Contoh Surat Lamaran Terbaru



Medan,  28 Mei 2015

Hal      :Lamaran Kerja

Kepada Yth :

Pimpinan Supermarket Irian

Dengan hormat,

Berdasarkan informasi yang saya peroleh bahwa Supermarket Irian membutukan tenaga kerja. Berdasarkan informasi tersebut, saya tertarik untuk melamar kerja dan saya berkeyakinan memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan.

Saya Roselly Sinaga, perempuan, usia 20 tahun, lulusan SMK SWASTA RK BINTANG TIMUR SIANTAR. Saya belum menikah, berbadan sehat, berpenampilan menarik, semangat kerja, komunikatif, serta mampu bekerja, baik secara individu maupum secara tim. Saya juga telah terbiasa bekerja dengan menggunakan computer. Sebagai bahan pertimbangan, bersama ini saya lampirkan :

1. Pasfoto terbaru

2. Curriculum Vitae (CV)

3. Fotocopy Ijazah SMA

4. Fotocopy KTP

Demikian surat lamaran ini saya perbuat, dengan harapan kiranya saya dipanggil untuk mengikuti tahap seleksi. Atas perhatianya, saya ucapkan terimakasih.


Hormat saya,

Pelamar




Roselly Sinaga






Medan, 27 Mei 2015

Hal :Lamaran Pekerjaan

KepadaYth,
KEPALA PIMPINAN TRAVEL                                                                            
di-
     Medan


Dengan Hormat,

Sehubungan dengan adanya informasi lowongan kerja dari rekan saya, maka saya DEWI SARTIKA MARPAUNG tertarik untuk melamar pekerjaan pada Travel yg Bapak/Ibu pimpin.
Saya                            : DEWI SARTIKA MARPAUNG
Tempat Tgl Lahir        : Pematang Siantar, 11 Juli 1992
No.Hp                                     : 082163166451

Lulusan SMA yang masih kuliah di UIN-Sumatera Utara jurusan  Bimbingan Konseling Semester VIII, Saya memiliki loyalitas dan motivasi yang tinggi dalam bekerja.
Sebagai bahan pertimbangan Bapak/Ibu saya melampirkan ;
        1. Fotokopy Izajah
        2. KTP  
        3. KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) 
        4. Pas Foto 4 x 6                
Dan saya bersedia dipanggil wawancara, Besar harapan saya dapat di terima bekerja di perusahaan yang Bapak/Ibu pimpin.
Atas perhatian dan kesempatan saya mengucapkan Terima Kasih.

                                                                                                            Hormat Saya ;




DEWI SARTIKA MARPAUNG
[baca selengkapnya..]

Globalisasi terhadap Kehidupan Bangsa dan Negara Indonesia

1. Pengaruh Globalisasi Ekonomi
Globalisasi perekonomian merupakan suatu proses kegitan ekonomi dan perdagangan,dimana negara-negara diseluruh dunia menjadi satu kekatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa ribtangan batas teritorial negara. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya juga membuka peluang masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik.hal ini menyebabkan batas-batas suatu negara akan menjadi kabur dan keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional akan semakin erat.

A. Lembaga Usaha Swasta,

Lembaga Usaha Swasta adalah kegiatan ekonomi (diluar perusahaan milik negara) yang dapat berupa PT, CV, Firma dan badab usaha swasta lainnya. Lembaga ini dilaksanakan oleh para industriawan, wiraswastawan atau para pengusaha lainnya. Fenomena globalisasi akan berpengaruh langsung atau tidak langsung pada kegiatan sektor ini. Pengaruh globalisasi terhadap lembaga swasta, antara lain sebagai berikut:

Ø Wawasan dalam berusaha, artinya globalisasi akan memberikan pengaruh pada cara pandang kaum wiraswastawan dalam melaksanakan perekonomian.

Ø Tantangan masa depan, artinya globalisasi menawarkan tantangan untuk dapat diatasi oleh kaum pengusaha yang berupa persaingan dalam berbagai macam hal.

Ø Dorongan kemajuan, artinya pada era globalisasi ini, mau tidak tidak mau para kaum pengusaha harus dapat meningkatkandiri dalam segala aspeknya agar tidak tergilas laju perkonomian global.

Ø Efektivitas dan efesiensi, artinya agar mampu bersaing di pasar bebas, maka efektivitas dan efesiensi produkbarang atau jasa harus menjadi pertimbangan utama.

Ø Penyerapan teknologi maju, artinya globalisasi memberikan peluang kepada para industri untuk memanfaatkan iptek yang tepat bagi usahanya.

Ø Pemerintah negara, yaitu para pejabat negara yang dipercaya sebagai pelaksana kebijakan publik dan penentu kebijaksanaan politik negara. Pengaruhnya yaitu adanya tekanan untuk meregulasi peraturan untuk mengakomodasi tuntutan sistem



B. perdagangan bebas misalnya meminimalkan bea masuk.

Pengaruh globalisasi pada lembaga ini adalah, sebagai berikut:
1. Adanya tekanan untuk mengulasi peraturan untuk mengakomodasi tuntutan sistem perdagangan bebas.
2. Menghormati kesepakatan internasional
3. Meminimalkan proteksi terhadap industri domestik.
4. Mendorong dilaksanakannya privatisasi BUMN.
5. Mencoptakan iklim yang kondusifdan meminimalkan campur tangan negara dalam kegiatan perekonomian.
6. Mendorong peningkatan kualitas pengusaha dalam melaksanakan kegitannya



2.5 Kekuatan Dan Kelemahan Indonesia Dalam Menghadapi Era Globalisasi

Globalisasi yang semakin cepat dan terbuka ini bagaimanapun tetap harus diwaspadai dan diantisipasi, karena globalisasi tidak dapat dihindari. Yang dapat dilakukan adalah menemukan strategi bagaimana agar bangsa ini mampu menemukan ritme dan alur yang mantap di dalam aliran globalisasi ini. Kewaspadaan dan antisipasi terhadap globalisasi ini sangat penting mengingat globalisasi itu sendiri membawa paradok tersendiri, seperti yang diungkapkan oleh John Naisbitt dalam Sumardi (2003) : (i) budaya global vs budaya lokal, (ii) universal vs individu, (iii) modern vs tradisional, (iv) jangka panjang (long term) vs jangka pendek (short term), dan (v) persaingan vs kesamaan kesempatan. Kemajuan pesat teknologi dalam wujud Triple T-Revolution (telecommunication-, transportation-, & trade-revolution) membuat hubungan antar negara menjadi sangat intens seolah mengubur hubungan negara bangsa dan membangun citra global.

Kemajuan dan globalisasi ini membawa muatan positif sekaligus negatif yang harus diantisipasi agar perubahan tersebut tidak menggilas dan melunturkan jati diri bangsa Indonesia, sebagai bagian dari peradaban dunia. Oleh karena itu, strategi lokal yang kuat dalam menjawab segenap peluang dan tantangan yang ada seiring semakin berkembangnya globalisasi adalah bagaimana menggunakan kekuatan yang dimiliki dengan meminimalisasi kelemahan yang ada untuk memanfaatkan peluang dan mengantisipasi segenap tantangan yang muncul. Segenap kekuatan dan kelemahan yang dimaksud dalam hal ini adalah segenap aspek kehidupan bangsa (asta gatra) yang dimiliki oleh bangsa ini, yaitu diantaranya : (i) geografis, (ii) sumberdaya kekayaan alam, (iii) demografi, (iv) ideologi, (v) politik, (vi) ekonomi, (vii) sosial-budaya, dan (viii) pertahanan dan keamanan.

