Permasalahan Pendidikan

2.1 Masalah Pokok Pendidikan

Permasalahan pendidikan merupakan suatu kendala yang menghalangi tercapainya tujuan pendidikan. Pada bab ini akan dibahas beberapa hal yang merupakan permasalahan pendidikan di Indonesia. Adapun permasalahan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Pemerataan Pendidikan

2. Mutu dan Relevansi Pendidikan

3. Efisiensi dan Efektifitas Pendidikan

Berikut ini adalah penjelasan-penjelasan mengenai 3 poin permasalahan pendidikan di atas.

2.1.1 Pemerataan Pendidikan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata pemerataan berasal dari kata dasar rata, yang berarti: 1) meliputi seluruh bagian, 2) tersebar kesegala penjuru, dan 3) sama-sama memperoleh jumlah yang sama. Sedangkan kata pemerataan berarti proses, cara, dan perbutan melakukan pemerataan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pemerataan pendidikan adalah suatu proses, cara dan perbuatan melakukan pemerataan terhadap pelaksanaan pendidikan, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan pelaksanaan pendidikan.

Pelaksanaan pendidikan yang merata adalah pelaksanaan program pendidikan yang dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga negara Indonesia untuk dapat memperoleh pendidikan. Pemerataan dan perluasan pendidikan atau biasa disebut perluasan keempatan belajar merupakan salah satu sasaran dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Hal ini dimaksudkan agar setiap orang mempunyai kesempatan yang sama unutk memperoleh pendidikan. Kesempatan memperoleh pendidikan tersebut tidak dapat dibedakan menurut jenis kelamin, status sosial, agama, amupun letak lokasi geografis.

Dalam propernas tahun 2000-2004 yang mengacu kepada GBHN 1999-2004 mengenai kebijakan pembangunan pendidikan pada poin pertama menyebutkan:

“Mengupayakan perluasan dan pemeraatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia menuju terciptanya Manusia Indonesia berkualitas tinggi dengan peninggakatan anggaran pendidikan secara berarti“. Dan pada salah satu tujuan pelaksanaan pendidikan Indonesia adalah untuk pemerataan kesempatan mengikuti pendidikan bagi setiap warga negara.

Dari penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa Pemerataan Pendidikan merupakan tujuan pokok yang akan diwujudkan. Jika tujuan tersebut tidak dapat dipenuhi, maka pelaksanaan pendidikan belum dapat dikatakan berhasil. Hal inilah yang menyebabkan masalah pemerataan pendidikan sebagai suatu masalah yang paling rumit untuk ditanggulangi.

Permasalahan Pemerataan dapat terjadi karena kurang tergorganisirnya koordinasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, bahkan hingga daerah terpencil sekalipun. Hal ini menyebabkan terputusnya komunikasi antara pemerintah pusat dengan daerah. Selain itu masalah pemerataan pendidikan juga terjadi karena kurang berdayanya suatu lembaga pendidikan untuk melakukan proses pendidikan, hal ini bisa saja terjadi jika kontrol pendidikan yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah tidak menjangkau daearh-daerah terpencil. Jadi hal ini akan mengakibatkan mayoritas penduduk Indonesia yang dalam usia sekolah, tidak dapat mengenyam pelaksanaan pendidikan sebagaimana yang diharapkan.

Permasalahan pemerataan pendidikan dapat ditanggulangi dengan menyediakan fasilitas dan sarana belajar bagi setiap lapisan masyarakat yang wajib mendapatkan pendidikan. Pemberian sarana dan prasrana pendidikan yang dilakukan pemerintah sebaiknya dikerjakan setransparan mungkin, sehingga tidak ada oknum yang dapat mempermainkan program yang dijalankan ini.


2.1.2 Mutu dan Relevansi Pendidikan


Mutu sama halnya dengan memiliki kualitas dan bobot. Jadi pendidikan yang bermutu yaitu pelaksanaan pendidikan yang dapat menghsilkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan negara dan bangsa pada saat ini. Sedangkan relevan berarti bersangkut paut, kait mangait, dan berguna secara langsung.

Sejalan dengan proses pemerataan pendidikan, peningkatan mutu untuk setiap jenjang pendidikan melalui persekolahan juga dilaksanakan. Peningkatan mutu ini diarahkan kepada peningkatan mutu masukan dan lulusan, proses, guru, sarana dan prasarana, dan anggaran yang digunakan untuk menjalankan pendidikan.

Rendahnya mutu dan relevansi pendidikan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor terpenting yang mempengaruhi adalah mutu proses pembelajaran yang belum mampu menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas. Hasil-hasil pendidikan juga belum didukung oleh sistem pengujian dan penilaian yang melembaga dan independen, sehingga mutu pendidikan tidak dapat dimonitor secara ojektif dan teratur.Uji banding antara mutu pendidikan suatu daerah dengan daerah lain belum dapat dilakukan sesuai dengan yang diharapkan. Sehingga hasil-hasil penilaian pendidikan belum berfungsi unutk penyempurnaan proses dan hasil pendidikan.

Selain itu, kurikulum sekolah yang terstruktur dan sarat dengan beban menjadikan proses belajar menjadi kaku dan tidak menarik. Pelaksanaan pendidikan seperti ini tidak mampu memupuk kreatifitas siswa unutk belajar secara efektif. Sistem yang berlaku pada saat sekarang ini juga tidak mampu membawa guru dan dosen untuk melakukan pembelajaran serta pengelolaan belajar menjadi lebih inovatif.

Akibat dari pelaksanaan pendidikan tersebut adalah menjadi sekolah cenderung kurang fleksibel, dan tidak mudah berubah seiring dengan perubahan waktu dan masyarakat. Pada pendidikan tinggi, pelaksanaan kurikulum ditetapkan pada penentuan cakupan materi yang ditetapkan secara terpusat, sehingga perlu dilaksanakan perubahan kearah kurikulum yang berbasis kompetensi, dan lebih peka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Rendahnya mutu dan relevansi pendidikan juga disebabkan oleh rendahnya kualitas tenaga pengajar. Penilaian dapat dilihat dari kualifikasi belajar yang dapat dicapai oleh guru dan dosen tersebut. Dibanding negara berkembang lainnya, maka kualitas tenaga pengajar pendidikan tinggi di Indonesia memiliki masalah yang sangat mendasar.

Melihat permasalahan tersebut, maka dibutuhkanlah kerja sama antara lembaga pendidikan dengan berbagai organisasi masyarakat. Pelaksanaan kerja sama ini dapat meningkatkan mutu pendidikan. Dapat dilihat jika suatu lembaga tinggi melakukan kerja sama dengan lembaga penelitian atau industri, maka kualitas dan mutu dari peserta didik dapat ditingkatkan, khususnya dalam bidang akademik seperti tekonologi industri.


2.1.3 Efisiensi dan Efektifitas Pendidikan

Sesuai dengan pokok permasalahan pendidikan yang ada selain sasaran pemerataan pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan, maka ada satu masalah lain yang dinggap penting dalam pelaksanaan pendidikan, yaitu efisiensi dan efektifitas pendidikan. Permasalahan efisiensi pendidikan dipandang dari segi internal pendidikan. Maksud efisiensi adalah apabila sasaran dalam bidang pendidikan dapat dicapai secara efisien atau berdaya guna. Artinya pendidikan akan dapat memberikan hasil yang baik dengan tidak menghamburkan sumberdaya yang ada, seperti uang, waktu, tenaga dan sebagainya.

