Antara Sebuah Kelahiran dengan Rejeki

Oleh S. Bekti Istiyanto, S.Sos

Setiap orang tua pasti berharap dianugerahi keturunan. Karena bagaimanapun, terciptanya anak-anak merupakan salah satu tujuan perkawinan. Kalau saja setelah sekian tahun perkawinan dan belum berputra seringkali para orang tua dihinggapi perasaan was-was dan berusaha sekuat tenaga –bahkan segala cara yang dianggap baik tentu- untuk bisa berketurunan. Maka sungguh aneh jika ada pasangan orang tua yang justru menunda kelahiran anaknya sedangkan pada kondisi yang lain, banyak sekali orang tua yang telah menikah lebih dari tiga bahkan lima tahun yang belum diberi keturunan. Semoga Allah menguatkan kesabaran dan memberikan keturunan seperti yang mereka harapkan. Amin.

Menjadi seorang ayah buat saya merupakan sebuah kejadian yang beraneka rasa dalam hati. Ada rasa syukur akan diberi amanah baru, sedikit panik atau mungkin sedikit ketakutan kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, ketidak tenangan karena proses menunggu, keharuan yang mendalam bahkan sampai memunculkan tangis, kesedihan melihat penderitaan istri dan selalu berharap kalau saja bisa sedikit dibagi penderitaan itu kepada kita para suami, kebanggaan karena akan menjadi ayah (lagi) dan mungkin segala rasa lain yang sulit terungkap lewat tulisan ini. Saya tahu, kunci melewati semua ini tentu saja dibutuhkan keikhlasan dan ketawakalan yang penuh kepada Allah, namun sebagai manusia biasa tentu munculnya hal-hal tersebut adalah sebuah kewajaran.

Setiap lahirnya anak saya, terasa sekali perbedaan kenangan dan kesan yang muncul. Masing-masing membawa ‘cerita’ yang mampu mengembalikan betapa kekuasaan Allah sangatlah besar dari tiap kejadian sebuah proses kelahiran anak saya. Kelahiran pertama diwarnai dengan banyak pembelajaran dan pencerahan buat saya dan istri. Dengan kondisi kami berdua yang seadanya, istri masih kuliah dan masih sedikitnya ma’isyah yang kami dapatkan, ternyata kami mendapat banyak rejeki lain dari Allah. .Alhamdulillah, sebelum kelahiran kami termasuk yang mendapat hadiah periksa dokter kandungan dan USG gratis waktu itu, karena kehamilan anak pertama di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung. Hamilnya istri juga disambut dengan luapan tangis kebahagiaan masing-masing dua orang tua kami karena kebetulan hamilnya istri tersebut merupakan calon cucu pertama keluarga besar kami. Bahkan, orang tua istri sampai empat bulan kehamilan istri saya mengkhususkan berdoa semoga diberi keturunan perempuan sebagai anak pertama kami dan sekaligus cucu pertama mereka.

Ujian itu muncul ketika hitungan dokter dan bidan tentang waktu lahir ternyata lebih dari perkiraan normal 9 bulan 10 hari sejak haid terakhir istri saya. Bahkan kami sempat menghitung waktu hamil tersebut sampai lebih dari 10 bulan. Terakhir kami periksa ke dokter kandungan dan disarankan untuk segera dilahirkan karena kalau terlalu lama akan menimbulkan kesulitan dan masalah baru, apalagi berat badan istri naik sampai 20 kg. Atas saran itu, kami akhirnya memilih melahirkan di bidan terdekat saja. Disinilah ujian itu terasa, proses melahirkan diwarnai mulas yang amat sangat diringi muntah dan tidak mau makannya istri saya. Di kamar bersalin sendiri, dari masuk jam 17.30-23.00 WIB diakhiri dengan tidak kuatnya istri saya karena kehabisan tenaga. Melihat itu, saya justru diminta tidak berada di dalam ruang itu oleh mertua dan disuruh agar memperbanyak doa dan tilawah Qur’an saja tanpa harus menunggui secara langsung. Padahal menunggui kelahiran ini telah saya nantikan sejak mendapat kabar hamilnya istri saya. Saya selalu membayangkan berada di samping istri dan menyaksikan langsung lahirnya buah hati kami dalam proses menjadi seorang ayah yang pertama kali. Puncaknya ketika bidan menyerah karena air ketuban sudah lama pecah tapi belum juga keluar bayi kami. Akhirnya, diputuskan untuk dibawa ke rumah sakit dan segera diambil tindakan secepatnya. Malam itu diringi gerimis akhir bulan Desember 1997, di kota sekecil Sumedang jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mendapatkan mobil pinjaman, tapi sekali lagi Allah adalah Maha Memudahkan segala urusan. Begitu urusan mobil diselesaikan dan sambil menunggu sebuah operasi caesar seorang ibu yang mendahului kami masuk rumah sakit, lahirlah bayi putri calon jundiyah pertama kami sebesar 3,7 kg yang kami beri nama Rumaisha Hanifah Mubarakah. Mengambil ibrah sahabiyah Ummu Sulaim yang lurus memegang aqidah bahkan menjadikan dasar keIslaman sebagai mahar pernikahannya. Rejeki lain yang diberikan Allah secara langsung adalah diterimanya saya sebagai dosen di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Sehingga orang tua saya sering menyebut sebagai rejeki anak, maka tidak boleh nantinya saya mengabaikan Hani –begitu biasa dipanggil- anak kami yang pertama. Naudzubillah.