Secara geografis, Indonesia memiliki potensi wilayah darat, laut, udara dan iklim tropis yang cukup menjanjikan sebagai ruang hidup yang sangat baik dan strategis. Namun di sisi lain, optimalisasi pemanfaatan dan pengaturan ruangnya masih belum memadai, sehingga tumpang tindih pengaturan dan pemanfaatan ruangnya seringkali terjadi dan membawa konsekuensi terhadap in-harmonisasi.

Indonesia juga memiliki potensi sumber kekayaan alam (SKA) yang sangat besar, baik di daratan, lautan dan dirgantara, baik yang bersifat hayati maupun non hayati, serta yang dapat diperbaharui (renewable) maupun yang tidak dapat diperbaharuhi (non renewable). Hal ini merupakan keunggulan komparatif (comparative advantage) yang dapat dijadikan modal dan kekuatan dalam pembangunan nasional. Namun demikian, pemanfaatan dan pengelolaan potensi sumber kekayaan alam-nya belum atau bahkan tidak dilakukan secara optimal dan berkelanjutan. Pola-pola pemanfaatan jangka pendek (short term utilization) yang cenderung destruktif dan berlebihan lebih banyak dipraktekkan dibandingkan dengan orientasi pemanfaatan jangka panjang (long-term utilization) yang mengutamakan pola pemanfaatan optimal dan berkelanjutan. Bahkan prinsip-prinsip keadilan sosial dalam pemanfaatan dan distribusi hasil pemanfaatan acapkali terabaikan.

Di sisi lain, praktek pemanfaatan illegal (illegal utilization), pemanfaatan yang tidak tercatat (un-reported utilization) dan pemanfaatan yang tidak beraturan (un-regulated utilization) sangat bebas berlaku di negeri ribuan pulau ini. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih kurang 250 juta jiwa dan termasuk Negara dengan populasi terbesar ke-4 di dunia, setelah China, India dan Amerika merupakan asset bangsa yang sangat besar dan merupakan keunggulan SDM secara komparatif, selain juga menjadi salah satu pangsa pasar terbesar dunia. Namun demikian, keberadaan potensi SDM yang demikian besar ini memerlukan penanganan yang baik dalam konteks kesehatan, pendidikan dan penyediaan lapangan pekerjaan, sehingga dapat bersaing dengan SDM Negara lain.

Dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat Indonesia berpegang teguh pada ideologi Pancasila. Pancasila telah diterima sebagai satu-satunya azas dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Namun demikian, implementasi jiwa dan semangat yang terkandung dalam Pancasila tidak sepenuhnya diamalkan, bahkan dewasa ini penyimpangan terhadap sila kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia seolah-olah semakin menjauh dari bangsa ini. Dan ini merupakan kelemahan yang patut untuk diminimalisasi, sehingga cita-cita pendiri bangsa agar Pancasila menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia benar-benar dapat diimplementasikan secara utuh dan menyeluruh.

Sistem perpolitikan Negara yang mengedepankan musyawarah dan mufakat merupakan warisan pendiri bangsa dan merupakan kekuatan yang tidak terbantahkan untuk mencapai kemajuan bersama. Prinsip mengutamakan kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi maupun golongan selalu menjadi prinsip dasar kehidupan berpolitik bangsa. Sistem demokrasi Pancasila ini sedianya menjadi modal utama untuk menjadikan bangsa Indonesia sejajar dengan Negara lain dan menjadi teladan dalam kehidupan bernegara. Namun demikian, sistem ini mulai terkikis seiring maraknya sistem dan praktek politik yang mengedepankan kekuasaan sebagai tujuannya acapkali menjadi fenomena anak bangsa negeri ini.

Hal ini tentu harus diantisipasi dan diminimalisasi agar prinsip mengutamakan kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi maupun golongan dapat diwujudkan. Kekuatan ekonomi nasional yang ditopang oleh sektor primer dan sekunder dewasa ini secara tidak langsung merupakan kekuatan. Keberadaan sumber kekayaan alam yang demikian besar telah memberikan kekuatan ekonomi berbasis sumberdaya alam dan lingkungan. Namun demikian, kekuatan ekonomi seperti ini perlu diiringi dengan pengembangan sistem perekonomian berbasis nilai tambah (added value), sehingga dibutuhkan sistem perindustrian yang lebih baik. Selain itu, praktek perekonomian biaya tinggi (high cost economy) kerap berlaku di Indonesia, sehingga dapat menghambat pembangunan nasional.

Kekuatan bangsa Indonesia dalam konteks sosial-budaya adalah terletak pada kebhinekaannya. Bhineka Tunggal Ika sebagai motto Negara telah menjadi dasar pandangan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat bahwa Indonesia adalah sebuah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik. Artinya bahwa warna dan ragam suku merupakan khasanah kehidupan, tetapi jiwa dan semangatnya tetap satu, yaitu berbangsa satu bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia dan bertanah air satu tanah air Indonesia. Motto Negara Indonesia ini bahkan ditiru oleh negeri tetangga Malaysia dengan visi kenegaraannya sebagai Malaysia One (Satu Malaysia). Hal ini membuktikan bahwa kekuatan sosial-budaya yang melekat pada motto tersebut sungguh merupakan kekuatan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Namun demikian, ketika kebhinekaan tersebut tidak dapat dibina dengan baik, maka bukan tidak mungkin NKRI akan teramcam keberadaannya.

Dalam bidang pertahanan dan keamanan, Indonesia mengenal sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (SISHANKAMRATA) yang notabene menjadi strategi perjuangan yang mumpuni yang dilakukan para pejuang bangsa di seantero negeri persada yang dilakukan serempak dan tidak kenal menyerah untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Doktrin HANKAMRATA ini serta dengan diundangkannya UU No.20/1982 tentang Pertahanan dan Keamanan Negara memberikan pondasi kuat sistem pertahanan dan keamanan Indonesia. Namun demikian, SISHANKAMRATA ini belum sepenuhnya diwujudkan, karena masih banyak terjadi riak-riak kecil yang jika tidak dapat diantisipasi dalam menjadi gelombang besar yang mengancam keutuhan bangsa Indonesia, terutama dengan semakin maraknya kriminalitas dan ancaman terorisme di negeri tercinta ini.

Dengan semakin menggilanya fenomena globalisasi, terutama dengan telah semakin berkembang teknologi informasi, transportasi dan perdagangan, maka beberapa strategi

yang dapat dilakukan adalah :

(i) Memperkuat sistem pertahanan dan keamanan nasional yang dapat memberikan jaminan kemanan terhadap identitas dan integritas nasional serta eksistensi bangsa Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(ii) Pengaturan Tata Ruang Wilayah Nasional yang serasi dan harmonis demi sebesarbesarnya kesejahteraan rakyat dengan tetap memperhatikan kepentingan pertahanan dan keamanan nasional.

(iii) Optimalisasi pemanfaatan dan pengelolaan berkelanjutan demi sebesar-besarnya pembangunan nasional yang adil dan merata serta kemakmuran rakyat Indonesia.

(iv) Peningkatan pelayanan kesehatan dan sistem pendidikan yang berbasis kompetensi serta penciptaan lapangan pekerjaan yang menganut prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

(v) Memantapkan identitas nasional : Bhineka Tunggal Ika serta mengejewantahkannya dalam setiap kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

(vi) Memantapkan kesadaran bela negara.
[baca selengkapnya..]

Pengaruh Globalisasi di Bidang Politik dan Hankam

Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit. Dalam banyak hal globalisasi mempunyai banyak karateristik yang sama dengan internasionalisasi. Kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran Negara dan batas-batas Negara.

