Prinsip-prinsip dalam Dekonstruksi

Prinsip- prinsip yang terdapat dalam teori dekonstruksi adalah:

1. Melacak unsur-unsur aporia (makna paradoks, makna kontradiktif, dan makna ironi)
2. Membalikkan atau merubah makna-makna yang sudah dikonvensionalkan

Pada dasarnya dekonstruksi yang sudah dilakukan oleh Nietzsche (Culler, 1983:86-87) dalam kaitannya dengan usaha-usaha untuk memberikan makna baru terhadap prinsip sebab-akibat. Prinsip sebab-akibat selalu memberikan perhatian terhadap sebab, sedangkan akibatnya sebagai gejala minor. Nietzsche menjelaskan bahwa prinsip sebab akibat bukanlah hukum universal melainkan merupakan retorika bahasa, sebagai gejala metonimi, gejala bahasa dengan cara melekatkan nama orang atau benda-benda pada pusat objek yang lain.


Saussure menjelaskan bahwa makna yang diperoleh melalui pembagian lambang-lambang menjadi penanda dan petanda. Dekonstruksi menolak keputusan tersebut dengan cara terus menerus berusaha melepaskan diri, sekligus mencoba menemukan pusat-pusat yang baru.


Derrida (Spivak, 1976 : xliii) menjelaskan peristiwa diatas dengan istilahdifferEnce dan differAnce, dua kata yang ucapannya hampir sama tetapi penulisannya berbeda, dibedakan melalui huruf ke-7. Kedua kata tersebut berasal dari bahasa latin, differe, yang sekaligus berarti to differ (membedakan) yang berkonotasi spasial, dan to defer (menuda) yang berkonotasi temporal. Derrida menghubungkan kerangka ruang dan waktu dengan tanda dan bendanya, tanda sebagai wakil dari bendanya. Tanda sekaligus menunjukkan kehadiran yang tertunda. Makna kata difference berada dalam posisi yang mengambang antara to differ dan to defer, keduanya berpengaruh terhadap kekuatan tekstual, tetapi tidak secara utuh mewakili kata difference tersebut. Oleh karena tanda-tanda mengimplikasikan makna, maka makna karya pun selalu berbeda dan tertunda, sesuai dengan ruang dan waktu. Artinya, antara konsep dan kenyataan selalu mempunyai jarak sekaligus perbedaan. Derrida menjadi terkenal karena konsep dekonstruksi, logosentrisme, fonosentrisme, differEnce/difference.

Differance adalah istilah yang diciptakan oleh Derrida tahun 1968 dalam kaitannya dengan pemahamannya mengenai ilmu bahasa Saussure dan antropologi Levi-Strauss. Menurut Derrida, perbedaaan difference dandifferance, bahasa kamus baik bahasa Inggris maupun bahasa Perancis dan bahasa dekonstruksi Derrida, tidak dapat diketahui melalui ucapan, melainkan melalui tulisan. Menurutnya, tulisan lebih utama dibandingkan dengan ucapan. Menurut Derrida makna tidak dengan sendirinya hadir dalam suatu lambang. Lambang mempersoalkan sesuatu yang bukan dirinya, lambang mewakili sesuatu yang lain. Makna hadir dalam rangkaian penanda.


Konsep Saussure yang juga didekonstruksi oleh Derrida adalah doktrin hierarki ucapan-tulisan, yang pada dasarnya memandang ucapan sebagai pusat, sedangkan tulisan sebagai non pusat. Menurut Saussure, ucapan lebih dekat dengan pikiran dan perasaan sebab ucapan mengimplikasikan subjek yang berbicara, subjek yang hadir secara serta merta, sedangkan tulisan yang bersifat sekunder, termediasi, grafis dan mewakili.

Menurut Derrida konsep ucapan-tulisan dapat saja dibalik menjadi tulisan-ucapan. Ujaran pun adalah sejenis tulisan, ujaran selalu sudah tertulis, dan dengan demikian bahasa pun sudah tertulis. Menurut Rousseau, ucapan merupakan bentuk asal, tulisan merupakan pelengkap bahasa lisan. Di pihak yang lain, Levi-Strauss melukiskan hubungan antara alam dan kebudayaan yang dengan sendirinya sudah tertulis.