Kelahiran anak kedua saya pada bulan Juli 2000 berbeda dengan yang pertama, bahkan bisa dikatakan sangat mudah. Saya sendiri sedang membina pengajian mahasiswa di rumah saat istri merasakan mulas. Biasanya pengajian selesai kurang lebih jam 23.00 WIB tapi karena dari kamar istri sudah memberi tanda, akhirnya diselesaikan jam 21.30 WIB. Begitu tiba di bidan tidak sampai setengah jam lahirlah anak kedua seorang calon mujahid dengan berat 3,5 kg yang kami beri nama Abdurrahman Al Fayyad Mubarak mengambil ibrah kedermawanan Abdurrahman bin Auf sahabat Nabi yang termasuk 10 orang dijanjikan masuk surga sekaligus seorang konglomerat Islam yang terkenal. Rejeki yang nyata-nyata besar dirasakan adalah saat kehamilan istri sempat mendambakan sebuah tanah kecil yang bisa ditempati atas nama sendiri tidak harus menjadi kontraktor terus. Ternyata menjelang kelahiran kami bukan hanya sekadar mendapat tanah kecil tapi sekaligus rumah yang kami oper kredit sendiri di sebuah perumahan terletak persis di depan kampus tempat saya kerja. Tentu saja tidak ada hal lain yang kami lakukan kecuali mensyukurinya. Allah memang sungguh-sungguh kaya.

Proses menunggui kelahiran ketiga, kami merasa sudah mendapat pengalaman yang berharga bagaimana mempersiapkan sebuah kelahiran. Meskipun begitu tetap saja proses kelahiran adalah sebuah aktifitas yang mendebarkan hati, sebuah sport jantung tersendiri. Bagaimana tidak, saat tepatnya hari perkiraan lahir (HPL) justru belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Sehingga saya masih tetap tenang saja melakukan aktifitas kampus dan dakwah seperti biasa. Bahkan saat siang hari kurang lebih jam 14.00 WIB bulan Juni lalu, tetangga menelepon kalau istri sudah mulas-mulas, saya malah sadang berbelanja peralatan untuk laboratorium komunikasi grafis bersama asisten lab jurusan. Segera tentengan belanjaan peralatan itu saya titipkan dan koordinasi kecil dengan tetangga langsung dilakukan, karena nggak mungkin kami bawa ke bidan dengan membawa anak-anak kami yang lain.

Ternyata proses sulitnya melahirkan kembali terjadi. Menurut bidan, ini disebabkan besarnya sang bayi. Kami bahkan dibantu dengan tiga orang bidan untuk mendorong lahirnya bayi kami tersebut. Akhirnya, dengan berat 4,5 kg –sebuah berat yang sangat besar untuk ukuran bayi normal- saya bisa menunggui dan menjadi saksi lahirnya kembali seorang calon mujahid kami yang ketiga, yang kemudian diberi nama Abdullah Al Asad Mubarak yang kami harap menjadi singa dalam jihad fi sabilillah dari ibrah sahabat Abdullah ibnu Rawahah dan Abdullah ibnu Zubeir dan dalam menjaga Al Qur’an seperti sahabat Abdullah ibnu Mas’ud. Amin. Lahirnya jundi kami ketiga ini dibarengi dengan banyaknya rejeki yang dulu tidak kami bayangkan untuk mempunyai. Banyak tamu dan saudara yang memberi hadiah yang hampir-hampir susah untuk dibalas kecuali sebuah doa tulus atas pemberian mereka. Kami dianugerahi rejeki Allah lewat tangan-tangan mereka dengan bentuk mesin cuci, lemari, kasur plus dipannya dan sekian peralatan bayi yang sangat lengkap. Sekali lagi tidak ada kata lain kecuali bersyukur dan memanjatkan doa semoga mereka dilipat gandakan rejekinya oleh Allah.

Menunggui proses kelahiran anak-anak ternyata membawa sebuah nilai ruhiyah yang sangat dalam untuk jiwa saya. Terkumpul disana sebuah keikhlasan, ketawakalan dan rasa syukur yang tertuju lebih kepada Allah. Orang bilang inilah sebuah kesejatian yang paling nyata dalam menjadi seorang ayah. Saya yakin, ini bukanlah sebuah akhir dari kesejatian tapi justru sebagai langkah awal kesejatian itu sendiri. Karena menurut saya, kesejatian murni seorang ayah bukanlah diukur dengan bisa sekadar punya anak atau tidak, tapi harus ditandai dengan pemahaman dan tanggung jawab akan masalah-masalah yang muncul setelahnya, seperti : pendidikan, perawatan, perhatian dan kasih sayang serta pemenuhan hak-hak anak secara utuh sesuai dengan aturan Allah. Karena sekali lagi anak sebenarnya adalah titipan amanah bahkan ujian dariNya.