Globalisasi merupakan salah satu aspek kehidupan yang mau tidak mau harus dihadapi bangsa Indonesia. Oleh karena itu untuk mempertahankan identitas nasional dari pengaruh negative globalisasi, dibutuhkan adanya pendekatan sistem ketahanan nasional. Identitas dalam pandangan perspektif ketahanan nasional, merupakan salah satu sarana dalam membentuk kondisi dinamis yang meliputi segala aspek kehidupan yang terintegrasi dalam dalam bangsa dan negara Indonesia. Aspek-aspek yang dikedepankan dalam pertahanan nasional antara lain :

a. Kemampuan dan kekuatan mempertahankan kelangsungan hidup ( survival, identitasdan integritas bangsa dan Negara)
b. Kemampuan dan kekuatan mengembangkan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional.

. Melalui kedua aspek tersebut, kondisi identitas kebudayaan nasional semakin kokoh dengan lahirnya manusia Indonesia yang berbudaya dan berperadaban. Manusia yang berbudaya yang punya kemampuan dan kekuatan untuk survive sekaligus berkembang, serta dapat hidup bersaing dan bersanding dengan bangsa-bangsa lain.

Aspek politik terutama pemerintah negara pada era globalisasi dewasa ini mengalami yang sangat berat karena harus menerima dan mengakomodasi isu-isu global dan mengulasi nya dalam bentuk peraturan-peraturan, misalnya tentang perdagangan bebas, peminimalan tarif bea masuk, penghargaan HAM, demokratisasi, dan sebagainya.
Untuk dampak positifnya, antara lain:

Ø Perlindungan hak dan kesempatan yang terbuka untuk meningkatkan prestasi diri dalam meningkatkan kualitas kehidupannya. Dengan jaminan hak asasi manusia, maka setiap individu mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk meningkatkan kualitas kehidupannya.
Tidak terjadi eksploitasi pemerintah negara terhadap rakyatnya. Dengan jaminan HAM dan demokrasi yang benar-benar ditegakkan, maka segala macam bentuk eksploitasiterhadap rakyat demi kekuasaan dapat dihindari atau paling tidak dapat diminimalkan atau sebaliknya.

Ø Penyalahgunaan kekuasaan dapat dihindarkan. Sistem pemerintahan yang demokrasi demokrasi harus menjunjung tinggi HAM. Rakyat secara langsung atau melalui perwakilannya dapat mengontrol langsung pelaksanaan pemerintahan negara.

Ø Meningkatnya kepercayaan dan dukungan rakyat terhadap pemerintah. Sistem pemerintahan berasaskandari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Dengan asas ini, berarti meletakkan dan memposisikan pemerintah menyatu dengan rakyat dan kebijakan pemerintah juga berarti kebijakan seluruh rakyat.

Ø Permasalahan yang dihadapi suatu negara akan mendapat tanggapan atau bantuan dari negara lain. Misalnya, di suatu negara sedang mengalami bencana alam atau bencana kemanusian akan mendapat bantuan dari negara lain.

Ø Mengusahakan kesepahaman terhadap permasalahan internasional. Dengan adanya pertemuan antarbangsa, yang disepakati bersama dan dukoordinasikan oleh badan-badan internasional (misalnya WTO, ILO, IMF, GATT, dan sebagainya)


Untuk dampak negatifnya, yaitu:

Ø Kedaulatan negara akan mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan negara harus selalu mengakomodasikan isu-isu global sesuai dengan tuntutan internasional, sehingga negara-negara tidak dapat bebas untuk menentukan kebijakan negaranya secara utuh.

Ø Kemampuan negara untuk melindungi kepentingan kesejahteraan rakyatnya mengalami kemerosotan. Karena tekanan globalisasi ekonomi, maka kapasitas perlindungan pemerintah negara terhadap kesejahteraan rakyat mengalami penurunan, dengan demikian, nasib kesejahteraan rakyat akan lebih tergntung pada kemampuannya bersaing dalam sistem pasar bebas dan pemerintah tidak dapat berbuat banyak kecuali hanya sebagai motivator, fasiliator, dan koordinator.

Ø Makin beratnya tanggung jawab pemerintah negara. Pemerintah negara akan mendapatkan tekanan intenasional untuk menkomudasikan isu-isu globalisasi. Di pihak lain, pemerintah akan dituntut oleh rakyatnya nntuk melindungikepentingannya dan mempertahankan identitas nasionalnya.

Ø Politik nasional (baik politik dalam negeri maupun luar negeri) harus menyesuaikan dengan arah kebijakan negara adidaya. Dengan adanya satu kekuatan politik terbesar dunia, yaitu Amerika Serikat yang didukung negara-negara Barat, maka mereka akan mendikte kebijakan politik internasional dan tentunya beroriontasi kepada kepentingan negara adikuasa tersebut.
[baca selengkapnya..]

Pengertian Globalisasi dan Pengaruh Globalisasi

Pengertian Globalisasi
Istilah globalisasi berhubungan dengan peningkatan saling keterkaitan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk interaksi-interaksi lain. Menurut asal katanya, kata globalisasi diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat. Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif terhadapnya.

Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing, dengan kata lain, negara yang kaya akan semakin kaya dan negara-negara yang kecil akan semakin bergantung padanya. Pengaruh globalisasi baik positif maupun negatif dapat menjadi bahan masukan dalam diri kita masing-masing. Beberapa orang menyatakan bahwa globalisasi merupakan mitos atau paling banter hanya di anggap sebagai suatu kelanjutan dari trend yang telah lama mapan. Tapi di sisi lain, banyak yang mengatakan bahwa globalisasi tidak hanya real, tetapi juga sudah sangat maju perkembangannya.

Seperti yang diutarakan oleh Keniche Ohmae, Kita sekarang hidup dala dunia tanpa batas, dimana negara-bangsa telah menjadi rekaan dan dimana para politikus telah kehilangan semua kekuatan efektif mereka, ( menurut Harper Collins dalam Anthony Giddens,1995 )
Dari beberapa sumber, pengertian globalisasi diantaranya yaitu, Globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit. ( sumber : id.wikipedia.org.diakses tanggal 13 Maret 2012 ).

Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah, Achmad Suparman ( sumber : http://duniabaca.com/definisi-globalisasi-ciri-ciri-globalisasi.html. diakses tanggal 13 Maret 2012).
Pengertian globalisasi belum memiliki definisi yang mapan sehingga memunculkan pandangan yang berbeda-beda, kecuali sekedar definisi kerja, sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya, dan dari beberapa sumber dan pendapat di atas maka pengertian globalisasi dapat disimpulkan yaitu globalisasi merupakan suatu proses yang mencakup keseluruhan dalam berbagai bidang kehidupan sehingga tidak tampak lagi adanya batas-batas yang mengikat secara nyata, sehingga sulit untuk diseleksi atau dikontrol.

Sejarah telah mengungkapkan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, yang memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta membimbingnya dalam mengejar kehidupan lahir batin yang makin baik, di dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Bahwasanya Pancasila yang telah diterima dan ditetapkan sebagai dasar negara seperti tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa, yang telah diuji kebenaran, kemampuan dan kesaktiannya, sehingga tak ada satu kekuatan manapun juga yang mampu memisahkan Pancasila dari kehidupan bangsa Indonesia.

Menyadari bahwa untuk kelestarian kemampuan dan kesaktian Pancasila itu, perlu diusahakan secara nyata dan terus menerus penghayatan dan pengamamalan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya oleh setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara serta setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun di daerah.