Pelaksanaan proses pendidikan yang efisien adalah apabila pendayagunaan sumber daya seperti waktu, tenaga dan biaya tepat sasaran, dengan lulusan dan produktifitas pendidikan yang optimal. Pada saat sekarng ini, pelaksanaan pendidikan di Indonesia jauh dari efisien, dimana pemanfaatan segala sumberdaya yang ada tidak menghasilkan lulusan yang diharapkan. Banyaknya pengangguran di Indonesia lebih dikarenakan oleh kualitas pendidikan yang telah mereka peroleh. Pendidikan yang mereka peroleh tidak menjamin mereka untuk mendapat pekerjaan sesuai dengan jenjang pendidikan yang mereka jalani.

Pendidikan yang efektif adalah pelaksanaan pendidikan dimana hasil yang dicapai sesuai dengan rencana / program yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika rencana belajar yang telah dibuat oleh dosen dan guru tidak terlaksana dengan sempurna, maka pelaksanaan pendidikan tersebut tidak efektif.

Tujuan dari pelaksanaan pendidikan adalah untuk mengembangkan kualitas SDM sedini mungkin, terarah, terpadu dan menyeluruh melalui berbagai upaya. Dari tujuan tersebut, pelaksanaan pendidikan Indonesia menuntut untuk menghasilkan peserta didik yang memeiliki kualitas SDM yang mantap. Ketidakefektifan pelaksanaan pendidikan tidak akan mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas. Melainkan akan menghasilkan lulusan yang tidak diharapkan. Keadaan ini akan menghasilkan masalah lain seperti pengangguran.

Penanggulangan masalah pendidikan ini dapat dilakukan dengan peningkatan kulitas tenaga pengajar. Jika kualitas tenaga pengajar baik, bukan tidak mungkin akan meghasilkan lulusan atau produk pendidikan yang siap untuk mengahdapi dunia kerja. Selain itu, pemantauan penggunaan dana pendidikan dapat mendukung pelaksanaan pendidikan yang efektif dan efisien. Kelebihan dana dalam pendidikan lebih mengakibatkan tindak kriminal korupsi dikalangan pejabat pendidikan. Pelaksanaan pendidikan yang lebih terorganisir dengan baik juga dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi pendidikan. Pelaksanaan kegiatan pendidikan seperti ini akan lebih bermanfaat dalam usaha penghematan waktu dan tenaga.



2.2 Faktor Pendukung Masalah Pendidikan

Masalah pokok pendidikan akan terjadi di dalam dalam bidang pendidikan itu sendiri. Jika di analisis lebih jauh, maka sesungguhnya permasalahan pendidikan berkaitan dengan beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya masalah itu. Adapun faktor-faktor yang dapat menimbulkan permasalahan pokok pendidikan tersebut adalah sebagai berikut.

1. IPTEK

2. Laju Pertumbuhan Penduduk

3. Permasalah Pembelajaran


2.2.1 IPTEK

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini berdampak pada pendidikan di Indonesia. Ketidaksiapan bangsa menerima perubahan zaman membawa perubahan tehadap mental dan keadaan negara ini. Bekembangnya ilmu pengetahuan telah membentuk teknologi baru dalam segala bidang, baik bidang social, ekonomi, hokum, pertanian dan lain sebagainya.

Sebagai negara berkembang Indonesia dihadapkan kepada tantangan dunia global. Dimana segala sesuatu dapat saja berjalan dengan bebas. Keadaan seperti ini akan sangat mempengaruhi keadaan pendidikan di Indonesia. Penemuan teknologi baru di dalam dunia pendidikan, menuntut Indonesia melakukan reformasi dalam bidang pendidikan. Pelaksanaan reformasi tidaklah mudah, hal ini sangat menuntut kesiapan SDM Indonesia untuk menjalankannya.



2.2.2 Laju Pertumbuhan Penduduk

Laju pertumbuhan yang sangat pesat akan berpengaruh tehadap masalah pemerataan serta mutu dan relevansi pendidikan. Pertumbuhan penduduk ini akan berdampak pada jumlah peserta didik. Semakin besar jumlah pertumbuhan penduduk, maka semakin banyak dibutuhkan sekolah-sekolah unutk menampungnya. Jika daya tampung suatu sekolah tidak memadai, maka akan banyak peserta didik yang terlantar atau tidak bersekolah. Hal ini akan menimbulkan masalah pemerataan pendidikan.

Tetapi apabila jumlah dan daya tampung suatu sekolah dipaksakan, maka akan terjadi ketidakseimbangan antara tenaga pengajar dengan peserta didik. Jika keadaan ini dipertahankan, maka mutu dan relevansi pebdidikan tidak akan dapat dicapai dengan baik.

Sebagai negara yang berbentuk kepulauan, Indonesia dihadapkan kepada masalah penyebaran penduduk yang tidak merata. Tidak heran jika perencanaan, sarana dan prasarana pendidikan di suatu daerah terpencil tidak terkoordinir dengan baik. Hal ini diakibatkan karena lemahnya kontrol pemerintah pusat terhadap daerah tersebut. Keadaan seperti ini adalah masalah lainnya dalam bidang pendidikan.

Keterkaitan antar masalah ini akan berdampak kepada keadaan pendidikan Indonesia.

2.2.3 Permasalahan Pembelajaran

Pelaksanaan kegiatan belajar adalah sesuatu yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Dalam kegiatan belajar formal ada dua subjek yang berinteraksi, Yaitu pengajar/pendidik (guru/dosen) dan peserta didik ( murid/siswa, dan mahasiswa).

Pada saat sekarang ini, kegiatan pembelajaran yang dilakukan cenderung pasif, dimana seorang pendidik selalu menempatkan dirinya sebagai orang yang serba tahu. Hal ini akan menimbulkan kejengahan terhadap peserta didik. Sehingga pembelajaran yang dilakukan menjadi tidak menarik dan cenderung membosankan. Kegiatan belajar yang terpusat seperti ini merupakan masalah yang serius dalam dunia pendidikan.

Guru / dosen yang berpandangan kuno selalu menganggap bahwa tugasnya hanyalah menyampaikan materi, sedangakan tugas siswa/mahasiswa adalah mengerti dengan apa yang disampaikannya. Bila peserta didik tidak mengerti, maka itu adalah urusan mereka. Tindakan seperti ini merupakan suatu paradigma kuno yang tidak perlu dipertahankan.

Dalam hal penilaian, Pendidik menempatkan dirinya sebagai penguasa nilai. Pendidik bisa saja menjatuhkan, menaikan, mengurangi dan mempermainkan nilai perolehan murni seorang peserta didik. Pada satu kasus di pendidikan tinggi, dimana seorang dosen dapat saja memberikan nilai yang diinginkannya kepada mahasiswa tertentu, tanpa mengindahkan kemampuan atau skill yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut. Proses penilaian seperti sungguh sangat tidak relevan.
[baca selengkapnya..]

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

A. Mengenal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Ilmu Public Health Menurut Winslow adalah ilmu atau seni yang bertujuan untuk mencegah penyakit, memperpanjang umur, dan meningkatkan efisiensi hidup masyarakat melalui upaya kelompok-kelompok masyarakat yang terkoordinasi, perbaikan kesehatan lingkungan, mencegah dan memberantas penyakit menular, dan melakukan pendidikan kesehatan untuk masyarakat/perorangan.