2.7 Metode Penelitian Dekonstruksi


Karya sastra adalah cipta seni yang bermediumkan bahasa yang dominan Unsur estetiknya. Bahasa yang dipakai sebagai medium di dalam karya sastra menggunakan bahasa tingkat kedua (significance) atau konvensi tambahan (Preminger via Pradopo, 2007). Penggunaan bahasa tingkat kedua dalam karya sastra memungkinkan lahirnya penafsiran yang banyak terhadap karya sastra tersebut. Oleh karena itu, upaya untuk menemukan makna tunggal dari sebuah karya sastra adalah sesuatu yang mustahil. Sebab setiap penemuan jejak makna dalam sebuah teks, akan melahirkan jejak baru dibalik makna tersebut. Dekonstruksi menolak adanya gagasan makna pusat. Pusat itu relatif. Ia mengingkari makna monosemi. Jadi untuk pemaknaan ini sangat longgar. Oleh karena itulah banyak tafsir terhadap objek. Dekonstruksi merupakan strategi untuk membuktikan bahwa sastra bukanlah bahasa yang sederhana.


Hakekat dekonstruksi adalah penerapan pola analisis teks yang dikehendaki oleh peneliti dan menjaga teks agar tetap bermakna polisemi. Di dalam penafsirannya selalu terjadi proses membedakan dan menangguhkan (difference). Istilah difference ini diungkapkan pertama oleh Derrida untuk menyatakan ciri tanda yang terpecah. Di sini dipilih unit wacana yang mampu menimbulkan kebuntuan makna atau satu figur yang menimbulkan satu kesulitan untuk dijabarkan. Bagian ini disebut titik aphoria . Titik aphoria selanjutnya akan menimbulkan alusi. Ketika ditemukan sebuah inti wacana yang mengalami kebuntuan maka akan timbul asosiasi dengan teks lain atau peristiwa yang senada dengan yang dihadapi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mempertentangkan atau menyejajarkan dengan unit wacana yang dihadapi. Penyejajaran atau pertentangan bisa dihubungkan dengan unit wacana lain di dalam teks yang sama (retrospektif) atau bisa dengan melacaknya di luar obyek (prospektif). Jadi cara ini seperti bermain bebas (free play).


Dekonstruksi sangat percaya kepada teks. Teks mempunyai otonomi yang luar biasa, segalanya hanya dimungkinkan oleh teks. Lebih lanjut Umar Junus mengatakan bahwa sebuah teks punya banyak kemungkinan makna sehingga teks sangat berbeda. Seorang pembaca tak akan mengkonkretkan satu makna saja, tetapi akan membiarkan segala kemungkinan makna hidup, sehingga teks itu ambigu. Dekonstruksi lebih menumpukan kepada unsur bahasa. Bahkan dapat dikatakan dekonstruksi bertolak dari unsur bahasa yang kecil untuk kemudian bergerak maju kepada keseluruhan teks.




Metode dekonstruksi yang dilakukan Derrida lebih dikenal dengan istilah dekonstruksi metaforik. Metafora di sini bukan dipahami sebagai suatu aspek dari fungsi ekspresif bahasa tapi sebagai suatu kondisi yang esensial tentang tuturan. Metafora mewakili salah satu cara dari penyusunan wacana dan secara kuat mempengaruhi pemahaman teks berbagai hal. Dekonstruksi dilakukan terhadap teks metaforis yang disusun oleh penulis. Dekonstruksi bisa terjadi pada teks itu sendiri atau sebaliknya kita yang mendekonstruksi sebuah teks.


Kata-kata yang dipakai dalam bahasa karya sastra bersifat denotatif sekaligus konotatif. Pengalaman batin bisa muncul dari asosiasi pikiran dengan arti kata-kata, tetapi sering juga lewat bunyi kata. Pertalian pikiran yang timbul dari kata bisa melayang, meledak, suci, murni, hitam, legam dan seterusnya. Hal ini bukan hanya terjadi dari katanya tetapi bisa juga dari bunyi katanya. Kesadaran akan adanya asosiasi itu melahirkan kecenderungan kepada simbolisme


Sebagai langkah dalam menyikapi karya sastra melalui dekonstruksi Derrida pun kemudian menggunakan istilah “trace” sebagai konsep dalam menelusuri makna.Trace (jejak) bersifat misterius dan tidak terungkap, muncul sebagai kekuatan dan pembentuk tulisan, menembus dan memberi energi pada aktivitasnya yang menyeluruh. Hal ini berarti bahwa makna akan bergerak, harus dilacak terus menerus dan meloncat-loncat.