2.2 Pengaruh Globalisasi di Bidang Sosial Budaya
Globalisasi merupakan kenyataan hidup dan kesadaran baru bagi setiap manusia. Globalisasi telah menimbulkan gaya hidup yang baru yang tampak dengan jelas, yaitu di kota-kota besar dan semakin merasuki kehidupan-kehidupan yang dulunya terisolasi. Menurut analisis para ahli, globalisasi pada umumnya bertumpu pada empat kekuatan global, yaitu: :

a. Kemajuan IPTEK terutama dalam bidang informasi dan inovasi-inovasi baru di dalam teknologi yang mempermudah kehidupan manusia.
b. Perdagangan bebas yang ditunjang oleh kemajuan IPTEK.
c. Kerjasama regional dan international yang telah menyatukan kehidupan berusaha bangsa-bangsa tanpa megenal batas-batas Negara.
d. Meningkatnya kesadaran terhadap hak-hak asasi manusia dan kewajiban manusia di dalam kehidupan bersama, serta meningkatnya kesadaran bersama dalam demokrasi.

Kebudayaan yang cukup kuat atau mungkin juga bisa dikatakan paling kuat adalah kebudayaan barat. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari di seluruh belahan dunia ada kelompok orang-orang ( sebagian besar remaja ). Dan itu semua bisa kita lihat baik dalam segi pakaian, tingkah laku atau lagu dan film yang disukai. Perkembangan globalisasi kebudayaan dapat menimbulkan efek atau pengaruh yang positif juga bisa negative. Perkembangan globalisasi kebudayaan ini di tandai dengan cirri-ciri sebagai berikut :


a. Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional.
b. Penyebaran prinsip multikebudayaan.
c. Berkembangnya pariwisata.
d. Berkembangnya mode yang berskala global, dalam hal ini pakaian dan film.
e. Bertambah banyaknya event-event berskala global.


Dalam percaturan globalisasi, sudah menjadi tugas negara untuk mempertahankan dan memajukan kebudayaan nasional. Dan upaya memajukan kebudayaan nasional ini sebenarnya telah diamanahkan dalam UUD 1945 Pasal 32 ayat ( 1 ). Untuk menghadapi peluang dan tantangan globalisasi, dibutuhkan adanya identitas kebudayaan nasional yang kuat dan handal.

Dan upaya untuk mewujudkan ini dapat dilakukan dengan tiga pendekatan :
a. Merumuskan identitas kebudayaan nasional dalam konsepsi ke-Bhineka-an.
b. Merumuskan identitas kebudayaan nasional dengan menerapkan konsep Wawasan Nusantara.
c. Merumuskan identitas kebudayaan nasional dalam bingkai Wawasan Nusantara.



Bangsa Indonesia hidup dalam suatu wilayah yang luas dan disatukan oleh lautan yang merupakan suatu kenyataan akan ke-Bhineka-an kita. Tanpa ke-Bhineka-an, ketunggalan masyarakat kita akan bersifat semu dan kurang mempunyai daya tahan. Ke-Bhineka-an masyarakat kita merupakan kekuatan yang mahadasyat apabila diikat dalam suatu wadah kebangsaan dan kebudayaan nasional.

Sedangkan, mempertahankan dan mengembangkan identitas kebudayaan nasional dengan menerapkan konsep wawasan nusantara berarti kita berupaya mempertahankan identitas kebudayaan nasional dalam wujud Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ). Identitas kebudayaan nasional dalam Wawasan Nusantara memuat tiga kepentingan nasional yang paling mendasar, yaitu :

a. Persatuan dan kesatuan nasional.
b. Identitas atau jatidiri bangsa.
c. Kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Identitas kebudayaan dalam Wawasan Nusantara bisa diartikan bisa diartikan sebagai cara pandang bangsa Indonesia terhadap dirinya yang serba nusantara dari dalam lingkungannya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan memperlihatkan kondisi geografis, latarbelakang sejarah, dan kondisi social budayanya.
[baca selengkapnya..]

Perkembangan Jaman di Era Globalisasi

Di era globalisasi, banyak aspek-aspek yang mengalami perkembangan yang signifikan. Perkembangan yang terjadi tentunya membawa suatu kemajuan bagi segala aspek yang mendapat dampak adanya globalisasi. Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya. Banyak hal-hal baru yang masuk ke Indonesia, hal yang bersifat positif dan juga negatif, baik dari segi politik, ekonomi, sosial dan budaya. Hal-hal yang masuk ke Indonesia tersebut mempengaruhi pemerintah untuk selalu berupaya meningkatkan pengaruh positif dan atau menghilangkan / mengurangi pengaruh negatifnya. Pengaruh negatif dari proses globalisasi kini dirasa sudah sangat meluas terutama masalah remaja yang hampir 80% pengaruhnya bisa dirasakan dari semua pihak. Sedangkan dibidang ekonomi, sekarang banyakproduk – produk luar negeri yang diimpor secara besar-besaran dengan harga lebih murah, sehingga produsen – produsen dalam negeri mengalami keterpurukan dalam produksinya, pedagang – pedagangpun tidak mampu bersaing dengan harga – harga yang ditawarkan. 
Itu hanya sebagian kecil dari dampak globalisasi. Dan yang masih hangat – hangatnya dibicarakan dari dampak globalisasi adalah terjadinya global warming, efek rumah kaca, mencairnya es di kutub – kutub. Kalau di bidang kebudayaan yang sekarang dialami para remaja kita saat ini yang mencampuraduk budaya timur dengan budaya barat Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Menurut Edison A. Jamli dkk. Kewarganegaraan.2005). Menurut pendapat Krisna (Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang.internet.public jurnal.september 2005). Proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya. Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. 
Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa. Dengan adanya globalisasi yang mulai mempengaruhi dan masuk ke lingkup nasionalisme, maka diperlukan adanya suatu tindakan preventif dan filtrasi yang dipandang ampuh dalam meminimalisir dampak yang ditimbulkan oleh pengaruh globalisasi yang kini mulai mengikis semangat nasionalisme. 1.2 Rumusaan Masalah Dari latar belakang di atas,dapat diketahui rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pengaruh adanya globalisasi dibidang sosial budaya? 2. Bagaimana pengaruh globalisasi dibidang hankam? 3. Bagaimana globalisasi terhadap kehidupan bangsa dan negara 4. Bagaimana kekuatan dan kelemahan indonesia dalam menghadapi era globalisasi? 5. Bagaimana peran pendidikan kewarganegaraan dalam mengatasi pengaruh globalisasi terhadap nasionalisme bangsa? 6. Bagaimana implementasi nilai-nilai pancasila dalam menumbuhkan nasionalisme bangsa ? 1.3 Tujuan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui adanya pengaruh globalisasi terhadap sosial budaya. 2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh globalisasi terhadap hankam. 3. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh globalisasi terhadap kehidupan bangsa dan negara. 4. Untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan indonesia dalam menghadapi era globalisasi. 5. Untuk mengetahui peran pendidikan kewarganegaraan dalam mengatasi pengaruh globalisasi terhadap nasionalisme bangsa. 6. Untuk mengetahui implementasi nilai-nilai pancasila dalam menumbuhkan nasionalisme bangsa .
[baca selengkapnya..]

Latar Belakang Sastra

A. Latar Belakang

Sastra adalah suatu seni yang hidup bersama-sama dengan bahasa. Tanpa bahasa sastra tidak mungkin ada. Melalui bahasa ia dapat mewujudkan dirinya berupa sastra lisan, maupun tertulis. Walaupun perwujudan sastra menggunakan bahasa, kita tidak dapat memisahkan sastra dari bahasa, ataupun membuangnya dari peradaban bahasa itu sendiri.

Drama adalah salah satu jenis karya sastra yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan karya sastra jenis lain, yaitu unsur pementasan yang mengungkapkan isi cerita secara langsung dan dipertontonkan di depan umum. Oleh karena itu setiap tokoh mempunyai sifat-sifat kritis sebagai penyampai amanat dari pengarangnya, misalnya satire, humor, ambiguitas, sarkasme ataupun kritik-kritik sosial lainnya yang tergambar melalui dialog-dialog antartokoh. Unsur paling pokok dalam sebuah drama ada empat, yaitu lakon (naskah drama atau text play), pemain (aktor atau aktris), tempat (gedung pertunjukan), dan penonton. Pada hakekatnya Prosa Fiksi dalam bentuk naskah drama adalah suatu cerita rekaan yang didalamnya terdapat struktur yang di bangun oleh unsur-unsur sastra.