Akhirnya, saya selalu berdoa dan terus berusaha agar bisa selalu menjadi ayah yang baik buat anak-anak saya, bukan hanya sekadar konsep tapi juga untuk menjadi teladan. Meskipun seringkali kuantitas pertemuan itu tidaklah mudah dimanagenya dengan sekian aktifitas dan beban yang saya sandang selama ini. Saya anggap ini adalah sebuah janji dari hati yang terdalam. Ya Allah, kuatkanlah kami semua dengan amanah anak-anak kami yang Engkau berikan dan janganlah itu menjadi keburukan yang akan menjadi fitnah di hadapanMu kelak. Ya Allah, limpahkanlah kami kesabaran yang tak terbatas dan pemahaman yang mendalam untuk menjadikan amanahMu, anak-anak kami agar menjadi kebanggaan kami orang tuanya di akhiratMu nanti. Masukkanlah kami semua sebagai keluarga orang-orang yang sholeh, yang istiqomah, yang ikhlas dan berjihad di jalanMu sampai kematian kami menjemput, Ya Allah, karena kami yakin Engkaulah Maha Pengabul segala doa. Amin ya rabbal ‘alamin

====
[baca selengkapnya..]

Pengertian dan Pentingnya definisi

Seringkali kita melihat adanya suatu dilema dalam suatu bahasa dalam masyarakat, yang kandas begitu saja di pinggiran pantai kehidupan kompleks manusia yang selalu ingin maju walau tanpa terarah. Kemudian dengan sangat tragis masyarakat berlomba untuk mengekskusi, menginjak-injak dan melaluinya, walaupun tak ada bahtera untuk menyelamatkan mereka. Katakanlah dilema manusia. Anehnya dilima tersebut datang dari para tokoh dan pakar masyarakat itu sendiri, yang dengan susah payah mereka renungkan sebelum kemudian dicetuskan dan menjadi dilema. Tak jarang keringat kuning menghujan, atau bahkan rambut bagus mereka pun mulai bosan menemani mereka dalam usaha-usahaitu. Lalu....., siapa yang salah? Para pakarkah yang kurang bertanggung jawab pada agama, etika ilmiah dan bangsa, yang biasanya hanya memperindah makalahnya dengan kata-kata istilah tetapi tidak dengan mutu bahasannya, ataukah masyarakat yang suka mengekskusi karena dianggap dilema itu tidak penting, walaupun tak jarang mereka terombang ambing karenanya? Kemudian tak adakah rasa kasih yang hakiki – bukan semu – untuk menyelamatkah bangsa tercinta dari kerancuan pengetahuan pandangan tentang sejarah, akhlak, agama dan lain-lain? Kasih yang tak dibangun di atas pondasi kepentingan pribadi ddan golongan? Atau di atas pondasi kefanatikan yang buta?

Kami berharap para pakar kita dapat menyadari dan merenungi pertanyaan yang dipaksakan itu. Dan bagi generasi muda sejaman kami, kami harap untuk menyatukan langkah dan hidup bersatu untuk lebih lagi membangun bangsa besar kita, Indonesia.

Kebanyakan penyebab timbulnya dilema yang mengenaskan itu adalah ketidak jelasan batasan ( definisi ) pada setiap pembahasan, yang kemudian muncul sebagai dilema. Maksud kami bukanlah menolak adanya batasan pada kebanyakan dilema, tetapi kami menolak batasan yang kabur atau sangan tendensius pada setiap permasalahan.Mialnya definisi budaya, sosial, kebebasan, hak, plitik, filsafat, logika, modern, kuno ilmiah, agama, aqidah, syirik, musyrik, muslim, mukmin, qadim, hadits, adil, zat, sifat, tauhid, kafir, ma'shum, mukjizat, kerammat, ilham, Islam, mazhab, taqlid, ahli sunnah, ahli wajib, jama'ah, qur an, hadits, furu', bid'ah, dhalah, ijtihad, akhlak, tawadhu, sombong, ibadah, persatuan, ulama kyai, dan seterusnya, baik yang menyangkut budaya, sains, agama dan lain-lain. Sungguh tidak jarang keindahan nama dan kata telah banyak mempesona, sehingga masyarakat bahkan para pakarberlomba membuang permata indah yang dimiliki atau yang mesti dicapai dan menggantikannya dengan keindahan semu yang ada pada simbol-simbol penghias yang tak bertulang, dan dengan cara yang sadistis telah memasukkannya ke dalam alam idelis mereka. Sehingga mereka merasa gagah dan bangga dikatakan modernis, intelek dan semacamnya, walaupun hanya sebatas bahasa. Begitu pula mereka merasa rendah hati dan minderdikatakan sebagai orang kolot, santri, kuno, dan tidak modern. Sungguh di luar dugaan, bangsa, agama, akidah, ilmu pengetahuan, yang kesemuanya itu adalah sangat mahal bagi kehidupan mmanusia, dapat ditukar hanya dengan keindahan kata yang semu, semacam sosial, modernis, intelek, cendekiawan dan sebagainya.

Akhirnya, mudah-mudahan promosi yang mengutamakan kwantitas dan keduniaan, yang tidak mengutamakan kwalitas dan tanggung jawab dunia-akhirat tersebut akan segera berakhir, demi kita, keluarga, anak cucu dan bangsa tercinta. Dan mudah-mudahan ppelajaran definisi ini dapat membantu – walaupun sekedarnya – untuk itu amin.