Pengarang di dalam mengemukakan perasaannya sering tidak secara langsung. Kadang-kadang lewat peristiwa-peristiwa maupun simbol-simbol. Di sinilah letak pentingnya pengalaman dan pengetahuan pembaca untuk bisa menangkap pesan tersebut. Bekal pengetahuan yang Jausz disebut sebagai horizon harapan ini sangat penting dalam upaya mencari jejak (trace) sebagai metode pemaknaan dekonstruksi. Dengan bekal itu pembaca akan bisa mengisi tempat kosong dalam teks, karena memang sifat karya sastra itu multiinterpretable (Pradopo, 1985:185). Inilah penggambaran dari metode penelitian dekonstruksi tersebut.


2.8 Tujuan Dekonstruksi


Dekonstruksi bertujuan untuk membongkar tradisi metafisika Barat seperti fenomenologi Husserlin, strukturalisme saussurean, strukturalisme Perancis pada umumnya, psikoanalisi Freudian, dan psikoanalisis Lacanian. Tugas dekonstruksi, disattu pihak mengungkap problematika wacana-wacana yang dipusatkan, di pihak lain membongkar metafisika dengan mengubah batas-batasnya secara konseptual.

Sasaran dari dekonstruksi sendiri ialah memperlihatkan sejauh mana seorang pengarang mempergunakan pola-pola bahasa dan pemikiran guna memberi bentuk pada suatu pandangan tertentu. Dekonstruksi berarti penelitian mengenai intertekstualitas, mencari bekas-bekas teks lain. seorang kritikus yang mengikuti dekonstruksi menguraikan struktur-struktur retorik yang dipakai, mencari pengaruh-pengaruh dari teks-teks yang pernah ada, meneliti etimologi kata-kata yang digunakan, kemudian berusaha menyusun teks baru dari teks yang dibongkar itu.


Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan dari metode dekonstruksi adalah menunjukkan ketidakberhasilan upaya penghadiran kebenaran absolut, dan ingin menelanjangi agenda tersembunyi yang mengandung banyak kelemahan dan ketimpamgan di balik teks-teks.


2.9 Penerapan dan Sistematika Dekonstruksi

Pada awalnya, dekonstruksi adalah cara atau metode membaca teks. Dekonstruksi berfungsi dengan cara masuk ke dalam analisis berkelanjutan, yang terus berlangsung, terhadap teks-teks tertentu. Ia berkomitmen pada analisis habis-habisan terhadap makna literal teks, dan juga untuk menemukan problem-problem internal di dalam makna tersebut, yang mungkin bisa mengarahkan ke makna makna alternatif, di pojok-pojok teks (termasuk catatan kaki) yang diabaikan.


Dekonstruksi menyatakan bahwa di dalam setiap teks terdapat titik-titik ekuivokasi (pengelakan) dan kemampuan untuk tidak memutuskan (undacidabality), yang mengkhianati setiap stabilitas makna yang mungkin dimaksudkan oleh si pengarang dalam teks yang ditulisnya.


Proses penulisan selalu mengungkapkan hal yang diredam, menutupi hal yang diungkapkan, dan secara lebih umum menerobos oposisi-oposisi yang dipikirkan untuk kesinambungannya. Inilah sebabnya mengapa “filsafat” Derrida begitu berlandaskan pada teks dan mengapa term-term kuncinya selalu berubah, karena selalu tergantung pada siapa atau apa yang ia cari untuk didekonstruksi, sehinggga titik pengekalan selalu dilokasikan di tempat yang berbeda. Ini juga memastikan bahwa setiap upaya untuk menjelaskan apa itu dekonstruksi harus dilakukan dengan hati-hati. Ada suatu paradoks dalam upaya membatasi atau mengurung dekonstruksi pada satu maksud menyeluruh tertentu, mengingat dekonstruksi justru berlandaskan pada hasrat untuk mengekspos kita terhadap keseluruhan yang lain (tout autre), dan untuk membuka diri terhadap berbagai kemungkinan-kemungkinan alternatif.


Penjelasan ini berisiko membuat kita semakin sulit memahami pemikiran Derrida. Adanya perbedaan yang lebar dan diakui meluas, antara karya-kaya awal dan karya-karya terakhir Derrida, juga menjadi contoh yang jelas bagi kesulitan yang akan muncul, jika kita menyatakan bahwa “dekonstruksi mengatakan ini” atau “dekonstruksi melarang itu”.


Namun, ada ciri tertentu dari dekonstruksi yang bisa kita lihat. Misalnya, keseluruhan upaya Derrida dilandaskan pada keyakinkannya tentang adanya dualisme, yang hadir dan tidak bisa dicabut lagi pada berbagai pemikiran filsafat Barat.