Drama pada awalnya digunakan dalam suatu ritual pemujaan terhadap para dewa. Akan tetapi, ritual tersebut mengalami perkembangan menjadi oratoria, yaitu seni berbicara, kemudian berkembang menjadi drama.

Salah satu jenis drama yang berkembang adalah drama realisme. Realisme adalah aliran atau ajaran yang selalu berpegang pada kenyataan, dan dalam kesenian, aliran ini berusaha mengungkapkan sesuatu sebagaimana kenyataan yang ada. Realisme digambarkan sebagai peniruan, bukan dari karya seni tradisi, melainkan peniruan dari aslinya yang disajikan oleh alam.

Drama realis bermula pada abad 19. Drama ini bertolak dari pikiran positifitis orang Eropa. Drama realis pada umumnya merupakan usaha untuk menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana subjek itu tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa melebih-lebihkan. Drama realis ingin memberikan wawasan dalam kenyataan kehidupan, memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan keburukan-keburukan yang ada. Pada umumnya, apa yang dikemukakan oleh drama realis adalah suatu kebenaran umum atau wajar.

B. Masalah Dan Tujuan

Masalah utama yang diangkat dalam dalam analisis ini adalah mengkaji tentang analisis stuktural terhadap drama “Pelik” dengan prinsip kerja utama membongkar dan memaparkan unsur-unsur secara cermat dan sedetail mungkin, kemudian disusun kembali secara bersamaan guna mendapatkan hasil pengertian yang menyeluruh

Sementara itu, analisis ini bertujuan mengaplikasikan pendekatan objektif dalam mengungkapkan bagaimana bentuk struktural yang tercermin dalam drama “Pelik”. Yang mana bentuk struktural tersebut merupakan unsur instrinsik dalam drama tersebut.



C. Landasan Teori

Pendekatan Objektif merupakan suatu pendekatan yang hanya menyelidiki karya sastra itu sendiri tanpa menghubungkan dengan hal-hal di luar karya sastra.Hakikat karya sastra adalah perpaduan antara hasil imajinasi seorang sastrawan dengan kehidupan secara faktual. Hasil rekaan manusia itu lebih tinggi nilainya dari kenyataan, karena sastrawan tidak begitu saja meniru atau meneladani kenyataan. Oleh karena itu, dalam memahami karya sastra hendaknya pembaca mengenal berbagai macam teori, yang salah satunya berupa teori objektif yang akan kita bahas di bawah ini. Ciri-ciri yang terdapat dalam teori objektif adalah:

1. Teori objektif memandang karya sastra sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.

2. Menghubungkan konsep-konsep kebahasaan (linguistik) dalam mengkaji suatu karya sastra.

3. Pendekatan yang dilihat dari eksistensi sastra itu sendiri berdasarkan konvensi sastra yang berlaku.

4. Penilaian yang diberikan dilihat dari sejauh mana kekuatan atau nilai karya sastra tersebut berdasarkan kaharmonisan semua unsur-unsur pembentuknya.

5. Struktur tidak hanya hadir melalui kata dan bahasa, melainkan dapat dikaji berdasarkan unsur-unsur pembentuknya seperti tema, plot, karakter, setting, point of view.

6. Untuk mengetahui keseluruhan makna dalam karya sastra, maka unsur-unsur pembentuknya harus dihubungkan satu sama lain.

Pendekatan objektif dengan demikian memusatkan per-hatian semata-mata pada unsur-unsur, yang dikenal dengan analisis intrinsik. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik, seperti aspek historis, sosiologis, politis, dan unsur-unsur sosiokul-tural lainnya, termasuk biografi. Oleh karena itulah, pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi, analisisergocen-t r i c , pembacaan mikroskopi. Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dalam dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak, dan unsur-unsur dengan- totalitas di pihak yang lain.

Masuknya pendekatan objektif ke Indonesia sekitar tahun 1960-an, yaitu dengan diperkenalkannya teori strukturalisme, memberikan hasil-hasil yang baru sekaligus maksimal dalam rangka memahami karya sastra. Pendekatan objektif diaplikasikan ke dalam berbagai bidang ilmu dan dunia kehidupan manusia, termasuk mode pakaian dan menu makanan. Pendekatan yang dimaksudkan jelas membawa manusia pada. Penenuan-penemuan bam, yang pada gilirannya akan memberikan masukan terhadap perkembangan strukturalisme itu sendiri.

Dengan adanya penolakan terhadap unsur-unsur yang ada di luarnya, niaka
masalah mendasar yang harus dipecah-kan dalam pendekatan objektif harus dicari dalam
karya ter-sebut, seperti citra bahasa, stilistika, dan aspek-aspek lain yang berfungsi untuk
menimbulkan kualitas estetis. Dalam | fiksi, misalnya, yang dicari adalah unsur-unsur lot, tokoh, latar, kejadian, sudut pandang, dan sebagainya. Melalui pendekatan objektif, unsur-unsur intrinsik karya akan dieksploi-tasi semaksimal mungkin.

Penilaian objektif berarti menilai suatu karya sastra secara objektif, tidak dengan pendapat pribadi (subjektif). Kriteria utama dalam memberikan penilaian secara objektif itu, menurut Graham Hough dan Wellek Warren adalah pada adanya :

1. Relevansi nilai-nilai eksistensi manusia yang terpapar melalui jalan seni, imajinasi maupun rekaan yang keseluruhannya memiliki kasatuan yang utuh, selaras, serta padu dalam pencapaian tujuan tertentu atau memiliki integritas, harmony, dan unity.

2. Daya ungkap, keluasan, serta daya pukau yang disajikan lewat texture serta penataan unsur-unsur kebahasaan maupun struktur verbalnya atau pada adanya consonantia dan klantas.


Langkah Kerja Pendekatan Objektif

1. Prinsip Umum Pendekatan Objektif

· Penganalisisan hanya bertumpu pada teks drama semata dan lepas dari unsure-unsur luar yang mempunyai andil penciptaan sebelumnya.

· Karya fiksi si bangun oleh beberapa unsure, seperti gaya bahasa, sudut pandang, alur, penokohan, dan latar.

· Penganalisisan drama sebagai genre sastra adalah dengan membongkar unsure subunsur yang sekecil-kecilnya, untuk disusun kembali logikarasional.

· Keseluruhan dan kebutuhan drama dipreteli menjadi unsure-unsur tetapi tidak dibiarkan terpisah dan terlepas.

· Antar unsure makna bahasa dengan unsure penunjang struktur bahasa, tidak dapat dilihat sebagai unsur-unsur yang berdiri sendiri.

· Penginterpretasian dilakukan bertahap-tahap sesuai dengan hubungan unsure-unsur yang sederajat dan setingkat.


2. Prinsip Terapan Pendekatan Objektif

Beberapa prinsip dalam telaah unsure penokohan drama adalah sebagai berikut:

· Pemahaman tokoh atau gelar salah satu bagian yang perlu dijadikan dsar untuk memahami penokohan dan perwatakan.

· Penokohan tidak sama dengan perwatakan.

· Jarang tokoh memerankan peran tunggal, dan pada umumnya setiap tokoh mempunyai beberapa peran yang sangat bergantung pada interaksi social yang dilkaukannya.

· Setiap peran membawa misi permasalahan dan konflik drama.

