bank Sentral ataupun saldo rekening koran milik pemerintah pada bank atau Bank Sentral. Dengan demikian, jumlah uang beredar pada suatu saat adalah penjumlahan dari uang kartal dan uang giral (Boediono, 1998:4).

M1 =   C + DD..................................................................(1)

M1      = JUB dalam arti sempit
C       = uang kartal (currency) adalah uang kertas dan uang logam yang dikeluarkan oleh otoritas moneter.
DD    = uang giral (demand deposits) adalah simpanan milik sektor swasta domestik pada bank pencetak uang giral yang setiap saat dapat ditarik untuk ditukarkan dengan uang kartal sebesar nominalnya.

Uang beredar dalam arti luas diartikan sebagai M1 ditambah dengan deposito berjangka dan saldo tabungan milik masyarakat pada bank-bank (Boediono,1998:5). Secara matematis ditunjukkan dalam persamaan sebagai berikut:
M2 =   M1 + TD + SD.......................................................(2)

M2       = JUB (dalam arti luas)
TD       = deposito berjangka (time deposits)
SD       = saldo tabungan (savings deposits)
           
Meskipun tidak semudah uang tunai atau cek untuk menggunakannya, uang yang disimpan dalam bentuk deposito berjangka dan tabungan ini merupakan daya beli potensial bagi pemiliknya, oleh karena itulah keduanya dimasukkan ke dalam definisi M2. Pengertian JUB yang lebih luas lagi adalah M3, yaitu M2 + uang kuasi (quasi money). Pengertian uang kuasi mencakup semua deposito berjangka dan tabungan, baik dalam mata uang lokal maupun mata uang asing (dolar) serta giro valas milik penduduk pada bank atau lembaga keuangan bukan bank.
            Pengertian JUB yang paling luas adalah likuiditas total (total likuidity) dengan notasi L, yaitu mencakup semua alat-alat likuid yang ada di masyarakat. Alat-alat likuid itu bukan hanya simpanan berjangka dan tabungan, tapi juga dapat meliputi obligasi pemerintah dan swasta yang berjangka pendek, wesel perusahaan, deposito di luar negeri, dan sebagainya (Boediono,1998: 6-7).
            Menurut Ritonga (2003:74), pada dasarnya jumlah uang beredar (JUB) ditentukan oleh besarnya permintaan uang (dari masyarakat) dan penawaran uang (dari bank sentral). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi JUB dalam masyarakat antara lain sebagai berikut: 1) pendapatan, adalah jumlah uang yang diterima oleh masyarakat dalam jangka waktu tertentu; 2) tingkat suku bunga; 3) selera masyarakat; 4) harga barang; 5) fasilitas kredit (cara pembayaran) dengan menggunakan kartu kredit atau cara angsuran; 6) kekayaan yang dimiliki masyarakat, jumlah uang yang beredar dalam masyarakat semakin besar apabila ragam (variasi) bentuk kekayaan sedikit.

Pengeluaran Pemerintah
Pengeluaran pemerintah adalah semua pengeluaran negara untuk membiayai tugas-tugas umum pemerintah dan pembangunan (Ritonga,2003:131). Pengeluaran pemerintah (goverment spending, G) merupakan pengeluaran terbesar dari 1 unit ekonomi. Biasanya mencapai 20 persen dari GDP. Pengeluaran ini dibiayai dari penerimaan berupa pajak. Jika pajak lebih kecil dari pengeluaran maka anggaran pemerintah mengalami defisit atau pemerintah memiliki hutang. Untuk  Indonesia pengeluaran dan penerimaan tercermin dalam APBN (Herlambang,2002:250).
            Pengeluaran pemerintah baik pusat maupun daerah dibedakan menjadi dua jenis yaitu:: 1)  pengeluaran rutin yang terdiri dari belanja pegawai, belanja barang, belanja rutin daerah, bunga dan cicilan hutang, serta subsidi; 2) pengeluaran  pembangunan yaitu semua pengeluaran negara untuk membiayai proyek pembangunan fisik maupun non-fisik.