Ringkasnya


Supaya kita dapat menguasai ucapan, pena dan pikiran kita, kita harus mengetahui pembagian, syarat-syarat, asas dan aturan-aturan definisi sehingga:

1. Sesuatu yang dibahas selalu nampak jelas dalam akal kita.

2. Memberitahukan dengan benar dan jujur pada selain kita

3. Selain untuk mengetahui yang belum kita ketahui, pengetahuan tentang definisi ini juga untuk mmembuka dan merinci sesuatu yang kita ketahui secara global seperti manusia, syirik, bid'ah dan lain-lain. Oleh karena itu definisi yang banyak dipakai untuk definisi ( definisinya definisi ) adalah "kumpulan dari pengetahuan gambaran ( concept ) yang menerangkan gambaran yang belum diketahui  atau yang merinci gambaran yang sudah diketahui".

Pembagian Definisi

Sebagaimana maklum, definisi adalah menerangkan sesuatu yang belum diketahui atau merinci yang sudah diketahui. Pada awalnya, definisi bertujuan mmemberikan gambaran penuh sesuai dengan hakekat sesuatu yang didefinisikan sehingga sesuatu tersebut tergambar dengan jelas, dan juga membedakannya dari seesuatu yang lain dengan pembedaan yang penuh atau sempurna sehingga ia nampak berbeda dari yang lain. Kedua tujuan awal tersebut tidah dapat dipenuhi kecuali dengan menerangkan at-zat yang dimilikinya. Kalau hal itu tidak bisa dilakukan - karena sulit, misalnya – maka kita cukup mebedakannya saja dari yang lain. Hal ini bisa kita lakukan dengan hanya menyebut satu zat, zat dicampur sifat khusus, sifat khusus dan sebagainya.

Deengan demikian, pada garis besarnya ada dua cara dalam mendefinisikan sesuatu. Pertama, adalah dengan zatnya. Definisi ini disebut batasan ( had, limid, term of syllogism ). Kedua, adallah dengan sifatnya atau sifat dan zatnya. Definisi ini disebut gambaran ( rismun, descriptive defunisition, imprint ). Dan pada masing-masing cara terbagi menjadi dua, lengkap dan kurang.



1- Definisi Dengan Batasan Lengkap ( Had Al-Tam, Perfect Definition )

Definisi dengan batasan-lengkap adalah "Suatu definisi yang menunjukkan hakekat dan esensi sesuatu yang didefinisikan ( Defined )"

Dengan demikian definisi dengan batasan-lengkap harus menckup seua zat-zat yang dimiliki, Yaitu yang menjadi asas bagi essensi yang didefinisikan ( defined), karena ia merupakan perinciannya. Seperti "binatang rasional", substansi yang bisa menerima tiga dimensi: Panjang, lebar dan tinggi; dan "bentuk yang mempunyai tiga sisi", yang masing-masing sebagai definisi manusia, benda san segitiga.

Definisi yang menyebut zat-zt yang dimiliki oleh yang didefinisi bukanlah hal yang mudah. Sebab bisa jadi sifat lazim ditempatkan sebagai jenis, jenis jauh sebagai jenis dekat atau sifat khusus sebagai pembeda dekat. Maka dari itu tidak berlebihan kalau Ibnu Sina dalam kitab Hududnya ( definisi-definisi ) mengatakan bahwa mendefinisikan sesuatu dengan batasan-lengkap merupakan pekerjaan yang hampir mustahil untuk dilakukan oleh manusia.

Definisi dengan batasan-lengkap, dapat dilakukan dengan menyebut jenis dekat dan pembeda dekatnya. Misalnya "Manusia adalah binatang rasional". Namun kalau jenis dekat ari definisi tersebut tidak diketahui oleh penanya, makakita dapat merincinya dengan batasan lengkapnya.Misalnya dengan medifinisikan binatang sebagai "benda berkembang yang perasa dan bergerak dengan kehendak". Dengan demikian definisi manusia yang lebih rinci ketibang binatang rasional adalah "benda berkembang yang perasa, bergerak dengan kehendak dan rasional". Kalau definisi ini masih nampak belum jelas bagi penanya, makka kita dapat dengan lebih rinci lagi mendefinisikan manusia dengan rincian "benda" terlebih dahulu sebagai "substansi yang bisa menerima tiga dimensi". Dengan demikian, definisi manusia yang lebih rinci dari definisi kedua adalah "Substansi yang bisa menerima tiga dimensi, berkembang, perasa, bergerak dengan kehendak danrasional".

Perincian-perincian tersebut di atas dapat dilakukan sampai pada sesuatu yang tidak memerlukan perincian lagi,yang disebabkan kejelasannya ( badhihi, dharuri, mudah ). Seperti pemahaman tentang wujud dan sesuatu. Dengan penjelasan di atas dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1- Jenis dekat dan pembeda dekat menckup semua zat yang dimiliki oleh defined. Maka dari itu mendefinisikan sesuatu dengan yang lebih rinci tidak diharuskan, walaupun hal itu lebih baik. Hanya dalam beberapa keadaan saja yang dalam mendefinisikan sesuatu harus dengan yang lebih rinci. Yaitu ketika penanya tidak dapat memahami jenis dekat suatu definisi.

2- Tidak ada perbedaan dalam pahaman antara definisi dan defined, kecuali dalam kerincian dan tidaknya saja.