· Setiap peran selalu hadir berpasangan dengan peran lain dalam membentuk suatu permasalahan.

· Setiap tokoh dapat dibedakan atas tiga keadaan yaitu keadaan fisik, psikis dan sosial.

· Antara keadaan fisik, psikis dan social haruslah terdapat keserasian dan saling menunjang dalam membangun permasalahan dan konflik.

· Unsur penokohan tidak berdiri sendiri tetapi ia saling berhubungan dengan unsure lain.

Beberapa prinsip dalam penganalisisan latar dan ruang drama adalah sebagai berikut:

· Latar mencakup informasi tentang suasana, tempat tampak dn waktu.

· Fungsi latar adalah memperjelas unsure penokohan dan alur.

· pelukisan latar dan ruang dalam drama dapat saja sama dengan realitas objektif.

· Latar dan ruang drama dapat saja berbentuk abstrak.

· Unsur latar dan ruang terkait langsung dengan unsure penokohan, peristiwa dan motif juga cenderung bersifat abstrak.



Beberapa prinsip dalam penganalisisan gaya bahasa adalah sebagai berikut:

Ø Penggarapan bahasa atau gaya bahasa drama merupakan cara yang sebaik-baiknya untuk menyampaikan informasi penokohan, peristiwa, dan motif, latar, ruang dengan memanfaatkan kelebihan dan kekurangan bahasa tulisan sebagai medium teks drama.



Ø Perbedaan watak tokoh akibat tuntutan peran tokoh yang berbeda, harus dibedakan oleh gaya bahasa.

BAB II

PEMBAHASAN



A. Sinopsis Drama “Pelik”

Drama ini mengisahkan tentang suatu keluarga yang kaya raya. Sang suami bekerja kantoran, istri hanya seorang ibu rumah tangga yang gaul, mewah dan gayanya tidak pernah ketinggalan zaman, dia selalu mengikuti trend masa kini. Tapi di samping kemewahan itu semua mereka mempunyai seorang anak perempuan yang cacat. Mereka tidak pernah mengakui bahwa dia adalah anak mereka. Karena anak cacat tersebut selalu ikut dengan pembantunya kemanapun ia pergi, maka orang-orang pun menganggap anak itu adalah anak si pembantu tersebut.

Pada suatu ketika ketika sang suami sudah berangkat kerja, datanglah seorang perempuan bertamu ke rumah mereka. Yang mana perempuan ini adalah salah satu teman dari si istri tadi. Dia hendak bermaksud menawarkan gelang, kalung, dan cincin emas trend terbaru supaya si istri kaya raya ini membelinya. Setelah lama bercakap-cakap dan tawar menawar tiba-tiba anaknya yang cacat keluar sambil memanggil mamanya yang diikuti dengan pembantunya yang bermaksud untuk mengejar si anak cacat tersebut. Lalu tiba-tiba sang ibu pun memarahi pembantunya dengan mengatakan : “kamu apakan anakku bi ? “

Mendengar kalimat tersebut tamunya pun telah mengetahui bahwa anak tersebut adalah anak dari temannya yang kaya raya ini. Lalu dia berkata begini : “jadi kamu telah menipu kami selama ini ?” mendengar hal tersebut ibu dari anak cacat tersebut bingung dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

Melihat kebingungan tersebut si pembantu angkat bicara, dia mengatakan bahwa teman dari majikannya juga adalah seorang penipu. Dia telah menjual perhiasan-perhiasan yang palsu kepada majikannya. Mendengar hal tersebut majikannya pun marah dan mengambil pisau begitu juga dengan temannya turut mengambil pisau dan mereka saling berkelahi. Lalu tiba-tiba si penjual emas palsu menangkap si anak cacat dan hendak membunuhnya. Tetapi sang ibu berusaha menyelamatkan anaknya walaupunpada akhirnya dia yang terbunuh. Melihat kejadian tersebut si pembantu mengambil tindakan dia mengambil pisau dan menusuk si penjual emas palsu tersebut dari belakang dan ikut meninggal bersama teman yang dibunuhnya. Melihat kejadian tersebut sang suami hanya bisa menangis dan pasrah pada Tuhan. Sekarang dia hanya mempunyai anaknya yang cacat, tapi walaupun cacat dia selalu menyayangi anaknya tersebut.



B. Analisis objektif drama “pelik”



1. Tema

Esten (1978 : 22) mengemukakan bahwa tema adalah sesuatu yang menjadi pemikiran, sesuatu yang menjadi persoalan bagi pengarang. Yang menjadi tema dalam drama ini adalah keluarga yang mana menceritakan tentang suatu keluarga yang malu mengakui anaknya yang cacat.

2. Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita (Sudjiman, 1991: 16). Tokoh-tokoh dalam drama ini adalah Mat Kontan, Paijah, Soleman, Utai dan Tukang Pijat. Berdasarkan fungsinya, tokoh dapat dibedakan menjadi tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral dapat dibagi menjadi tokoh protagonis, antagonis, dan wirawan atau wirawati.

Adapun tokoh-tokoh drama ini adalah :

a. Suami yang merupakan salah satu tokoh protagonis dalam drama tersebut karena walaupun anaknya cacat dis selalu menyayanginya.

b. Istri, disini pada awalnya tokoh istri merupakan tokoh yang antagonis karena dia tidak mau mengakui anaknya yang cacat. Tetapi pada bagian akhir drama tokoh ini menjadi protagonis karena dia berusaha menyelamatkan anaknya dari ancaman temannya sendiri.

c. Anak cacat adalah tokoh yang protagonis.

d. Pembantu, dalam drama ini tampak jelas bahwa tokoh pembantu dalam drama ini adalah tokoh protagonis. Contohnya : pada saat adegan tokoh pembantu mengungkapkan kejahatan teman majikannya.

e. Penjual perhiasan palsu (teman tokoh istri), sudah tampak jelas dalam semua adegannya tokoh ini adalah tokoh yang antagonis. Tokoh ini berusaha menipu teman-temannya dengan menjual pehiasan-perhiasan palsu dengan harga yang sangat tinggi, selain itu dia juga membunuh temannya sendiri.





3. Alur

Alur adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain dihubungkan dengan hukum sebab-akibat (Sumardjo, 1994: 139). Alur merupakan salah satu aspek penting dalam drama karena alur merupakan pembentuk kerangka cerita. Aristoteles bahkan menyatakan bahwa alur adalah roh drama (Sumardjo, 1994: 141). Alur dalam drama ini adalah alur maju. Terlihat jelas tahapan-tahapannya yaitu pengenalan tokoh, munculnya konflik, puncak masalah, dan penyelesaian masalah.

4. Latar

Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya yang membangun cerita (Sudiman dalam Teeuw, 2003: 44). Latar dibedakan atas dua macam yaitu latar sosial dan latar fisik atau material (Hudson dalam Teeuw, 2003: 44). Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, dan bahasa. Latar fisik adalah tempat di dalam wujud fisiknya, yaitu ruang, bangunan, lokasi dan sebagainya. Yang menjadi latar dari drama ini adalah rumah keluarga kaya tersebut.

5. Amanat

Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam sebuah karya sastra. Adapun yang menjadi amanat atau pesan moral dari drama ini adalah jangan lah sesekali kita malu mengakui sesorang yang kita kenal apalagi itu adalah anak kita apapun kekurangannya. Karena sejelek apapun ataupun sebanyak apapun kekurangan kita dia adalah tetap darah daging kita sendiri.
[baca selengkapnya..]