Cadangan Devisa
Cadangan devisa (Rd) adalah simpanan mata uang asing oleh bank sentral dan otoritas moneter. Simpanan ini merupakan asset bank sentral yang tersimpan dalam beberapa mata uang cadangan (reserve currency) seperti Dollar, Euro, atau Yen, dan digunakan untuk menjamin kewajibannya, yaitu mata uang lokal yang diterbitkan, dan cadangan berbagai bank yang disimpan di bank sentral oleh pemerintah atau lembaga keuangan (Wikipedia).
Perkembangan neraca pembayaran dapat mengakibatkan perubahan dalam cadangan devisa, defisit dalam neraca pembayaran berarti berkurangnya cadangan devisa yang terdapat di bank sentral dan bank devisa. Apabila hal ini terus berlanjut maka dikhawatirkan cadangan devisa bisa menipis dan bahkan bisa habis. Cadangan devisa bisa ditingkatkan dengan cara meningkatkan ekspor supaya devisa bertambah. Promosi dari hasil industri-industri besar seperti industri tekstil yang dapat diekspor keluar negeri seperti Amerika Serikat dan China merupakan peluang yang besar. Bagi Indonesia ekspor merupakan sumber utama penerimaan devisa dan oleh sebab itu ekspor harus ditingkatkan.
               Mayoritas cadangan devisa suatu negara berasal dari berbagai pinjaman. Penambahan cadangan devisa Indonesia diperoleh dari hasil penerbitan Global Medium Term Notes (GMTN). Dengan penambahan cadangan devisa diperkirakan cukup untuk menjaga stabilitas rupiah jika tidak terjadi gejolak.
            Beban utang luar negeri, baik pemerintah maupun swasta masih menekan cadangan devisa. Investor sangat mengkhawatirkan cadangan devisa negara yang makin tergerus akibat ketidak-seimbangan penawaran dan permintaan mata uang dollar di pasar domestik, kondisi pasar uang ini sangat berbahaya. Dengan ketatnya likuiditas di pasar keuangan, mata uang lokal akan mengalami keterpurukan, setiap saat bisa menembus level 12 ribu per dollar AS.  Rupiah sangat rentan terhadap pergerakan dollar karena munculnya permintaan dollar dapat menekan rupiah hingga ratusan poin.
            Penawaran dollar sangat minim karena tidak ada investor yang masuk ke sektor riil, sedangkan investor asing banyak melepas aset portofolionya di Indonesia. Selain kerugian bank atas produk derivatif, penurunan perolehan devisa hasil ekspor dan kebutuhan menutup utang valas yang jatuh tempo. Dengan kondisi seperti ini, yang bisa dilakukan BI adalah meredam permintaan dollar atau menambah penawaran. Beberapa langkah memang telah dilontorkan pemerintah dan BI untuk menambah pasokan dollar AS dan melonggarkan likuiditas.  Pemerintah berusaha mencari negara tujuan baru untuk ekspor agar menghasilkan devisa.
            Pemerintah Indonesia terus mengupayakan pinjaman dari luar negeri. Pinjaman demi pinjaman yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia tersebut dapat memperkuat cadangan devisa Indonesia. BI mengupayakan pinjaman dari bank sentral negara lain, karena Indonesia membutuhkan valuta asing tidak hanya untuk menahan kurs rupiah, tetapi juga untuk mendanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dana dari swap dan budget support ini disiapkan sebagai pertahanan lini kedua.