3- Hanya dengan kesesuaian dan kecocokannya saja definisi dapat menjadi "petunjuk" atas defined.



2- Definisi Dengan Batasan-Kurang (Had Al-Naqish, defect Definition )

Definisi dengan batasan-kurang adalah "suatu definisi dengan sebagian zat yang didefinisikan (defined )".

Walaupun definisi ini tidak mencakup semua zat yang dipunyai defined, namun ia harus mempunyai pembeda dekat, baik tanpa digabungkan dengan sesuatu apapun atau digabungkan dengan zat lain yang berupa jenis jauh. Dengan kata lain, definisi dengan batasan-kurang ini dapat dilakukan dengan hanya menyebutkan pembeda dekat suatu defined, atau dengan menyebutkan jenis jauh dan pembeda dekatnya. Misalnya "benda yang rasional" dan "benda yang perasa", sebagai definisi dari manusia dan binatang. Dengan penjelasan di atas dapatlah iambil suatu kesimpulan bahwa:

1- Definisi dengan batasan-kurang tidak menyamai defined daam kepahaman karena tidak mencakup seluruh zat yang dipunyai defined.

2- Faedah dari batasan-kurang hanya dappat membedakan defined dari yang lain saja. Ia tidak dapat memberikan gambaran penuh dalam gambaran kita tentang defined, berbeda halnya dengan definisi dengan batasan penuh.

3- Ia menunjukkan defined dengan kelaziman, bukan dengan kecocokan atau kesesuaian sebagaimana definisi dengan batasan penuh. Sebab ia merupakan "penunjukan" bagian terhdap keselurahannya.



3- Definisi Dengan Gambaran-Lenkap ( Rismun Al-Tam, Peerfect Descriptive

Definition,Imprint )

Definisi dengan gambaran-lengkap adalah "suatu definisi dengan menerangkan

jenis dekat dan fifat khusus yang didefinisi".

Pada penjelasaan yang lalu, kami katakan bahwa mendefinisikan sesuatu dengan batasan penuh adalah pekerjaan yang sangat berat.Oleh karena itu, para ahli menganjurkkan kita untuk menerangkan definisi dengan gambaran-lengkap ini pada tempat-tempat pelik yang kita jumpai.

Sifat khusus yang bisa ewakili pembeda dekat adalah sifat khusus yang lazim dan jelas serta lebih khusus, karena ia paling dekat dengan hakekat dan paling mirip dengan pembeda dekat. Namun, kalau hal itu tidak juga bisa dilakukan, kita dapat mmenggantikannya dengan sifat khusus yang lazim, jelas dan yang lebih umum. Beberpa definisi berikut ini adaah sebagai contoh dari definisi dengan gambaran-lengkap. "Binatang tertawa" ( baca: yang tertawa ), "bentuk yang mempunyai tiga sudut", "angka yang kalau dikalikan dengan dirinya sendiri menjadi sembilan"; masing-masing sebagai definisi manusia, segitiga, dan tiga.

4- Definisi Dengan gambaran- Kurang ( Rismun Al-Naqish, defect Discrptive

Definition )

Definisi dengan gambaran-kutang adalah "suatu definisi yang denganmenerangkan

sifat khusus saja atau dengan jenis jauh dari yang didefinisi".



Seperti kalau kita mendefinisikan manusia sebagai "tertawa" ( baca yang tertawa ), "benda tertawa", benda berkembang yang menulis" dansebagainya.

Seperti yang kami singgung pada awal pembahasan tentang definisi. Bhwa dengan satu zat, zat dicampur sifat khusus dan lain-lain, hanya dapat membedakan defined dari yang lain. Maka sekarang menjadi jelas bahwa definisi-definisi tersebut masing-masing adalah definisi engan batasan-kurang, gambaran-lengkap dan gambaran-kurang. Ada beberapa definisi lain yang digolongkan ke dalam definisi dengan gambara-kurang, sebagaimana yang akan kami jelaskan nanti. Mereka itu adalah definisi dengan contoh penyerupaan dan pembgian.

Dengan penjelasan yang dahulu pula, dapat dipahami bahwa definisi terhadap satu hal bisa beragam sesuai dengan segi memandangnya. Hal ini sangat perlu diketahui oleh orang-orang yang ingin memahami rahasia perbedaan yang ada pada definisi dan bagi orng-orang yang ingin berkomentar terhadapnya serta bagi yang tidak ingin sesat dalam definisi-definisinya.

Perlu diketahui pula bahwa beberapa hal tidak dapat didefinisi. Hal itu dikarenakan kesederhanaannya atau tidak mempunyai rangkapan (seperti Tuhan ) atau karena tdak memiliki jenis dan pembeda ( seperti jenis atas ) atau karena kejelasannya ( seperti ilmu ), dan lain-lain. Lihat bagan tentang definisi berikut:





Syarat-syarat Definisi



Karena definisi bertujuan menjelaskan dan merinci defined, maka untuk membuat definisi, kita harus memperhatikan syarat-syarat definisi. Sehingga tujuantersebut dapat dicapai dengan baik dan sempurna.



Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

1- Definisi harus sama dengan defined dalam jumlah ekstensinya. Artinya, di mana ada ekstensi definisi di sana pula ada defined, begitu pula sebaliknya, tanpa ada kelebihan dan kekurangan dari keduanya. Inilah yang diistilahkan dalam logika, bahwa definisi harus lengkap ( jami' ) dan melarang ( mani' ). Lengkap adalah jumlah ekstensi definisi tidak boleh kurang atau lebih sedikit dari jumlah ektensi defined. Sedang makud dari melarang, yakni melarang ektensi lain masuk ke dalam ektensi defined. Dengan demikian definisi itu tidak boleh terbuat dari beberapa hal:

a- Terbuat dari sesuatu yang bersifat lebih khusus dari defined. Karena tidak khusus ( sempit ) tidak mencakup semua ektensi yang lebih luas. Maka dari itu definisi yang lebih khusus tidak bisa dikatakan lengkap. Misalnya "manusia adalah yang menulis".

b- Terbuat dari sesuatu yang lebih umum dari defined. Karena yang lebih umum mencakup semua ekstensi defined dan yang lain. Dengan demikian definisi yang bersifat lebih umum tidak mampu melarang masuknya ekstensi lain ke dalam ektensi defined. Maka dari itu ia tiak melarang. Misalnya "manusia adalah yang perasa".

c- Terbuat daru sesuatu yang berlawanan dengan defined. Karena definisi yang berlawanan dengan defined tidak akan bertemu dalam ekstensinya, maka dari itu ia tidak dapat dikatakan lengkap dan melarng. Misalnya "manusia adalah benda mati".



2- Definisi harus lebih jelas dan terang dari defined dalam kepahaman, karena definisi bertujuan untuk menerangkan defined. Dengan demikian definisi tidak boleh terbuat dari:

a- Sesuatu yang sama dalam kejelasannya dengan defined. Seperti definisi ayah bahwasanya ia adalah "yang punya anak".

b- Sesuatu yang lebih tidak jelas dari defined. Misalnya "manusia adalah kumpulan atom-atom yang masing-masingnya dipertahankan oleh intelegence, sehingga tidak timbul tabrakan dan ledakan, yang intelegence itu juga mengarahkan atom-atom manusia itu sesuai naturnya".



3- Definisi harus mempunyai segi kesammaan dan perbedaan dengan defined. Sebab kkalau sama dan tidak mempunyai segi perbedaan, mmaka definisi tersebut tidak berfaedah. Dan berarti – logikanya – defined diketehui sebelum diketehui, misalnya "manusia adalah manusia tau insan". Sedang kalau berbeda dan tidak mempunyai segi kesamaan, maka definisi dan defined tidak akan pernah bertemu. Dengan demikian definii ini tidak akan dapat memenuhi tugasnya, yaitu menjelaskan atau merinci defined. Bahkan definisi ini adalah menyesatkan kepahaman. Misalnya "politik adalah jahat".




20. Perlu diketahui bahwa kejahilan ( ketidak tahuan ) dibagi menjadi tashawwuri (concept, gambaran ) dan tashdiqi ( assent, keyakinan ) sebagaimana ilmu, sebab kejahilan merupakan lawan dari ilmu. Dengan demikian daat anda pahami bahwa maksud dari "gambarn yang belum diketahui" adalah suatu yang tidak mengandung hukuyang belum diketahui.



Tambahan!

Perlu diketahui pula, bahwa kejahilan keyakinan dibagi menjadi sederhana dan ganda ( murakkab ).

1. Kejahilan sederhana adalah kejahilan yang diketahui atau disadari. Artinya, seseeorang itu sadar dan tahu kalau dirinya tidak tahu.

2. Kejahilan ganda adalah kejahilan yang tidak diketahui atau disadari. Artinya, seseorang itu tidak tahu dan tidak sadar kalau dirinya tidak mmengetahui masalah atau semua yang ia kira mengetahuinya. Dikatakan ganda sebab: Pertama, ia tidak mengetahui semua atau masalah yang dihadapi; kedua, ia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.


21. Definisi ilmu yang kami terangkan pada awal-awal buku ini adalan semacam penjelasan kata saja. Sebab definisi, seperti yang akan dijelaskan dalam syarat-syarat definisi adalah harus ebih jelas dari defined. Dengan demikian, karena tidak ada yang ebih jelas dari ilmu, sebab di luar ilmu adaah kegelapan dan ketidakjelasan, maka ilmu tidak dapat didefinisikan.
[baca selengkapnya..]

Pengertian Ilmu Adalah

Pengertian (Ilmu)
Tahap Pertama dan Tahap Kedua

Pembagian kedua dari tiga pembagian ilmu tersebut terdahulu adalah dilihat dari sudut tingkatannya yang terbagi menjadi 2 bagian: Pengertian tahap pertama dan kedua.

Pengertian tahap pertama dan kedua ini dalam bahasa Arab disebut Ma’qulatu al-awwaliyah dan Ma’qulatu ats-Tsanawiyyah; atau Primary intelegibles dan Secondary intelegibles, dalam bahasa Inggris.

Ilmu tahap pertama ini adalah Ilmu (pengetahuan) yang didapat melalui ilmu Hissi (panca indera). Misalnya, kesimpulan “kesamaan” dan “perbedaan” antara Ahmad, Ali, Ammar, Yahya dan lain-lain yang ada pada ilmu panca indera. Atau adanya mereka sendiri dalam kepahaman kita.