Latar Belakang Masalah Tentang Metode Belajar

Saat ini banyak terdapat berbagai macam metode mengajar guru yang diterapkan dalam proses kegiatan pembelajaran. Dari macam-macam metode mengajar ini membawa pengaruh yang sangat besar dalam keberhasilan seorang guru dalam menyampaikan materi yang diberikannya. Apakah siswa yang diajarkannya dapat menerima materi yang disampaikannya dengan baik atau tidak. Karena pengertian dari metode mengajar tersebut adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktivitas yang dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan dengan baik dalam arti tujuan pembelajaran dapat tercapai. Agar tujuan pengajaran tercapai sesuai dengan yang telah dirumuskan oleh pendidik, maka pendidik harus mempelajari macam-macam metode mengajar serta dapat dipraktekkan pada saat mengajar sesuai dengan jenis metode mengajarnya dan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

Dalam metode mengajar, ada berbagai macam metode yang harus diketahui oleh seorang pendidik yaitu : 1) metode ceramah (preaching method) yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif ( Muhibbin Syah, 2000). 2) metode diskusi (Discusssion method) adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah atau sering disebut problem solving. 3) metode demonstrasi (demonstration method ) adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran ( Syaiful Bahri Djamarah, 2000). 4) metode percobaan ( Experimental Method) adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. ( Syaiful Bahri Djamarah, 2000). 5) metode karya wisata adalah suatu metode mengajar yang haarus dirancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan didiskusikan bersama dengan peserta didik yang lain yang kemudian dibukukan ( Suhardjono (2000:85) ).

Dilihat dari jenis-jenis metode mengajar diatas yang menuntut guru agar dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik dan dapat memperkecil kemungkinan tidak tercapainya tujuan pembelajaran tersebut maka tenaga pendidik harus bisa menyesuaikan meteri pembelajaran dengan materi ajar yang tepat. Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa adalah kompetensi dalam kerajinan menyulam, karena kerajinan menyulam ini menurut kurikulum SMP tahun 2006 memiliki alokasi waktu yang berjumlah 90 menit dalam 1 x pertemuan. Dengan demikian siswa diharapkan menguasai materi teknik menyulam sperti alat-alat yang diperlukan saat menyulam, bahan yang diperlukan saat menyulam, dan macam-macam tehnik menyulam.

Pada pelajaran ini siswa diharapkan mampu mengaplikasikan semua teori yang ingin dicapai dalam praktek. Dalam pembelajaran, guru membimbing siswa untuk dapat menguasai sejauh mana kreatifitas siswa dalam materi ajar tehnik menyulam ini dengan teori yang telah diberikan serta dapat mengidentifikasi jenis-jenis teknik menyulam. Penguasaan siswa terhadap kompetensi tersebut dapat dilihat dari hasil belajar yang diperoleh. Dimana hasil akhir dari materi ini siswa diharapkan mampu menjadikan sebuah benda yang tadinya biasa saja menjadi benda yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari sebelunya. Hasil belajar yang rendah mungkin dikarenakan kurangnya penguasaan siswa akan materi tehnik menyulam ini yang disebabkan karena tenaga pendidiknya yang salah dalam menggunakan metode mengajar yang dirasa tidak sesuai dengan materi yang diberikan
[baca selengkapnya..]

Sejarah Tenis Meja

Sejak mulai dikenal sampai sekarang, masih belum ada yang dapat memastikan kapan tenis meja lahir, sejarah mencatat pada tahun 1880 para militer inggris sering menggunakan tutup kotak cerutu sebagai bat dan tutup botol anggur sebagai bola dan setumpuk buku dijadikan meja untuk bermain. Mungkin dari sini cikal bakal tenis meja bermula.

Menurut A.M. Bandi utama, R. Sunardiyanto, dan Soni Nopembri (2004: 5), “pada dasarnya bermain tenis meja adalah kemampuan menerapkan berbagai kemampuan dan keterampilan teknis, fisik, dan psikis dalam suatu permainan tenis meja”. Permainan tenis meja adalah suatu permainan dengan menggunakan fasilitas meja dan perlengkapannya serta raket dan bola sebagai alatnya. Permainan ini diawali dengan pukulan pembuka(service) yaitu bola dipantulkan dimeja sendiri lalu melewati atas net lalu memantulkan dimeja lawan, kemudian bola tersebut dipukul melalui atas net harus memantulkan kemeja lawan sampai meja lawan tidak bisa mengembalikan dengan sempurna. Pemain berusaha untuk mematikan pukulan lawan agar memperoleh angka dari pukulan.

Menurut Chairuddin Hutasuhud (1988: 4) tenis meja adalah suatu jenis olahraga yang dimainkan di atas meja di mana bola dibolak-balikan segera dengan memakai pukulan. Permainan tenis meja boleh dimainkan dengan ide menghidupkan bola selama mungkin dan boleh juga dimainkan dengan ide secepat mungkin mematikan permainan lawan, tergantung dari tujuan permainan sendiri.

Dari beberapa pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa permainan tenis meja adalah suatu permainan dengan menggunakan meja sebagai tempat untuk memantulkan bola yang dipukul dengan menggunakan raket diawali dengan pukulan pembuka (service) harus mampu menyeberangkan bola dan mengembalikan bola ke daerah lawan setelah bola itu memantul di daerah permainan sendiri. Angka diperoleh apabila lawan tidak dapat mengembalikan dengan baik.

Tujuan permainan tenis meja adalah berusaha untuk menjatuhkan bola di daerah permainan lawan secepat mungkin dan berusaha agar lawan tidak dapat mengembalikan bola ke daerah permainan kita lagi. Pada saat permainan berlangsung, masing-masing pemain harus berusaha agar bisa mengembalikan bola kembali ke daerah permainan lawan. Apabila bola jatuh ke daerah permainan lawan dan tidak bisa dikembalikan atau meyangkut ke net, maka permainan terhenti.

Negara asal tenis meja yang sebenarnya tidak diketahui. Olahraga ini dimulai kira-kira tahun 1890-an sebagai permainan pendatang dan menyebarkan keranjingan akan olahraga ini di seluruh kota dan tidak lama kemudian menghilang. Tenis meja kemudian populer kembali pada tahun 1902-an dan klub-klub bermunculan di seluruh dunia. Namun aslinya, ping-pong adalah dari nama merk dagang parker Brothers, dari ping-pong diubah menjadi tenis meja. Federasi tenis meja internasional (ITTF) didirikan pada tahun 1926. Asosiasi tenis meja Amerika serikat (USTTA) didirikan pada tahun 1933. Sebagai permainan pendatang, olahraga ini sering dimainkan dengan bola yang terbuat dari kayu berlapiskan getah karet mulai digunakan. Ini adalah bet getah karet yang pertama dan jenis yang paling populer hingga tahun 1950.

Pada tahun 1952, seseorang pemain dari jepang yang relatif tidak terkenal bernama Hiroje satoh menunjukan jenis bet yang aneh pada kejuaraan dunia. Betnya terbuat dari kayu yang dilapisi dengan selembar pons tebal. Dengan mudah dia memenangkan pertandingan tersebut dan sejak saat ini terjadi perubahan dalam dunia tenis meja. Selama 10 tahun berikutnya, hampir seluruh permainan top mengganti betnya. Ada dua tipe yang dikembangkan yaitu: interved dan pip-out. Tipe interved memungkinkan pemain untuk melakukan pukulan berputar yang lebih jauh biasanya, dan kedua tipe ini membuat serangan dan serangan balik lebih mudah dilakukan. Amerika, yang mengusai tenis meja hingga saat ini (urutan pertama pada kejuaraan dunia tahun 1952 adalah Marty reisman dari Amerika), lambat membuat perubahan dan pada tahun 1960-an hampir menjadi juru kunci dari peringkat dunia. Pada awal tahun 1960-an, pemain-pemain mulai menyempurnakan permaian dengan bet dari spons. Pertama mereka mengembangkan pukulan putar (pukulan topspin yang keras) dan tak lama kemudian pukulan ini menjadi tipe yang paling populer.