Pengertian Sehat :

1. Sehat adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dengan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya (Perkin 1938)

2. Sehat adalah suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dipunyainya (WHO 1957)

3. Sehat adalah keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa oleh ahlinya tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda penyakit atau kelainan (White 1977)

4. Sehat adalah suatu keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (UU Kesehatan No. 23 tahun 1992)

Menurut H.L Blum, ada 4 faktor yang bersama-sama mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat, yaitu:

1. Kesehatan Lingkungan

2. Perilaku

3. Pelayanan Kesehatan

4. Genetik

Perbedaan Pelayanan Kedokteran Dengan Pelayanan Kesehatan Masyarakat :

1. Pelayanan Kedokteran

1. Tenaga pelaksananya terutama adalah para dokter

2. Perhatian utamanya pada penyembuhan penyakit

3. Sasaran utamanya adalah perseorangan atau keluarga

4. Kurang memperhatikan efisiensi

5. Tidak boleh menarik perhatian karena bertentangan dengan etika kedokteran

6. Menjalankan fungsi perseorangan dan terikat dengan undang-undang

7. Penghasilan diperoleh dari imbal jasa

8. Bertanggung jawab hanya kepada penderita

9. Tidak dapat memonopoli upaya kesehatan dan bahkan mendapat saingan

10. Masalah administrasi amat sederhana

2. Pelayanan Kesehatan Masyarakat

1. Tenaga pelaksananya terutama ahli kesehatan masyarakat

2. Perhatian utamanya pada pencegahan penyakit

3. Sasaran utamanya adalah masyarakat secara keseluruhan

4. Selalu berupaya mencari cara yang efisien

5. Dapat manarik perhatian masyarakat misalnya dengan penyuluhan kesehatan

6. Tenaga pelaksananya terutama ahli kesehatan masyarakat

7. Penghasilan berupa gaji dari pemerintah

8. Bertanggung jawab kepada seluruh masyarakat

9. Dapat memonopoli upaya kesehatan

10. Menghadapi berbagai persoalan kepemimpinan



B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan

“Health is not everything but without health everything is nothing” artinya “Kesehatan bukanlah segalanya tetapi tanpa kesehatan segalanya bukan apa-apa”. Slogan di atas sangatlah tepat untuk menjadi cerminan perilaku kita sehari-hari, karena betapa ruginya kita semua jika dalam keadaan sakit. Waktu produktif kita menjadi berkurang, belum lagi biaya berobat yang semakin mahal menjadi beban bagi keluarga dan sanak saudara kita.

Menurut Hendrik L. Blumm, terdapat 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, yaitu: faktor perilaku, lingkungan, keturunan dan pelayanan kesehatan.

a. Faktor Genetik

Faktor ini paling kecil pengaruhnya terhadap kesehatan perorangan atau masyarakat dibandingkan dengan faktor yang lain. Pengaruhnya pada status kesehatan perorangan terjadi secara evolutif dan paling sukar di deteksi. Untuk itu perlu dilakukan konseling genetik. Untuk kepentingan kesehatan masyarakat atau keluarga, faktor genetik perlu mendapat perhatian dibidang pencegahan penyakit. Misalnya seorang anak yang lahir dari orangtua penderita diabetas melitus akan mempunyai resiko lebih tinggi dibandingkan anak yang lahir dari orang tua bukan penderita DM. Untuk upaya pencegahan, anak yang lahir dari penderita DM harus diberi tahu dan selalu mewaspadai faktor genetik yang diwariskan orangtuanya .Olehkarenanya, ia harus mengatur dietnya, teratur berolahraga dan upaya pencegahan lainnya sehingga tidak ada peluang faktor genetiknya berkembang menjadi faktor resiko terjadinya DM pada dirinya. Jadi dapat di umpamakan, genetik adalah peluru (bullet) tubuh manusia adalah pistol (senjata), dan lingkungan/prilakun manusia adalah pelatuknya (trigger).

Semakin besar penduduk yang memiliki resiko penyakit bawaan akan semakin sulit upaya meningkatkan derajat kesehatan. Oleh karena itu perlu adanya konseling perkawinan yang baik untuk menghindari penyakit bawaan yang sebenarnya dapat dicegah munculnya. Akhir-akhir ini teknologi kesehatan dan kedokteran semakin maju. Teknologi dan kemampuan tenaga ahli harus diarahkan untuk meningkatkan upaya mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

b. Faktor Pelayanan Kesehatan

Ketersediaan pelayanan kesehatan, dan pelayanan kesehatan yang berkualitas akan berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat. Pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan yang diimbangi dengan kelengkapan sarana/prasarana, dan dana akan menjamin kualitas pelayanan kesehatan. Pelayanan seperti ini akan mampu mengurangi atau mengatasi masalah kesehatan yang berkembang di suatu wilayah atau kelompok masyarakat. Misalnya, jadwal imunisasi yang teratur dan penyediaan vaksin yang cukup sesuai dengan kebutuhan, serta informasi tentang pelayanan imunisasi yang memadai kepada masyarakat akan meningkatkan cakupan imunisasi. Cakupan imunisasi yang tinggi akan menekan angka kesakitan akibat penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi. Saat ini pemerintah telah berusaha memenuhi 3 aspek yang sangat terkait dengan upaya pelayanan kesehatan, yaitu upaya memenuhi ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dengan membangun Puskesmas, Pustu, Bidan Desa, Pos Obat Desa, dan jejaring lainnya. Pelayanan rujukan juga ditingkatkan dengan munculnya rumah sakit-rumah sakit baru di setiap Kab/Kota

c. Faktor Prilaku Masyarakat

Faktor ini terutama di negara berkembang paling besar pengaruhnya terhadap munculnya gangguan kesehatan atau masalah kesehatan i masyarakat .Tersedianya jasa pelayanan kesehatan (health service) tanpa disertai perubahan tingkah laku (peran serta) masyarakat akan mengakibatkan masalah kesehatan tetap potensial berkembang di masyarakat. Misalnya, Penyediaan fasilitas dan imunisasi tidak akan banyak manfaatnya apabila ibu-ibu tidak datang ke pos-pos imunisasi. Perilaku ibu-ibu yang tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan yang sudah tersedia adalah akibat kurangnya pengetahuan ibu-ibu tentang manfaat imunisasi dan efek sampingnya. Pengetahuan ibu-ibu akan meningkat karena adanya penyuluhan kesehatan tentang imunisasi yang di berikan oleh petugas kesehatan. Perilaku individu atau kelompok masyarakat yang kurang sehat juga akan berpengaruh pada faktor lingkungan yang memudahkan timbulnya suatu penyakit.
Perilaku yang sehat akan menunjang meningkatnya derajat kesehatan, hal ini dapat dilihat dari banyaknya penyakit berbasis perilaku dan gaya hidup. Kebiasaan pola makan yang sehat dapat menghindarkan diri kita dari banyak penyakit, diantaranya penyakit jantung, darah tinggi, stroke, kegemukan, diabetes mellitus dan lain-lain. Perilaku/kebiasaan memcuci tangan sebelum makan juga dapat menghindarkan kita dari penyakit saluran cerna seperti diare dan lainnya.

d. Faktor Lingkungan

Lingkungan yang mendukung gaya hidup bersih juga berperan dalam meningkatkan derajat kesehatan. Dalam kehidupan di sekitar kita dapat kita rasakan, daerah yang kumuh dan tidak dirawat biasanya banyak penduduknya yang mengidap penyakit seperti: gatal-gatal, infeksi saluran pernafasan, dan infeksi saluran pencernaan. Penyakit demam berdarah juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Lingkungan yang tidak bersih, banyaknya tempat penampungan air yang tidak pernah dibersihkan memyebabkan perkembangan nyamuk aedes aegypti penyebab demam berdarah meningkat. Hal ini menyebabkan penduduk si sekitar memiliki resiko tergigit nyamuk dan tertular demam berdarah.

Untuk menganalisis program kesehatan dilapangan, paradigma H.L.Blum dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan masalah sesuai dengan faktor-faktor yang berpengaruh pada status kesehatan masyarakat.

Analisis ke 4 faktor tersebut perlu dilakukan secara cermat sehingga masalah kesmas dan masalah program dapat di rumuskan dengan jelas. Analisis ke 4 faktor ini adalah bagian dari analisis situasi (bagian dari fungsi perencnaan)untuk pengembangan program kesehatan di suatu wilayah tertentu.
[baca selengkapnya..]