Sedang ilmu tahap kedua adalah Kesimpulan-kesimpulan atau hasil-hasil yang didapat dari perbandingan-perbandingan yang dilakukan akal terhadap pengertian (ilmu)tahap pertama. Maka dari itu ia tidak mempunyai eksistensi (kewujudan) di luar akal. Misalnya pahaman tentang universal dan partikulir.

Ketika akal melihat Husain dalam dirinya, ia memahami bahwa Husain merupakan suatu pahaman dari wujud luar, begitu pula akal memahami bahwa pahaman Husain, misalnya, tidak sama atau sama dengan pahaman Hasan, Ali, Muhammad dst. Jelasnya, pemahaman akal terhadap suatu apapun yang ada diluar akal (seperti gunung, pohon dll) atau pemahaman terhadap perbandingan-perbandingan yang sederhana yang dilakukan terhadap pemahaman-pemahaman itu – misalnya Ali dan Ahmad sama-sama manusia, mahasiswa, bangsa Indonesia dll dan tidak sama wajahnya, tingginya, dll – disebut sebagai pahaman atau pengertian tahap pertama.

Begitu pula, ketika akal melihat pahaman Husain dari sisi lain, yakni dari sisi bahwa pahaman Husain itu hanya bias diterapkan pada satu orang diluar akal (mishdaq, ekstensi), maka akal akan mengatakan bahwa pahaman semacam itu adalah pahaman “Partikulir”. Akan tetapi kalau akal melihat “kesamaan” mereka, misalnya sebagai “manusia”, hal mana bias diterapkan pada lebih dari satu wujud luar akal, maka akal akan mengatakan bahwa pahaman tersebut adalah pahaman “Universal”.

Maka dari itu para ahli logika mendefinisikan masing-masing sebagai Suatu pahaman yang mempunyai satu ekstensi untuk ”partikulir”, dan Suatu pahaman yang mempunyai banyak ekstensi untuk pahaman “Universal”.

Di sini, pahaman merupakan sebagian dari zat yang dimiliki oleh keduanya. Karena eksistensi sesuatu tidak boleh keluar dari essensinya (batasannya), maka universal dan partikulir tidak boleh keluar dari pahaman itu sendiri. Kalau sudah tidak keluar dari pahaman, maka tidak bisa mempunyai eksistensi di luar akal.

Akan kami terangkan pengertian mafhum (pahaman) dan mishdaq (ekstensi) secara terinci dalam bab yang membahas keduanya. Ringkasnya, mafhum adalah gambaran (pahaman) yang didapat dari sesuatu di luar akal. Sedang mishdaq (ekstensi) adalah sesuatu yang darinya diambil suatu pahaman.


Tambahan penjelasan:

Salah satu perbedaan yang mencolok antara pahaman tahap pertama dan kedua adalah, pahaman tahap pertama mempunyai eksistensi di luar akal (karena pahaman tersebut memang diambil dari luar akal), sedang pahaman tahap kedua tidak mempunyai eksistensi di luar akal (sebab ia diambil dari pahaman juga, yakni pahaman tahap pertama).

Pembagian ketiga dari tiga pembagian ilmu yang kami maksud adalah pembagian ilmu dilihat dari segi perlunya kepadapikiran atau tidak.

Ketika kita melihat kembali informasi yang ada dalam akal kita, seperti langit, ada, manis, langit itu tinggi, lima adalah setengah dari sepuluh, dll;di sini kita tidak perlu menggunakan pikiran untuk memahami dan mempercayainya. Inilah yang kita sebut mudah, yaitu Ilmu yang untuk memahami atau mempercayainya tidak perlu menggunakan pikiran. Sesuai dengan contoh di atas, dapat dimengerti bahwa yang tidak memerlukan pikiran, mencakup gambaran dan keyakinan yaitu yang mengandung hukum dan yang tidak.

Tetapi sebaliknya, ketika kita melihat lagi informasi yang ada, semacam ruh, aliran listrik, bumi berputar, jumlah sudut segi empat sama dengan jumlah sudut lingkaran dll, di sini untuk memahami – yang mencakup gambaran dan merupakan syarat keyakinan, sebab tidak mungkin mempercayai sesuatu tanpa adanya kepahaman terlebih dahulu – dan untuk mempercayai – khusus untuk keyakinan – perlu adanya pemikiran. Inilah yang kita sebut ilmu perhitungan (Naazhari), yaitu Ilmu yang untuk memahami atau meyakininya perlu kepada usaha pemikiran.


Tambahan Penjelasan Tentang Subyek Ilmu Logika:

Dalam definisi ilmu perhitungan (nazhari) terdapat kata “…pikiran”. Apakah pikiran itu? Pikiran adalah Gerak akal dari yang diketahui (Maklum, Known) kepada yang tidak diketahui (Majhul, Unknown).
Penjelasan:

Semua informasi yang ada dalam akal kita dengan cara apapun kita mendapatkannya dan dalam tingkatan yang manapun, pada hakekatnya adalah ilmu. Dengan kata lain, ilmu adalah semua yang kita ketahui dalam akal kita.

Maka dari itu, ketika akal menemukan suatu kesulitan, yaitu ingin mengetahui sesuatu yang belum diketahuinya, ia berpikir.