Angka Pengganda Uang
Angka pengganda uang (money multiplier, m) adalah bagian dari proses penciptaan uang oleh bank umum (Prayitno,2002:48). Menurut Nilawati (2000:162), angka pengganda uang merupakan bagian dari proses pasar yaitu penyesuaian antara permintaan dan penawaran uang. Sedangkan menurut Parkin (1993:768) angka pengganda uang merupakan rasio antara perubahan jumlah uang beredar dan perubahan uang primer, yang juga disebut monetary base.
Nilai money multiplier biasanya lebih besar dari satu, artinya setiap Rp1 uang inti bisa menimbulkan lebih dari Rp1 uang beredar. Nilai dari money multiplier tergantung kepada: 1) kecenderungan masyarakat memegang uangnya dalam bentuk uang kartal; dan 2) berapa besar cadangan yang dipegang bank untuk menjamin uang giral

Metode penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif yang ditekankan pada data-data yang berhubungan dengan variabel indikator ekonomi seperti pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, angka pengganda uang, dan jumlah uang beredar.
Variabel bebas (independent variable) dalam penelitian ini adalah pengeluaran pemerintah (G), cadangan devisa (Rd), dan angka pengganda uang (m), sedangkan variabel terikatnya (dependent variable) adalah jumlah uang beredar (M2).

Tabel 1
Definisi Operasional Variabel

No.
Dimensi
Variabel
Definisi Operasional
1.
Jumlah Uang Beredar (M2)
Y
Jumlah uang dalam arti luas yang terdiri dari uang kartal, uang giral, deposito berjangka, dan saldo tabungan.
2.
Pengeluaran Pemerintah (G)
X1
Semua pengeluaran negara untuk membiayai tugas-tugas umum pemerintah dan pembangunan.
3.
Cadangan Devisa (Rd)
X2
Stok mata uang asing yang dimiliki suatu negara dan disimpan oleh bank sentral yang dapat digunakan untuk transaksi atau pembayaran internasional.
4.
Angka Pengganda Uang (m)
X3
Rasio antara perubahan jumlah uang beredar dan perubahan uang primer.
Sumber: Lily Prayitno (2002) & Ritonga (2003)

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari jumlah uang beredar (M2), pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, dan angka pengganda uang periode Januari 2005-Desember 2008 yang diambil dari data triwulanan Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia (SEKI).
Metode pengambilan sampel dengan nonprobability sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Selanjutnya peneliti memilih sampling purposive, yakni teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
Jenis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berkurun waktu dari bulan Januari 2005-Desember 2008.


Pembahasan
Perkembangan data mengenai jumlah uang beredar (M2), pengeluaran pemerintah (G), cadangan devisa (Rd), dan angka pengganda uang (m) di Indonesia secara triwulanan periode 2005-2008, ditunjukkan pada tabel 2.

Tabel 2
Jumlah Uang Beredar (M2), Pengeluaran Pemerintah (G),
Cadangan Devisa (Rd), dan  Angka Pengganda Uang (m)
Periode 2005-2008
Period
M2
(Milyar Rp)
G
(Milyar Rp)
Rd
(Juta $)
m
2005



I
1.016.237
26.823,3
36.221
5,58
II
1.054.730
28.813,6
34.969
5,56
III
1.118.234
34.641,0
31.236
5,48
IV
1.179.074
44.347,7
33.537
4,90
2006



I
1.193.255
29.909,8
36.894
5,15
II
1.229.764
37.102,5
42.386
5,15
III
1.270.003
35.237,2
41.825
5,02
IV
1.348.762
45.314,2
41.353
4,84
2007



I
1.368.891
31.021,7
45.392
5,03
II
1.409.549
38.522,1
46.782
5,02
III
1.491.083
37.537,8
52.060
4,98
IV
1.567.516
46.228,0
55.324
4,71
2008



I
1.590.616
32.145,8
57.370
4,88
II
1.648.246
40.547,5
58.562
4,91
III
1.707.567
42.816,6
58.676
4,74
IV
1.842.649
53.787,3
50.800
5,78
Sumber: Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia (data diolah)
           
Tabel 3 menunjukkan hasil perhitungan statistik dengan menggunakan program SPSS.