Untuk dapat bermain tenis meja dengan baik dan benar, seorang pemain harus menguasai teknik-teknik pukulan, Pada dasarnya ada dua teknik memukul dalam tenis meja yaitu forehand dan backhand, pukulan forehand adalah pukulan topspin yang agresif dianggap penting dengan tiga alasan pertama, anda memerlukan pukulan ini untuk menyerang, kedua, pukulan ini bisa menjadi pukulan utama untuk melakukan serangan, ketiga, pukulan ini yang paling sering digunakan dalam permainan dan lebih kuat dari pada backhand.

”Pukulan forehand memiliki keunggulan pada kerasnya laju bola sedangkan pukulan backhand akan mempermudah untuk menghadapai pukulan backspin dan topspin, kedua teknik memukul ini mendasari berbagai jenis pukulan. Pukulan forehand dilakukan jika bola berada disebelah kanan tubuh. Cara melakukan pukulan ini adalah dengan merendahkan posisi tubuh, Lalu gerakkan tangan yang memegang bet kearah pinggang (bila tidak kidal gerakan kearah kanan), siku membentuk sudut kira-kira 90o derajat. Sekarang tinggal menggerakkan tangan kedapan tanpa merubah siku. Sedangkan pukulan beckhand disebelah kiri badan. Cara melakukannya pertama rendahkan posisi tubuh lalu gerakkan tangan kearah pinggang sebelah kiri jika tidak kidal, dengan sudut siku sembilan puluh derajat. Gerakkan tangan dan bet kearah depan, jaga siku agar tetap sembilan puluh derajat dan bet tetap lurus”.

Ada beberapa jenis stroke(pukulan) yang dikenal dalam olahraga tenis meja, tidak kurang pula berbagai bentuk pukulan yang hampir serupa namun mempunyai nama yang berbeda. “Jenis- jenis pukulan dalam permainan tenis meja yaitu drive, push, block, smash, hit, servis, servis return, loop, side slip shot, smash, half-volley, drop shot, short cut, long cut, lobbin, flick . Salah satunya adalah pukulan forehand drive yang baik memungkinkan seorang pemain mampu menciptakan poin. Oleh karena itu gerakan forehand drive memiliki peranan yang sangat penting dan tidak dapat dikesampingkan.

Tenis meja adalah suatu jenis permainan yang menggunakan meja sebagai tempat untuk memantulkan bola oleh seorang pemain dan bola yang dipukul tersebut harus melewati net atau jaring yang dipasang ditengah-tengah meja. Bola yang dipukul dan melewati net harus memantul pada meja pihak lawan, baru bola tersebut dapat dikembalikan. Dengan demikian bola berjalan bolak-balik melewati atas net atau jaring yang dipukul seorang bergantian dan memukulnya harus memantul pada permukaan meja, jadi bola tidak boleh divoli.
[baca selengkapnya..]

Hakikat Pembelajaran Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik dan kesehatan untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam bentuk fisik, mentel, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, dari pada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.

Pada kenyataannya, pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sungguh luas. Titik perhatiannya adalah peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, penjas berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya. Fokusnya pada pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan aspek lain dari manusia itulah yang menjadikan unik. Tidak ada bidang tunggal lainnya seperti pendidikan yang berkepentingan dengan perkembangan dengan perkembangan total manusia.   sukintaka (2004 :16), memberi batasan tentang pendidikan jasmani yaitu, “pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan total yang mencoba mencapai tujuan untuk menggembangkan kebugaran jasmani, mental, sosial serta emosional bagi masyarakat, dengan wahana aktivitas jasmani”.

Arma abdullah, (2001 : 13) menyatakan “pendidikan jasmani adalah pendidikan yang mengaktulisasikan potensi-potensi aktivitas manusia berupa sikap, tindakan, karya yang diberi bentuk, isi dan arah menuju kebutuhan pribadi sesuai dengan cita-cita kemanusiaan”. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, pendidikan jasmani adalah suatu bagian dari pendidikan keseluruhan yang mengutamakan aktivitas jasmani dam pembinaan hidup sehat untuk pertumbuhan dan pengembangan jasmani, mental, sosial, serta emosional yang serta, selaras, seimbang. Fungsi dan tujuan pengajaran pendidikan jasmani merupakan media atau sarana perolehan keterampilan dan pengembangan yang bersifat jasmanilah yang juga diharapkan melalui pendidikan jasmani siswa disosialisasikan kedalam aktivitas jasmani termasuk ketempilan olahraga.



Nixon and Cozens, (1963:51 ) Mengemukakan bahwa pendidikan jasmani didefinisikan sebagai fase dari seluruh proses pendidikan yang berhubungan dengan aktivitas dan respons otot yang giat dan dan berkaiatan dengan perubahan yang dihasilkan individu dari respons tersebut.

Dauer dan pangrazi, (1989:1 ) Mengemukakan bahwa pendidikan jasmani adalah fase dari program pendidikan keseluruhan yang memberikan kontribusi, terutama melalui pengalaman gerak, untuk pertumbuhan dan perkembangan secara utuh untuk tiap siswa.

Menurut UNESCO, pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistemanik melalui berbagai kegiatan jasmani, dalam rangka memperoleh peningkatan kemampuan dan keterampilan jasmani pertumbuhan kecerdasan dan pembentukan watak.

Dari banyak pendapat tentang pegertian pendidkan jasmani dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan melalui suatu aktivitas jasmani yang didesain untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara organik, neoremascular, perseptual, kognitif dan emosional dalam kerangka sistem pendidikan nasional.

2. Hakikat Hasil Belajar Siswa

Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat. Bagi para pelajar atau mahasiswa kata “belajar” merupakan kata yang tidak asing. Bahkan sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua kegiatan mereka dalam menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal. Kegiatan belajar mereka lakukan setiap waktu sesuai dengan keinginan. Entah malam hari, siang hari, sore hari, atau pagi hari.

Tinggi rendahnya kualitas suatu model pembelajaran dipengaruhi hasil belajar siswa dan dapat juga dilihat dari cara belajar siswa tersebut. Jika faktor ini dapat diatasi kemungkinan keberhasilan siswa semakin baik khususnya hasil belajar. Perubahan yang terjadi dalam proses belajar mengajar adalah hasil pengalaman atau praktek yang dilakukan dengan sengaja atau disadari. Proses yang dialami sekurang-kurangnya terjadi perubahan dalam diri siswa seperti penambahan pengetahuan, sikap dan keterampilan.

Burton 1 (1962: 13 ) belajar adalah suatu perubahan dalam diri individu sebagai hasil interaksinya dengan lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan dan menjadikannya lebih mampu melestarikan lingkungannya secara memadai.

James O. Whittaker, misalnya, merumuskan belajar sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.

Cronbach berpendapat bahwa learning is shown by change in behavion as a result of experience. Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Howard L. Kingskey mengatakan bahwa belajar adalah proses di mana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.

Drs. Slameto juga merumuskan pengertian tentang belajar. Menurutnya belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar yang dikemukakan di atas dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Gerak raga yang ditunjukan harus sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan perubahan. Tentu saja perubahan yang didapatkan itu bukan perubahan fisik, tetapi perubahan jiwa dengan sebab masuknya kesan-kesan yang baru. Dengan demikian, maka perubahan fisik akibat sengatan serangaa, patah tangan, patah kaki, buta mata, tuli teliga, penyakit bisul, dan sebagainya bukanlah termasuk perubahan akibat belajar. Oleh karenanya, perubahan sebagai hasil dari proses belajar adalah perubahan jiwa yang mempengaruhi tingkah laku seseorang.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.
[baca selengkapnya..]