Kekhasan cara baca dekonstruktif, yang dalam proses selanjutnya membuatnya sangat bermuatan filosofi, adalah bahwa unsur-unsur yang dilacaknya untuk kemudian dibongkar bukanlah sekedar inkonsistensi logis, argumen yang lemah, atau premis tidak akurat yang terdapat dalam teks, sebagaimana yang biasanya dilakukan pemikiran modernisme. Melainkan, unsur yang secara filosofis menjadi penentu atau unsur yang memungkinkan teks tersebut menjadi filosofis. Singkatnya, kemungkinan filsafat itu sendirilah yang dipersoalkan.




Filsafat yang pada dasarnya adalah tulisan, ingin melepaskan statusnya sebagai tulisan, dan keluar dari kerangka fisik kebahasaan yang digunakannya. Bahasa ingin digunakan sebagai sarana transparan untuk menghadirkan makna dan kebenaran rill yang ekstralinguistik, atau dalam istilah kita tadi, kebenaran absolut, kebenaran yang betul-betul benar.




Sistematika penerapan dekonstruksi dalam berhadapan dengan teks, adalah: Pertama, mengidentifikasi hirarki oposisional dalam teks, dimana biasanya terlihat peristilahan mana yang diistimewakan secara sistematis dan mana yang tidak.Kedua, oposisi-oposisi itu dibalik dengan menunjukkan adanya saling ketergantungan di antara yang saling bertentangan atau privilesenya dibalik. Ketiga, memperkenalkan sebuah istilah atau gagasan baru yang ternyata tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori oposisional lama.




Dengan langkah-langkah semacam ini, pembaca dekonstruksi berbeda dari pembacaan biasa. Pembacaan dekonstruksi berbeda dari pembacaan biasa. Pembacaan biasa selalu mencari makna yang lebih benar, yang teks itu sendiri barangkali tidak pernah memuatnya. Sedangkan pembacaan dekonstruktif ingin mencari ketidakutuhan atau kegagalan setiap upaya teks menutup diri dengan makna atau kebenaran tunggal.


2.10 Kelebihan dan Kelemahan dari Teori Dekonstruksi


Dekonstruksi membuka ruang kreatif seluas-luasnya dalam proses pemaknaan dan penafsiran. Itulah kelebihan dekonstruksi, yang membuat setiap orang bebas memberi makna dan menafsiri suatu objek tanpa batas. Ruangan makna terbuka luas, penafsiran bertumbuh biak. Ibarat pepatah, mati satu tumbuh seribu. Penghancuran terhadap suatu makna oleh makna baru melahirkan makna-makna lain.


Demikian bebas, banyaknya makna dan tafsiran, membuat era dekonstruktivisme dianggap era matinya makna. Makna menjadi tak berarti lagi. Inilah kelemahan dekonstruksi. Kelemahan lainnya adalah:

Kebebasan tanpa batas menjadikan makna kehilangan ‘roh’. Yang ada adalah massalisasi makna, retailisme makna. Menjadikan makna sebuah produk massal yang dapat mengurangi nilai obyek tidak lagi memiliki kemewahan ruang pemaknaan untuk ditelaah.

Ketidakbernilaian makna, ke-chaos-an atau asumsi ‘pesimis’ matinya makna dapat menimbulkan apatisme dan ketidakberdayaan terhadap makna.

Dekonstruksi tidak menyediakan shelter-shelter untuk persinggahan khusus dalam proses perjalanan pemaknaan. Titik-titik peristirahatan tertentu diperlukan untuk revitalisasi makna sebelum membuka ruang makna baru bagi perjalanan penafsiran yang lebih bugar. Dengan demikian, kejenuhan dan kebiasaan-kebiasaan pemaknaan dapat dicegah.

Tidak adanya upaya untuk menghargai puing-puing hasil pengahancuran makna karena makna-makna baru dianggap lebih bernilai. Padahal, makna-makna lama bukan tidak mungkin justru memberi nilai tambah abgi makna-makna baru. Karena itu, diperlukan sebuah model semiotika baru untuk menjawab kekurangan-kekurangan tersebut.


Kelemahan lain dari teori dekonstruksi ini adalah banyaknya peluang bagi spekulatif subjektif. Selain itu, dengan terus-menerus melacak bekas-bekas teks lama, maka setiap bentuk asosiasi dapat digunakan dan lama kelamaan bentuk kritik sangat terikat pada pengetahuan dan pribadi.

Post a Comment

Artikel Terkait Tips Motivasi