Tabel 3
Hasil Analisis Regresi Berganda
  Sumber: Hasil Output SPSS

            Mengacu pada hasil pengolahan data pada tabel 3, maka dapat dibentuk persamaan regresi sebagai berikut:

JUB’ = −773844 + 12.422 G + 21.966 Rd + 134722.1 m

Persamaan di atas dapat diinterpretasikan bahwa apabila tidak ada pengeluaran pemerintah, negara tidak mempunyai cadangan devisa, dan tidak menciptakan angka pengganda uang maka diramalkan jumlah uang beredar akan sama dengan nilai konstanta yaitu akan menurun sebesar Rp773.844 Milyar. Pengaruh antara pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, dan angka pengganda uang dengan jumlah uang beredar adalah positif, yaitu apabila ketiga variabel tersebut meningkat maka jumlah uang beredar akan meningkat dan sebaliknya apabila ketiga variabel mengalami penurunan, maka jumlah uang beredar juga akan menurun.
Hasil pengujian statistik untuk koefisien determinasi berganda (R2) ditunjukkan pada tabel berikut ini:
Tabel 4
Hasil Analisis Uji Koefisien Determinasi Berganda (R2)
 Sumber: Hasil Output SPSS
           
Koefisien determinasi sebesar 0,948 yang berarti bahwa jumlah uang beredar (M2) dalam penelitian ini dipengaruhi oleh ketiga variabel bebas yang terdiri dari pengeluaran pemerintah (G), cadangan devisa (Rd), dan angka pengganda uang (m) sebesar 93,4 persen, sedangkan sisanya 6,6 persen  dipengaruhi oleh variabel lain.
Hasil uji individu (uji t)  bertujuan untuk menguji signifikansi konstanta dari setiap variabel bebas, dengan anggapan variabel bebas lainnya konstan, diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 5
Hasil Analisis Uji t

Variabel
Bebas
Nilai
t Hitung
Nilai
t Tabel
Nilai t Stat
Signifikansi
Taraf
Signifikansi
Hipotesis

G
5.180
2.179
0.000
0.05
H0 ditolak
Rd
10.276
2.179
0.000
0.05
H0 ditolak
m
2.323
2.179
0.039
0.05
H0 ditolak
Sumber: Data SPSS yang diolah
           
Berdasarkan hasil uji t terlihat bahwa: pengeluaran pemerintah nilai t hitung > t tabel (5,180 > 2,179) dan signifikansi < 0,05; maka H0 ditolak sehingga pengeluaran pemerintah berpengaruh signifikan terhadap jumlah uang beredar. Demikian juga untuk variabel cadangan devisa dan angka pengganda uang berdasarkan hasil uji t, Ho ditolak sehingga secara parsial variable cadangan devisa dan angka pengganda uang berpengaruh signifikan terhadap jumlah uang beredar.

Tabel 6
Hasil Analisis Uji F
Sumber: Hasil Output SPSS

Hasil uji global (uji F) diperoleh hasil F hitung > F tabel   (72,232 > 3,480) maka secara bersama-sama variabel pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, dan angka pengganda uang berpengaruh signifikan terhadap jumlah uang beredar.

Simpulan
Pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, dan angka pengganda uang secara parsial mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap jumlah uang beredar (M2) untuk periode tahun 2005-2008, yaitu apabila pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, dan angka pengganda uang meningkat maka jumlah uang beredar akan meningkat dan sebaliknya.
Secara simultan, variabel pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, dan angka pengganda uang berpengaruh signifikan terhadap jumlah uang beredar (M2) periode 2005-2008.

Rekomendasi
Untuk penelitian selanjutnya diharapkan selain menggunakan indikator makroekonomi sebagai faktor yang mempengaruhi jumlah uang beredar juga dapat menggunakan faktor lainnya (non makroekonomi) yang juga mempengaruhi jumlah uang beredar dengan data series maupun lintas sektor (cross section), serta menggunakan alat analisis yang lebih andal.


Post a Comment

Artikel Terkait Tips Motivasi