Pengertian belajar dan konsep belajar

KATA PENGANTAR

Puji Syukur saya ucapkan kepada Tuhan yang maha esa, karena saya masih di berikan waktu untuk menyelesaikan makalah ini. Dan saya juga berterimakasih kepada Dosen pembimgbing dimana dengan membuat makalah ini akan lebih mengetahui bagaimana konsep belajar dan interaksi dalam pembelajaran.

Adapun judul yang di bahas dalam makalah ini adalah “Konsep Belajar dan Interaksi Dalam Pembelajaran” untuk memenuhi tugas mata kuliah Interaksi Belajar Mengajar. jika ada kesalahan dan kekurangan dalam makalah ini diharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini, TERIMAKASIH.




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.

Bila terjadi proses belajar, maka bersama itu pula terjadi proses belajar. Karena bila ada yang belajar sudah tentu ada yang mengajarnya, dan begitu pula sebaliknya. Agar terciptanya suasana yang nyaman dalam belajar, sehingga pelajar mengerti apa yang dijelasakan atau disampaikan pendidik kepada pelajar.
Kalau hal itu sudah terjadi bahwa pelajar harus mengetahui bagaimana konsep belajar baik dan benar, sehingga proses balajar mengajar berjalan dengan baik.


B. Rumusan masalah
1. pengertian belajar dan konsep belajar
2. makna dan konsep belajar
3. cara belajar yang baik
4. Faktor – faktor belajar
5. Pengertian interaksi dalam belajar
6. Macam-macam interaksi dalam pembelajaran
7. Proses interaksi dalam pembelajaran
8. Komponen – komponen pembelajaran




BAB II
PEMBAHASAN



A.PENGERETIAN BELAJAR DAN KONSEP BELAJAR
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, yang baik bersifat eksplisit maupun implisit (tersembunyi) untuk menangkapi isi dan pesan belajar maka dalam belajar tersebut individu menggunakan kemampuan ramah.

a. Kognitif yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pengetahuan, penalaran atau pikiran sendiri dari kategori pengetahuan, pemahaman, penerapan analisis dan evaluasi.
b. Efektif yaitu kemampuan yang mengutamakan, perasaan, emosi, dan reaksi yang berbeda dengan penalaran yang terdiri dari kategori penerimaan, partisipasi, penilaian sikap, organisai dan pembentukan pola hidup.
c. Sikromatik yaitu kemampuan yang mengutamakan keterampilan jasmani terdiri dari persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing pola gerakan dan kreatiftas.



· Teori Belajar
Secara garis besar di geral ada tiga maupun besar teori belajar menurut pandangan psikologis yaitu teori disiplin mental, teoti behaklorisme dan teori cognitive
a. Teori disiplin mental
Teori balajar ini di kembangkan tanpa disadari eksperimen, ini berarti dasar orientasinya adalah tilosofis. Atau speculative teori menganggap bahwa dalam belajar mental siswa disiplinkan atau dilatih. Teori yang berlawanan sekali dengan teori disiplin mental ialah teori perkembangan alanurah, menurut teori ini, anul itu akan berkembang secara alamiah.

b. Teori Behaviorisme
Teori ini mengutamakan unsure-unsur atau bagian-bagian kecil, bersifat mekanisme, menekankan peranan lingkungan, menentukan kepentingan latihan.

c. Teori Cognitive
Teori cognitive meneliti tentang peralatan dan poten solving, dari pengamatannya ia menyelesaiakan penggunaan metode menghafal disekolah, dan menghendaki agar belajar dengan pengertian bukan hafalan akademis.


2.Makna dan Konsep belajar dan ciri belajar

Menurut para ahli belajar dapat diartikan sebagai proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan dan sikap. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan mula belajar hanya dialami oleh siswa sendiri.
Setiap perilaku belajar ditandai oleh cirri perubahan yang spesifik antara lain: belajar menyebabkan pada aspek-aspek kepribadian yang berfungsi terus menerus belajar hanya terjadi dari pengalaman yang bersifat individual, belajar merupakan kegiatan yang bertujuan kearah yang ingin dicapai, belajar menghasilkan perubahan yang menyeluruh.

· Syarat agar peserta didik berhasil belajar
Agar peserta didik berhasil belajar diperlukan persyratan sebagai berikut
a. Kemampuan berpikir yang tinggi para siswa
b. Menimbulkan minat yang tinggi terhadap mata pelajaran
c. Bakat dan minat yang khusus
d. Menguasai bahan bahan yang diperlukan untuk meneruskan pelajaran
e. Menguasai salah atau bahasa asing
f. Kehidupan ekonomi yang memadai
g. Menguasai teknik belajar di sekolah dan diluar sekolah

3.Cara Belajar yang baik
Cara belajar yang baik secara umum yaitu belajar secara efisien, mampu berbuat berbagai catatan, mampu membaca siap belajar, keterampilan belajar, memahami perbedaan belajar pada tingkatan sekolah seperti SD,SMA, dan SMU, dukungan orang tua yang paham akan perbedaan, status harga diri lebih kurang.
Cara dan teknik mengatasi kesulitan belajar adalah menetapkan target belajar, menghindari saran dan kritik yang ngatif, menciptakan situasi belajar, menyelenggarakan remedial program, dan memberi kesempatan agar peserta didik memperoleh pengalaman yang sukses.

4.Faktor – faktor Belajar

Dalam hal ini ada berbagai model klasifikasi pembagian faktor – faktor yang di perlukan dalam kegiatan belajar:
a. Motivasi
Seseorang akan berhasil dalam belajar kalu pada dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar. Inilah prinsip dan hokum pertama dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran. Keinginan atau dorongan untuk belajar inilah yang tersebut dengan motivasi.

b. Konsentrasi
Konsentrasi dimaksudkan memusatkan segenap kekuatan perhatian pada suatu siluas belajar. Unsur motivasi dalam hal ini sangat membantu tumbuhnya proses pemutusan perhatian. Di dalam konsentrasi ini keterlibatan mental secara detail sangat di perlukan sehingga tidak”perhatian” sekedarnya.

c.Reaksi
Di dalam kegiatan belajar diperlukan keterlibatan unsure fisik maupun mental, sebagai suatu wujud reaksi, pikiran dan otot-ototnya harus dapat bekerja secara harmonis, sehingga belajar itu bertindak ataupun melakukannya. Belajar harus aktif tidak sekedar apa adanya, menyerah pada lingkungan, tetapi semua itu harus dipandang sebagi tantangan yang memerlukan reaksi, orang yang belajar harus aktif, bertindak dan melakukanya dengan segala panca indranya secara optimal.

C.Organisasi
Belajar dapat juga dikatakan sebagai kegiatan mengorganisasikan, marata atau menempatkan bagian bagian bahan pelajaran dalam suatu kesatuan pengertian. Untuk membuat siswa agar dapat mengorganisasikan fakta atau ide-ide dalam pikirannya.maka diperlukan perumusan tujuan yang jelas dalam belajar dengan demikian akan terjadi proses yang logis.

D.Pemahaman
Pemahaman atau comprehension dapat diartikan menguasai sesuatu dengan pikiran, karena itu belajar berarti harus mengerti secara mental makna dan tilosofisnya, maksud dan implikas, serta aplikasi-aplikasinya, sehingga menyebabkan siswa yang belajar. Memahami maksudnya, menagkap maknanya, adalah tujuan akhir dan setiap belajar dalam pemahaman, memiliki arti yang sangat mendasar yang melakukan bagian-bagian belajar pada proposisinya

E.Ulangan
Lupa merupakan sesuatu yang tercela dalam belajar, tetapi lupa adalah sifat urusan manusia. Setiap orang dapat lupa menyediakan menunjukkan, bahan sehari sesudah para siswa mempelajari suatu bahan pelajaran atau mendegarkan suatu ceramah, mereka banyak melupakan apa yang telah mereka peroleh selama jam pelajaran tersebut.