Pertama, ia – akal – membawa kesulitannya kepada kepustakaannya, yaitu informasi-informasi (ilmu) yang dipunyainya.

Kedua, ia – akal – berusaha mencari jawaban kesulitannya di kepustakaan yang ia miliki, dengan memeriksa tiap sudut informasinya, sebelum kemudian memilih yang dianggapnya sesuai.

Ketiga, ketika akal sudah menemukan jawabannya, yang ia lakukan pada tahap kedua, maka ia kembali dengan membawa penemuannya itu kepada apa yang ia tidak ketahui (majhul) sebelumnya.

Inilah yang dikatakan perjalanan (gerak) akal dari yang diketahui(ma’lum) kepada yang tidak diketahui (majhul).

Para ahli logika muslim masa lalu, semacam Ibnu sina dan Farabi mengatakan: Subyek ilmu lagika adalah pengertian tahap kedua (ma’qulatu ats-tsaniah, secondary intelegibles). Pernyataan mereka itu tidaklah bertentangan dengan pernyataan para ahli logika kontemporer yang menyatakan bahwa subyek pada ilmu logika adalah definisi dan argumen. Sebab pada kenyatannya bahan dasar dari sebuah definisi dan argumen adalah pahaman-pahaman yang berkenaan dengan pengertian tahap kedua.

Sebagaimana yang akan anda pelajari dalam buku satu ini pengetahuan terhadap pahaman universal dan bagian-bagiannya merupakan bekal pokok untuk dapat membuat definisi yang logis. Dan tanpa mengetahui seluk beluk pahaman universal, seseorang tidak akan mampu membuat satu definisi sekalipun. Begitu pula dengan sebuah argumen (lihat jilid 2). Sebab argumentasi adalah menerapkan kaidah atau statement universal kepada individunya. Sementara anda telah mengetahui bahawa pahaman universal termasuk pahaman atau pengertian tahap kedua yang tiada berekstensi atau berwujud luar.

Dengan demikian, disamping kita mengetahui bahwa kedua pernyataan diatas tidak bertentangan, kita juga dapat mengetahui bahwa gerak akal dari yang diketahui menuju yang belum diketahui, yakni dalam melacak informasinya guna mendapat jawaban kesulitannya yang nantinya akan berbentuk definisi dan argumen, haruslah menembus kedaerah pengertian tahap kedua. Hal ini menunjukkan bahwa pembahasan ilmu logika hanyalah berkenaan dengan akal atau pahaman dalam akal. Sebab, sebagaimana maklum pahaman tahap kedua tidak mempunyai ekstensi atau wujud luar. Inilah yang membedakannya dengan ilmu filsafat, karena subyek ilmu filsafat adalah wujud (ada) di luar akal. Dan kalau kadangkala ilmu – tentu yang ada dalam akal – dibahas oleh ilmu filsafat, di sana, yang dibahas bukanlah segi kewujudan ilmu itu dalam akal. Tetapi, dilihat dari segi keeksistensian ilmu itu diluar akal. Yakni, melihat ilmu sebagai sifat akal. Sehingga karena akaladalah suatu wujud di luar akal maka ilmu yang merupakan sifat akal tersebut juga merupakan suatu wujud di luar akal.

Dengan penjelasan diatas- mengenai subyek ilmu logika – dapat dipahami bahwa apa yang dikatakan para ahli logika masa lalu dan sekarang tidak ada perbedaan makna. Yaitu antara definisi dan argumen dengan ma qulatuts tsaniyah.
[baca selengkapnya..]

Learning English

Topic : Learning English

Question :

1 Why do we need to learn English?

2 What the general rules to learn English ?

2. How does to improve our English ?

3. What the important thing we need at beginning our English?

4. What the important words to remember when learning English 

2. Page 15 task 1 & 2

a. Topic : language skill

b. By a certain subject

The effect of vocabulary in teaching speaking

c. By a certain time

The effect of vocabulary in teaching speaking for first grade senior high school in a semester

d. By a certain history

Background vocabulary in language skill

e. By a certain theory

Study of vocabulary in teaching speaking for first grade senior high school

f. By its correlation 

The correlation between vocabulary and grammatical structure in teaching speaking

g. By its effect

The effect of vocabulary in teaching speaking for first grade senior high school

h. By being effect

The use of vocabulary in teaching speaking for first grade senior high school



3. Page 18 and task 1& 2

v Topic : gender

v Component :

1. Women’s language and confidence

2. Interaction 

3. The construction of gender

4. Sexiest language

v Scope :

Subject : introduction to sociolinguistic

Place : HKBP Nommensen university

v Literature : 

· Janet Holmes, sociolinguistic

· Coates, Jennifer (1993) 2nd, women , men and language, London : long man

· Hyndman, Christine (1985) gender and language difference

4.page 22 task 1 & 2

a. topic : teaching skills

elaboration

1. component 

v probing question

v explaining 

v illustrating with example

v stimulus variation

v classroom management


2. scope :

subject : University students

place : Indonesia


3. Literature : 

v text book microteaching

v ALLEN,D,W, RYAN, K.A. micro teaching Reading Mass :ADDISON Wesley, 1969.

v SHARNA,N.L, Microteaching : Integration of teaching skills in Sahaitya paricharya, Vinod pustak Mandir , Agra, 1984
[baca selengkapnya..]