5. Pengertian interaksi dalam pembelajaran

Dalam proses pembelajaran antara pendidik dan peserta didik harus ada interaksi. Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik, untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berlangsung dalam lingkungan tertentu. Lingkungan ini diatur serta diawasi agar kegiatan belajar terarah sesuai dengan tujuan pendidikan. Pendidikan berfungsi membantu peserta didik dalam pengembangan dirinya, yaitu pengembangan semua potensi, kecakapan, serta karakteristik pribadinya ke arah yang positif, baik bagi dirinya maupun lingkungannya.
Interaksi terdiri dari kata inter (antar), dan aksi (kegiatan). Jadi interaksi adalah kegiatan timbal balik. Dari segi terminologi “interaksi” mempunyai arti hal saling melakukan aksi; berhubungan; mempengaruhi; antar hubungan. Interaksi akan selalu berkait dengan istilah komunikasi atau hubungan. Sedang “komunikasi” berpangkal pada perkataan “communicare” yang berpartisipasi, memberitahukan, menjadi milik bersama. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Jadi, interaksi belajar mengajar adalah kegiatan timbal balik antara guru dengan anak didik, atau dengan kata lain bahwa interaksi belajar mengajar adalah suatu kegiatan sosial, karena antara anak didik dengan temannya, antara si anak didik dengan gurunya ada suatu komunikasi sosial atau pergaulan.




6. Macam-macam interaksi dalam pembelajaran

Menurut Nana Sudjana, ada tiga pola komunikasi dalam proses interaksi guru-siswa, yakni komunikasi sebagai aksi, interaksi dan transaksi.

a. Komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah

Yaitu guru sebagai pemberi aksi dan siswa sebagai penerima aksi. Guru aktif, siswa pasif, mengajar dipandang sebagai kegiatan menyampaikan bahan pelajaran.

b. Komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah

Yaitu guru bisa berperan sebagai pemberi aksi atau penerima aksi. Sebaliknya siswa, bisa penerima aksi bisa pula pemberi aksi. Dialog akan terjadi antara guru dengan siswa.

c. Komunikasi sebagai transaksi atau komunikasi banyak arah

Yaitu komunikasi tidak hanya terjadi antara guru dengan siswa, tetapi juga antara siswa dengan siswa. Siswa dituntut aktif dari pada guru. Siswa, seperti halnya guru, dapat berfungsi sebagai sumber belajar bagi siswa lain.

sedangkan menurut Profesor Djaali ada empat interaksi pendidikan yaitu :

(1) Interaksi murid dengan murid

(2) Interaksi murid dengan guru

(3) Interaksi murid dengan sumber belajar, dan

(4) Interaksi murid dengan lingkungan.

Pola arus interaksi guru-siswa di kelas memiliki berbagai kemungkinan arus komunikasi. Sedikitnya menurut Heinich ada empat pola arus komunikasi:

(1) komunikasi guru-siswa searah,

(2) komunikasi dua arah — arus bolak-balik–,

(3) komunikasi dua arah antara guru-siswa dan siswa-siswa,

(4) komunikasi optimal total arah.





1. Pola dasar interaksi

Dalam pola dasar interaksi belum terlihat unsur pembelajaran yang meliputi unsur guru, isi pembelajaran dan siswa yang semuanya belum ada yang mendominasi proses interaksi dalam pembelajaran. Dijelaskan bahwa adakalanya guru mendominasi proses interaksi, adakalanya isi yang lebih mendominasi, adakalanya juga siswa yang mendominasi interaksi tersebut atau bahkan adakalanya antara guru dan siswanya secara seimbang saling mendominasi.



2. Pola interaksi berpusat pada isi

Dalam proses pembelajaran terdapat kegiatan guru mengajarkan isi pembelajaran disatu sisi dan siswa mempelajari isi pembelajaran tersebut disisi lain, namun kegiatan tersebut masih berpusat pada isi/materi pembelajaran.

3. Pola interaksi berpusat pada guru

Pada pembelajaran yang kegiatannya semata-mata bepusat pada guru, pada umumnya terjadi proses yang bersifat penyajian atau penyampaian isi atau materi pembelajaran. Dalam praktik pembelajaran semacam ini, kegiatan sepenuhnya ada dipihak guru yang bersangkutan, sedangkan siswa hanya menerima dan diberi pembelajaran yang disebut juga siswa pasif.

4. Pola interaksi berpusat pada siswa

Pada pembelajaran yang kegiatannya semata-mata berpusat pada siswa, siswa merencanakan sendiri materi pembelajaran apa yang akan dipelajari dan melaksanakan proses belajar dalam mempelajari materi pembelajaran tersebut. Peran guru lebih banyak bersifat permisif, yakni membolehkan setiap kegiatan yang dilakukan para siswa dalam mempelajari apapun yang dikehendakinya.

Untuk meningkatkan keaktifan proses pembelajaran ini, guru membuat perencanaan sebaik-baiknya dan pelaksanaannya didasarkan atas rencana yang telah dibuat. Dengan cara semacam ini, diharapkan hasil belajar lebih baik lagi sehingga terjadi keseimbangan keaktifan baik dipihak guru maupun dipihak siswa.



7. Proses interaksi dalam pembelajaran

Dalam proses edukatif paling tidak mengandung ciri-ciri antara lain :

1. Ada tujuan yang ingin dicapai

2. Ada bahan/pesan yang menjadi isi interaksi

3. Ada pelajaran yang aktif mengalami

4. Ada guru yang melaksanakan

5. Ada metode untuk mencapai tujuan

6. Ada situasi yang memungkinkan proses belajar-mengajar berjalan dengan baik.

Adapun komponen-komponen tersebut meliputi :

1. Tujuan pendidikan dan pengajaran

2. Peserta didik atau siswa

3. Tenaga kependidikan khususnya guru,

4. Perencanaan pengajaran sebagai suatu segmen kurikulum

5. Strategi pembelajaran

6. Evaluasi pengajaran.

Faktor-faktor yang mendasari terjadinya interaksi edukatif adalah sebagai berikut.
Faktor tujuan
Faktor bahan/materi/isi
Faktor guru dan peserta didik
Faktor metode
Faktor situasi

8.Komponen-komponen Pembelajaran

Komponen-komponen tersebut antara lain adalah tujuan pengajaran yang ingin dicapai, materi pengajaran, metode pengajaran, media pengajaran, evaluasi, guru, siswa, administrasi pengajaran, sarana dan prasarana pengajaran (Sudaryo, 1990 : 5).

a) Tujuan Pembelajaran

Tujuan merupakan salah satu komponen pembelajaran yang dapat
mempengaruhi komponen pembelajaran lainnya seperti materi, metode, media, evaluasi, peserta didik, administrasi pengajaran, sarana dan prasarana. Semua komponen itu harus sesuai dan digunakan untuk mencapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin. Jika salah satu komponen tidak sesuai dengan tujuan, maka kegiatan belajar mengajar tidak akan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan, karena dengan tujuan menentukan ke arah mana kegiatan akan dibawa. Sebagai unsur penting untuk suatu kegiatan, maka dalam kegiatan apapun tujuan tidak bisa diabaikan.

b) Materi Pelajaran

Materi pelajaran merupakan komponen pembelajaran yang selama ini
dipahami oleh sebagian guru adalah buku paket mata pelajaran yang diwajibkan untuk dimiliki oleh peserta didik. Sumber belajar yang terbatas itu tentunya akan mempengaruhi pembelajaran tekstual terbatas pada buku paket yang dimiliki. Materi pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar (Djamarah dan Zain, 2006: 43). Tanpa materi pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Guru yang akan mengajar pasti memiliki dan harus menguasai materi pelajaran yang akan disampaikan pada peserta didik.
c) Metode Pembelajaran

Metode adalah suatu cara kerja yang sistematik dan umum, berfungsi sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan (Rohani, 2004 : 118). Semakin baik suatu metode makin efektif pula dalam pencapaiannya. Akan Tetapi tidak ada satupun metode yang paling baik bagi semua macam pencapaian tujuan, karena dipengaruhi oleh berbagai faktor dan yang paling
menentukan adalah tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan guru harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Adapun jenis metode-metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru adalah: Metode Ceramah, Metode Tanya jawab, Metode Demonstrasi, Metode Experiment,Metode Resitasi/ penugasan,Metode Drill/latihan, Metode Problem solving, Metode Inquiry, Metode Teknik Klarifikasi Nilai, Metode Role Playing, Metode Simulasi, Metode Karya wisata, Metode Kerja Kelompok, Metode Diskusi, dan Metode Proyek.
d) Media Pembelajaran

Media pendidikan menurut Santoso S Hamidjojo dalam Rumamouk
(1988 : 6) adalah media yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pengajaran, dimaksudkan untuk mempertinggi mutu kegiatan belajar mengajar. Hal tersebut biasanya sudah dituangkan dalam garis-garis besar tujuan pembelajaran.

Danim (1994 : 12-13) mengemukakan penggunaan media oleh guru dapat diperoleh beberapa manfaat yaitu :

1) Meningkatkan mutu pendidikan, di mana dapat mempercepat dan membantu guru menggunakan waktu belajar dengan lebih baik,

2) Pendidikan yang individual, dengan mengurangi kontrol guru yang tradisional dan kaku, memberi kesempatan luas kepada anak untuk berkembang menurut kemampuannya dan belajar sesuai cara yang dikehendakinya;

3) Pengajaran lebih ilmiah, dengan merencanakan program pengajaran yang logis, dan sistematis, serta mengembangkan kegiatan pengajaran melalui penelitian,

4) Data lebih konkret;

5) Membawa dunia nyata ke dalam kelas;

6) Penyajian pendidikan lebih luas.

e) Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi atau penilaian dalam pembelajaran mutlak harus dilakukan oleh
guru, seperti yang dikemukakan oleh Rohani (2004: 168) bahwa penilaian
merupakan bagian integral dari pembelajaran itu sendiri, yang tidak terpisahkan dalam penyusunan dan pelaksanaan pembelajaran. Penilaian bertujuan menilai efektivitas dan efisiensi kegiatan pembelajaran sebagai bahan untuk perbaikan dan penyempurnaan program serta pelaksanaannya.

BAB III
KESIMPULAN

Belajar adalah proses interaksi dan belajar berlangsung yang paling sederhana sampai pada yang kompleks.
Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplasit maupun implisit . selain kesimpulan diatas belajar adalah kualitas kemampuan kognitif, efektif dan spikomotorit untuk meningkatkan larat hidupnya sebagai pribadi, masyarakat.

Dalam proses pembelajaran antara pendidik dan peserta didik harus ada interaksi. Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik, untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berlangsung dalam lingkungan tertentu. Lingkungan ini diatur serta diawasi agar kegiatan belajar terarah sesuai dengan tujuan pendidikan. Pendidikan berfungsi membantu peserta didik dalam pengembangan dirinya, yaitu pengembangan semua potensi, kecakapan, serta karakteristik pribadinya ke arah yang positif, baik bagi dirinya maupun lingkungannya.


[baca selengkapnya..]

Pengalaman Perawat dalam Menerapkan Prinsip Enam Benar Dalam Memberikan Obat



ABSTRAK

Yustina Nanik Lestari


vii+52hal+1tabel+2gambar+5lampiran

    

Data tentang kesalahan obat di Indonesia belum dapat ditemukan karena tidak terekspos oleh media masa. Prinsip enam benar dalam memberikan obat sangat diperlukan dalam memberikan obat dengan tepat. Lima benar pada zaman dahulu sudah mulai ditinggalkan.



Perawat harus memberikan berbagai macam obat kepada pasien yang berbeda maka dalam memberikan obat perawat harus melakukan dengan aman. Dimana hal ini sebagai pertanggung jawaban perawat terhadap tindakan yang dilakukan.

Menurut penelitian, perawat tahu apabila prinsip enam benar tidak dilakukan akan memberikan dampak bagi pasien dan rumah sakit, diantaranya pasien sakit , rumah sakit rugi dan perawat dikeluarkan.. Namun terdapat beberapa kendala yang menyebabkan perawat tidak dapat melakukan ini. Penelitian menunjukkan benar obat dapat dilakukan dengan mengklarifikasi dan diberikan dengan teliti, benar waktu dilakukan dengan tepat waktu dan benar pasien dilakukan dengan memanggil dan memastikan.

Desain penelitian ini yaitu kualitatif dengan metode wawancara yang mendalam , supaya penelitian dapat mengamati secara langsung bagaimana respon, sikap dan perilaku responden saat wawancara berlangsung.

Dari pengalaman tidak dapat melakukan penerapan prinsip enam benar diantaranya beban yang overload yang bisa menimbulkan human error dan pembelaan diri, serta situasi lingkungan, dan pengaturan ketenagaan serta manejemen yang ada.
Kata kunci : pengalaman, prinsip enam benar, perawat

PENDAHULUAN
Obat merupakan salah satu bagian terpenting dalam proses penyembuhan penyakit, pemulihan kesehatan dan juga pencegahan terhadap suatu penyakit (1).

Penentuan obat untuk pasien adalah wewenang dari dokter, tetapi para perawat dituntut untuk turut bertanggung jawab dalam pengelolaan obat tersebut. Mulai dari memesan obat sesuai order dokter, menyimpan dan meracik obat sesuai order hingga memberikan obat kepada pasien(2). Memastikan bahwa obat tersebut aman bagi pasien dan mengawasi akan terjadinya efek samping dari pemberian obat tersebut pada pasien. Karena hal tersebut maka perawat dalam menjalankan perannya harus dibekali dengan ilmu keperawatan sesuai UU No. 23 th. 1992 pasal 32 ayat 3 (3)

Dalam pemberian obat yang aman perawat perlu memperhatikan lima tepat (five rights) yang kemudian dikenal dengan istilah lima benar oleh perawat. Istilah lima benar menurut Tambayong yaitu : pasien yang benar, obat yang benar, dosis yang benar, cara / rute pemberian yang benar dan waktu yang benar. Persiapan dan pemberian obat harus dilakukan dengan akurat oleh perawat. Perawat menggunakan lima benar pemberian obat untuk menjamin pemberian obat yang aman ( benar obat, benar dosis, benar klien, benar rute pemberian, dan benar waktu ) (4) .

Dewasa ini prinsip tersebut mulai ditinggalkan setelah munculnya prinsip 6 benar dalam pemberian obat yang dianggap lebih tepat untuk perawat. Joyce 1996 menyebutkan prinsip enam benar yaitu : 1) klien yang benar, 2) obat yang benar, 3) dosis yang benar, 4) waktu yang benar, 5) rute yang benar dan ditambah dengan 6) dokumentasi yang benar. Six Rights Of medication are : Right medication, Right dose, Right time, Right role , Right client and Right documentation (5).

Hal ini diperlukan pleh perawat sebagai pertanggunggugatan secara legal tindakan yang dilakukannya. Mengingat di ruang rawat inap seorang perawat harus memberikan berbagai macam obat kepada beberapa pasien yang berbeda.

Berdasarkan penelitian dari Auburn University di 36 rumah sakit dan nursing home di Colorado dan Georgia, USA pada tahun 2002 dari 3216 jenis pemberian obat 43 % diberikan pada waktu yang salah , 30 % tidak diberikan, 17 % diberikandengan dosis yang salah , dan 4 % diberikan obat yang salah (6) . Pada penelitian ini juga dikemukakan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Institute of medicine error pada tahun 1999 yaitu kesalahan medis telah menyebabkan lebih dari satu juta cedera dan 98. 000 kematian dalam setahun. Data yang didapat JCHO juga menunjukkan bahwa 44.000 dari 98.000 kematian yang terjadi di rumah sakit setiap tahun disebabkan oleh kesalahan medis (6) .

Dari hasil observasi dan wawancara sederhana yang peneliti lakukan dari bulan Januari sampai Agustus tahun 2009 di rumah sakit Mardi Rahayu Kudus didapatkan data sebagai berikut 30 % obat yang diberikan tidak didokumentasikan, 15 % obat diberikan dengan cara yang tidak tepat, 23 % obat diberikan dengan waktu yang tidak tepat, 2 % obat tidak diberikan , 12 % 0bat diberikan dengan dosis yang tidak tepat.

Dari hal tersebut diatas peneliti ingin mengetahui bagaimana pengalaman perawat dalam menerapkan prinsip enam benar di ruang rawat inap

Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui bagaimana pengalaman perawat dalam menerapkan prinsip enam benar dalam memberikan obat di ruang rawat inap rumah sakit Mardi Rahayu Kudus
    Tindakan – tindakan dalam komponen prinsip enam tepat :
1.    Tepat obat
a.    Menegecek program terapi pengobatan dari dokter
b.    Menanyakan ada tidaknya alergi obat
c.    Menanyakan keluhan pasien sebelum dan setelah memberikan obat
d.    Mengecek label obat 3 kali ( saat melihat kemasan, sebelum menuangkan, dan setelah menuangkan obat) sebelum memberikan obat
e.    Mengetahui interaksi obat
f.     Mengetahui efek samping obat
g.    Hanya memberikan obat yang disiapkan sendiri
2.    Tepat dosis
a.    Mengecek program terapi pengobatan dari dokter
b.    Mengecek hasil hitungan dosis dengan perawat lain (double check)
c.    Mencampur / mengoplos obat sesuai petunjuk panda label / kemasan obat
3.    Tepat waktu
a.    Mengecek program terapi pengobatan dari dokter
b.    Mengecek tanggal kadaluarsa obat
c.    Memberikan obat dalam rentang 30 menit sebelum sampai 30 menit setelah waktu yang diprogramkan
4.    Tepat pasien
a.    Mengecek program terapi pengobatan dari dokter
b.    Memanggil nama pasien yang akan diberikan obat
c.    Mengecek identitas pasien pada papan / kardeks di tempat tidur pasien yang akan diberikan obat
5.    Tepat cara pemberian
a.    Mengecek program terapi pengobatan dari dokter
b.     Mengecek cara pemberian pada label / kemasan obat
c.    Pemberian per oral : mengecek kemampuan menelan, menunggui pasien sampai meminum obatnya
d.    Pemberian melalui intramuskular : tidak memberikan obat  > 5 cc pada satu lokasi suntikan
6.    Tepat dokumentasi
a.    Mengecek program terapi pengobatan dari dokter
b.    Mencatat  nama pasien , nama obat, dosis, cara dan waktu pemberian obat
c.    Mencantumkan nama/ inisial dan paraf
d.    Mencatat keluhan pasien
e.    Mencatat penolakan pasien
f.     Mencatat jumlah cairan yang digunakan untuk melarutkan obat ( pada pasien yang memerlukan pembatasan cairan)
g.    Mencatat segera setelah memberikan obat

Universal precaution
1.    Mencuci tangan sebelum dan sesudah memberikan obat
2.    Menggunakan sarung tangan ketika memberikan obat secara parenteral
3.        Membuang jarum suntik bekas pada tempat khusus dalam keadaan terbuka (14)
Adapun peran perawat dalam pengobatan yaitu :
1.     Melaksanakan pemberian obat kepada pasien sesuai program terapi dengan menerapkan prinsip 6 benar ( klien, obat, dosis, cara, waktu dan dokumentasi )
2.     Mengelola penempatan, penyimpanan dan pemeliharaan dan administrasi obat di ruangan agar selalu tersedia, siap pakai, tidak rusak, mudah ditemukan dan tidak kadaluarsa.
3.     Memberikan penyuluhan berkaitan dengan obat yang digunakan meliputi khasiat obat, makanan yang boleh selama terapi, ESO  dan cara mengatasi kepatuhan obat, dampak ketidakpatuhan dan penghentian obat
4.     Mengamati dan mencatat efek samping, efek terapi, efek toksis dari pengalaman klinis beberapa pasien selama menggunakan obat untuk bahan masukan dan laporan
         Beberapa peran perawat dalam memberikan obat yaitu peran dalam mendukung keefektifan obat, mengobservasi efek samping obat, menyiapkan menyimpan dan administrasi obat, melakukan pendidikan kesehatan tentang obat (16).

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perawat rumah sakir mardi rahayu kudus yang sudah bekerja selama 3 tahun . Penelitian ini dilakukan muali tanggal 1 sampai 30 november. Cara pengolahan data dengan mengunakancomprehending, sinthezing, theorizing dan actualizing.

HASIL PENELITIAN

Menurut penelitian yang telah kami lakukan berdasarkan pengalaman mereka dalam memberikan obat    prinsip enam benar dapat dilakukan berbagai cara. Benar obat dapat dilakukan dengan mengkalrifikasi obat dan diberikan dengan teliti.  Hal ini berbeda dengan yang ada di teori  dimana benar obat dilakukan  dengan cara mengecek program terapi pengobatan dari dokter, menanyakan ada tidaknya alergi obat, menanyakan keluhan pasien sebelum dan sesudah memberikan obat, mengecek label obat 3 kali, mengetahui interaksi obat, mengetahui efek samping obat dan memberikan obat yang diresepkan sendiri 14.
Sumber lain juga menyebutkan bahwa dalam memberikan obat , benar obat klien menerima obat yang telah diresepkan. Dalam wawancara yang peneliti lakukan hal tersebut belum ditemukan. 9
Benar pasien  dapat dilakukan dengan cara mengecek program terapi pengobatan dari dokter, memanggil nama pasien yang akan diberikan obat, mengecek odentitas pasien pada papan / tempat tidur pasien14.  Hal ini sudah ada yang sesuai dengan yang peneliti temukan bahwa dalam memberikan obat berkaitan dengan benar pasien dilakukan dengan memanggil pasien dan memastikan identitas pasien. Sumber lain juga mengatakan hal yang sama bahwa klien yang benar dapat dipastikan dengan memeriksa identitas klien  dan meminta klien menyebutkan namanya sendiri. Beberapa klien akan berespon menjawab dan apabila tidak berespon dapat dilahat pada gelang identifikasi22.
Benar waktu dapat dilakukan dengan mengecek program terapi pengobatan dari dokter, mengecek tanggal kadaluarsa obat, memberikan obat dalam rentang 30 menit sebelum dan sesudah memberikan obat14. Hal ini berbeda dengan yang peneliti temukan bahwa benar waktu menurut mereka diberikan dengan tepat waktu. Tetapi ada sumber lain yang mengatakan bahwa  waktu yang benar adalah dimana obat yang diresepkan harus diberikan dalam waktu tertentu sehingga kadar plasma obat dapat dipertahankan.22.  Hal ini  menurut peneliti sama dengan yang ditemukan peneliti. Namun ada sumber lain yang mengatakan bahwa  jika sebuah prosedur dapat menganggu tidur klien sebaiknya pemberian obat ditunda sampai waktu dimana klien dapat memperoleh manfaat optimal obat12.  Hal ini tentunya sangat berbeda dengan yang peneliti temukan bahwa mundurnya obat bukan karena sebab itu tetapi yang lain.
Namun didalam melaksanakan enam benar banyak sekali kendala – kendala  yang dihadapi perawat. Diantaranya beban kerja yang overload akan menimbulkan human error dan terjadi pembelaan diri. Hal tersebut disebabkan karena perawat  apabila beban kerjanya tinggi akan melakukan pekerjaan dengan tergesa – gesa dan ini mengakibatkan tingkat ketelitian mereka menjadi berkurang. Hal ini jug sesuai dengan  sumber yang peneliti baca bahwa perawat tidak dapat melakukan hal tersebut karena pekerjaan banyak dan mobilitas yang tinggi22.  Menurut sumber lain mengatakan bahwa kesalah pengobatan bukan hanya ditimbulkan oleh perawat  tetapi setiap invidu yang terlibat dapat melakukan kesalahan. Tetapi hal ini       dikarenakan individu tersebut tidak mengikuti prosedur yang telah ada
Kondisi, ketenagaan, dan manejemen dapat menjadikan kendala bagi perawat dalam  menerapkan prinsip enam benar , ini juga  ditemukan peneliti. Hal ini juga sesuai yang peneliti baca bahwa mobilitas yang tinggi bisa membuat perawat tidakmenerapkan prinsip enam benar 22.Hal ini juga sesuai yang peneliti baca pada jurnal bahwa faktor eksternal  yang dapat mempengaruhi perawat dalam melakukan prinsip enam benar seperti supervisi. Menurut buku yang saya baca supervisi yang dilakukan hanya 21, 9 %4.
Menurut peneliti yang temukan ada dampak apbila prinsip enam benar tidak diterapkan baik bagi perawat, pasien maupun rumah sakit. Hal ini tentunya tidak sesuai dengan peran perawat yang dalam memberikan obat tentunya  harus mendukung keefektifan obat16.  Disini perawatlah yang seharusnya mempunyai tanggung jawab penting dalam memberikan obat.  Apabila perawat melakukan kesalahan obat penulisan yang dilakukan bukan merupakan suatu hukuman atau pengakuan , ini merupakan analisis objektif  apa yang terjadi dan bagaimana penetalaksanaan suatu resiko yang dilakukan1.  Hal ini berbeda dengan yang  peneliti temukan bahwa sangsi bagi perawat yaitu ditegur sampai dikeluarkan.
Strategi untuk melakukan prinsip enam benar dapat dilakukan dengan pendidikan perawat berkelanjutan, peningkatan pengawasan dan supervisi dari kepala ruang, ketua tim melengkapi fasilitas yang penting untuk pemberian obat6. Hal ini sesuai dengan yang peneliti temukan yaitu perbaikan dari manejemen, pelatihan dan peningkatan kapabilitas SDM. Hanya peneliti belum menemukan SOP penanganan kesalahan pemberian obatuntuk diterapkan6. Dalam sumber lain juga mengatakan bahwa  dalam memberikan obat harus benar – benar teliti dan hati – hati2

KESIMPULAN
1.   Pengalaman perawat dalam memberikan obat dapat dilakukan dengan benar obat yaitu melakukan klarifikasi dan diberikan dengan teliti. Benar pasien dilakukan dengan memanggil nama pasien dan memastikan identitas pasien. Benar waktu diberikan dengan waktu yang tepat
2.   Adapun kendala yang dihadapi perawat dalam menerapkan prinsip enam benar diantaranya beban kerja yang tinggi yang menimbulkan human error dan mamungkinkan terjadi pembelaan diri. Manejemen, pengaturan ketenagaan dan  lingkungan ikut mempengaruhi terjadi perawa tidak dapat melaksanakan prinsip enam benar
3.   Adapun strategi kita dalam menerapkan prinsip enam benar dapat dilakukan dengan pelatihan untuk menyegarkan kembali didukung dengan peningkatan kapasitas SDM kita. Manejemen tentunya ikut andil dalam membuat terciptanya pemberian obat denga prinsip enam benar disukung dengan pengaturan ketenagaan yang cukup.

                                                                          
 SARAN
1. Perawat
Perlu adanya penyegaran kembali bagi perawat untuk memberikan pengertian pentingnya melaksanakan prinsip enam benar agar dalam memberikan obat dapat tercapai efek terapeutik yang maksimal dan tidak menimbulkan kerugian di pihak manapun
Perlu adanya ketelitian bagi perawat dalam memberikan obat sehingga meskipun tergesa – gesa atau repot tidak terjadi kesalahan dalam memberikan obat
2. Rumah sakit
Perlu adanya manejemen yang baik dan pengaturan ketenagaan yang cukup agar perawat dalam bekerja tidak terlalu overload yang akan  menimbulkn human error
Perlu adanya SOP untuk menangani kesalalahan dalam pemberian obat sebagi rencana tindak lanjut



DAFTAR PUSTAKA

1.      Potter-Perry.Fundamental of Nursing. 6 Th edition.Elsever Mosby . USA.2005
2.      Pemberian obat oleh perawat  diambil tanggal 8 juli 2009 dari http : // nersdora. Multiply com./ jurnal / item 14
3.      Peran perawat dalam pemberian obat diambil dari http : // fikunpad. Unpad . ac .id
4.       Prinsip enam benar dalam pemberian obat, Jurnal keperawatan Indonesia volume 9 no 1 Maret 2005
5.      Abram AC 1995  Clinical Drug Therapy. Ationales for nursing practise JB Lapinscott diambil dari jurnal keperawatan indonesia volume 9 no 1 tahun 2005
6.      Kinnenger T & Reeder L  E stabilishing for tehnology to reduce medication error is both a science and an art. Diambil dari http : // www. Brigmedical . com / media 2003
7.      Pengaruh Pengalaman terhadap peningkatan keahlian auditor oleh Dwi Ananing T  Fakultas  Ekonomi UI Yogyakarta 2006
8.      Knoers dan Haditono Psikologi perkembangan . Pengantar dalam berbagai bagiannya , Cetakan ke – 12 Universitas Gajah Mada Yogyakarta
9.      Ali Zaidin Dasar – dasar Keperawatan Profesional Jakarta, Widya Medika 2001
10.  Kuntarti 2005 Tingkat Penerapan Prinsip Enam Tepat dalam pemberian obat oleh Perawat  2005 FKUI
11.  Gaffar junaidi L.O.Pengantar Keperawatan Profesional.Jakarta.EGC.1999
12.  Pemberian Obat Oleh Perawat diambil dari http : // aquos  blog spot. Gombong 2003 diambil tanggal 10 Agustus 2009
13.  Murwani Anita , Skep . Pengantar Konsep Dasar Keperawatan . Yogyakarta . Fitramaya . 2003
14.   Ary Sutedjo Mengenal obat –  obatan secara mudah dan Aplikasinya dalam Perawatan  2008
15.  Danim sudarwan,DR . Riset Keperawatan Sejarah dan Metodologi . Jakarta . EGC . 2003
16.  Notoatmojo, Prof ,Dr . Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan . Jakarta. PT Rineka Cipta. 2003
17.  Moeloeng.L.J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. PT Remaja Rodakarya .  2001.
18.  Amir D.S.F . Bunga Rampai Hukum Kesehatan . Widya Medika .  Jakarta. 1999.
19.  Sugiyono , Prof. Dr . Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Dan R & D . cetakan ke 7 . CV Alfabeta . Bandung Pendekatan Proses Metodologi Penelitian Keperawatan. 2009
20.  Danim Sudarwan,DR . Menjadi Peneliti Kualitatif . Cetakan 1 . CV Pustaka Setia . Bandung . 2002
21.  Aziz Alimul H, Skep . Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Salemba medika. Jakarta. 2003
22.  Poerwandari E Kristi Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi Jakarta  Universitas  Indonesia 1998
23.  Nursalam, Pendekatan Proses Metodologi Penelitian Keperawatan Jakarta SV Sagung Seto 2001

[baca selengkapnya..]